Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tommy Soeharto Napak Tilas ke Rumah Singgah Ayahnya

Rahman Bayu Saksono • Kamis, 1 Februari 2018 | 00:15 WIB
tommy-soeharto-napak-tilas-ke-rumah-singgah-ayahnya
tommy-soeharto-napak-tilas-ke-rumah-singgah-ayahnya



MUNCAR – Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto melakukan napak tilas ke rumah singgah yang pernah dikunjungi ayahnya, Presiden Soeharto pada tahun 1972 silam. Lokasi rumah singgah itu di belakang Balai Desa Tapanrejo, Kecamatan Muncar.



Sekitar pukul 10.00 kemarin (30/1), Tommy Soeharto di­dampingi inisiator Yayasan Kam­pung Pancasila (YKP) Dody Iwa Kusuma dan jajarannya tiba di Balai Desa Tapanrejo. Kedata­ngan Tommy disambut ratusan siswa SD dan warga yang berjajar di tepi jalan raya menuju Balai Desa Tapanrejo. Hadir juga jajaran Forum Pimpinan Keca­matan Mun­car dan Kepala Desa Tapan­rejo Suryatmojo beserta jajarannya.



Begitu sampai di lokasi, Tommy langsung melakukan dialog dengan puluhan warga di ruang belakang balai desa, tepatnya di depan kamar sederhana yang dulu menjadi tempat tidur Presiden RI ke-2 HM Soeharto.



Acara dialog secara sederhana dan santai tersebut, sekaligus menjadi ajang nostalgia untuk mengenang kisah Soeharto, selama tinggal dua hari dua ma­lam di rumah singgah. Sebab pada kesempatan tersebut, juga dihadirkan mantan Kepala Satuan Hansip Tapanrejo Djakfar Soeharto, 82, dan seorang anggo­tanya Dasimin, 80, yang saat kedatangan Soeharto ikut berjaga di Balai Desa Tapanrejo. Serta Agus, 50, putra dari mantan Ke­pala Desa Tapanrejo Suminto pada tahun 1972 silam.



Ketiganya satu per satu mence­ritakan bagaimana situasi ketika Presiden Soeharto datang dan me­nginap dua malam dua hari di Balai Desa Tapanrejo. ”Sebe­narnya beliau tidak ada agenda mau datang ke sini. Tapi nggak tahu kok tiba-tiba beliau me­mutuskan datang ke sini dan menginap. Mungkin karena di sini banyak orang dari Jogja,” tutur Djakfar.



Yang jelas, kata Djakfar, keda­tangan Soeharto ke Tapanrejo karena membawa misi untuk menjaga situasi di desa tersebut dan Banyuwangi umumnya, agar tetap kondusif. ”Selama be­rada di sini, beliau tidurnya ya di kamar yang sangat seder­hana itu,” kata Djakfar, sambil menunjuk ke arah kamar yang sangat sederhana.



Selama tiga orang tersebut bercerita tentang maksud dan tujuan Soeharto datang ke Ta­panrejo, Tommy tampak serius mendengarkan sambil sesekali ter­senyum dan manggut-mang­gut. Pada kesempatan tersebut, Tommy juga menyampaikan banyak terima kasih kepada ma­syarakat Tapanrejo, khususnya Djak­far Soeharto, Dasimin, dan Agus.



Sebab dengan mendengarkan cerita ketiga orang tersebut, dirinya merasa mendapat banyak informasi tentang kehidupan ayahnya selama di Banyuwangi. ”Napak tilas yang saya lakukan terasa lebih berarti dan saya mendapatkan banyak informasi dari para sesepuh,” tuturnya.



Tommy menuturkan, selain ingin melakukan napak tilas per­jalanan ayahnya, kedata­ngan­nya ke Banyuwangi, juga ingin mendengar dan mengetahui secara langsung kondisi masya­rakat saat ini. Pihaknya juga ingin ikut andil bagian membe­rikan kon­tribusi nyata dalam member­dayakan ekonomi ma­syarakat. ”Nanti melalui YKP dan Pak Dodik, program ekonomi kerakyatan tersebut akan dila­kukan di Banyuwangi,” kata Pembina Yayasan Kampung Pan­casila ini.



Usai melakukan dialog, Tommy Soeharto kemudian menyem­patkan diri masuk ke dalam ka­mar sederhana yang dulu ditempati Presiden Soeharto. Ketika berada di dalam kamar beru­kuran sekitar empat meter persegi tersebut, Tommy juga me­nyempatkan diri berfoto di atas tempat tidur yang terbuat dari kayu dan bambu itu. (*)


Editor : Rahman Bayu Saksono