SEMENTARA itu, tertangkapnya Rizal Muzaki, 27, oleh anggota Densus 88 anti teror di Poso pada Minggu (11/2), membuat keluarganya di Dusun Rejosari, Desa Benculuk, Kecamatan Cluring kaget. Mereka tidak menyangka Rizal terlibat dalam jaringan teroris.
Rizal selama ini hanya tinggal sendiri di rumahnya di Dusun Rejosari, Desa Benculuk, Kecamatan Cluring. Kedua orang tuanya, Maksum, dan Siti Muzayanah bercerai saat Rizal masih kecil. Selama itu, Rizal tinggal bersama neneknya, Siti Maryam, 83, yang tinggal di Dusun Sukosari, Desa Sraten, Kecamatan Cluring, atau berjarak sekitar 500 meter dari rumah Rizal.
Ayah Rizal, Maksum pulang ke rumah orang tuanya di Desa/Kecamatan Purwoharjo, usai bercerai. Sedang Siti Muzayanah menjadi TKI di Singapura. Kabar terakhir, ibunya itu meninggal di negara tempatnya bekerja itu. “Saya tahu Rizal ditangkap saat polisi datang, saya ya kaget, wong Rizal itu penurut dan tidak macam-macam,” cetus Siti Maryam.
Siti mengaku tidak percaya kalau cucunya ikut jaringan teroris. Karena selama ini, cucunya itu ikut dengannya. Bahkan, sampai saat ini kartu kependudukan (KK) masih jadi satu. “Agar mudah mengurus kependudukan, KK masih jadi satu,” katanya.
Siti mengaku terakhir bertemu dengan cucu kesayangannya itu sekitar lima bulan lalu. Saat itu, dia pulang dan terus menghilang. “Orang tuanya cerai sejak Rizal masih kecil, kurang kasih sayang, saya yang mendidik, anaknya memang sering melawan,” ungkapnya.
Salah satu kerabat Rizal, Mastur, mengisahkan saat kedua orang tuanya bercerai Rizal ikut dengan ibunya. Karena terbelit ekonomi, ibu Rizal bekerja menjadi TKI di Singapura.
Sejak ditinggal ibunya, Rizal yang saat itu sekolah di MTsN Srono (kini MTsN 3 Banyuwangi, berubah menjadi anak yang nakal. Bahkan, tidak lulus ujian. “Sekolah di MTsN Srono tidak lulus,” terangnya.
Karena tidak lulus itu, lanjut dia, Rizal dimasukkan ke Pondok Pesantren Widathul Tholab yang ada di kampungnya. Tapi, di pesantren itu hanya bertahan tiga bulan. “Keluar dari pesantren dan sempat langsung menghilang,” terang Mastur yang juga Ketua RT 4 di Dusun Sukosari, Desa Sraten, Kecamatan Cluring.
Saat menghilang itu, Rizal ternyata bergabung dengan anak punk di jalanan. Ketika pulang, tubuhnya kotor dan jarang mandi. Ditegur agar mandi, keponakannya itu malah marah dan tidak mau lagi kumpul dengan keluarganya. “Saya hanya menegur agar mandi biar tidak bau, karena sudah lama tidak mandi, penampilannya seperti anak berandalan,” cetusnya.
Perubahan Rizal itu terjadi saat pulang pada Ramadan dan Lebaran tahun 2017. Rizal yang sempat pulang berubah menjadi alim dan selalu memakai songkok. Setiap hari, tidak pernah absen salat di musala yang ada di depan rumahnya. Tapi anehnya, dia seperti takut dengan perempuan. “Sama perempuan takut, tidak mau salaman atau berdekatan, saya sempat curiga juga,” terangnya.
Mastur mengaku terakhir melihat Rizal di rumahnya itu sekitar lima bulan lalu. Rizal pergi lagi setelah neneknya panen jagung. “Uang hasil panen jagung milik neneknya dibawa pergi, dan tidak terlihat sampai sekarang,” cetusnya.
Dengan tertangkapnya Rizal karena diduga terlibat dalam jaringan teroris, keluarga mengaku ikhlas dan menyerahkan semua proses hukum ke pihak yang berwajib. Akan tetapi, dia berharap polisi juga bisa menangkap yang mempengaruhi keponakannya itu. “Kami berharap seperti itu agar tidak ada lagi yang seperti Rizal di kemudian hari,” pungkasnya. (*)
Editor : Rahman Bayu Saksono