MUNCAR – Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto melakukan napak tilas ke rumah singgah yang pernah dikunjungi ayahnya, Presiden Soeharto pada tahun 1972 silam. Lokasi rumah singgah itu di belakang Balai Desa Tapanrejo, Kecamatan Muncar.
Sekitar pukul 10.00 kemarin (30/1), Tommy Soeharto didampingi inisiator Yayasan Kampung Pancasila (YKP) Dody Iwa Kusuma dan jajarannya tiba di Balai Desa Tapanrejo. Kedatangan Tommy disambut ratusan siswa SD dan warga yang berjajar di tepi jalan raya menuju Balai Desa Tapanrejo. Hadir juga jajaran Forum Pimpinan Kecamatan Muncar dan Kepala Desa Tapanrejo Suryatmojo beserta jajarannya.
Begitu sampai di lokasi, Tommy langsung melakukan dialog dengan puluhan warga di ruang belakang balai desa, tepatnya di depan kamar sederhana yang dulu menjadi tempat tidur Presiden RI ke-2 HM Soeharto.
Acara dialog secara sederhana dan santai tersebut, sekaligus menjadi ajang nostalgia untuk mengenang kisah Soeharto, selama tinggal dua hari dua malam di rumah singgah. Sebab pada kesempatan tersebut, juga dihadirkan mantan Kepala Satuan Hansip Tapanrejo Djakfar Soeharto, 82, dan seorang anggotanya Dasimin, 80, yang saat kedatangan Soeharto ikut berjaga di Balai Desa Tapanrejo. Serta Agus, 50, putra dari mantan Kepala Desa Tapanrejo Suminto pada tahun 1972 silam.
Ketiganya satu per satu menceritakan bagaimana situasi ketika Presiden Soeharto datang dan menginap dua malam dua hari di Balai Desa Tapanrejo. ”Sebenarnya beliau tidak ada agenda mau datang ke sini. Tapi nggak tahu kok tiba-tiba beliau memutuskan datang ke sini dan menginap. Mungkin karena di sini banyak orang dari Jogja,” tutur Djakfar.
Yang jelas, kata Djakfar, kedatangan Soeharto ke Tapanrejo karena membawa misi untuk menjaga situasi di desa tersebut dan Banyuwangi umumnya, agar tetap kondusif. ”Selama berada di sini, beliau tidurnya ya di kamar yang sangat sederhana itu,” kata Djakfar, sambil menunjuk ke arah kamar yang sangat sederhana.
Selama tiga orang tersebut bercerita tentang maksud dan tujuan Soeharto datang ke Tapanrejo, Tommy tampak serius mendengarkan sambil sesekali tersenyum dan manggut-manggut. Pada kesempatan tersebut, Tommy juga menyampaikan banyak terima kasih kepada masyarakat Tapanrejo, khususnya Djakfar Soeharto, Dasimin, dan Agus.
Sebab dengan mendengarkan cerita ketiga orang tersebut, dirinya merasa mendapat banyak informasi tentang kehidupan ayahnya selama di Banyuwangi. ”Napak tilas yang saya lakukan terasa lebih berarti dan saya mendapatkan banyak informasi dari para sesepuh,” tuturnya.
Tommy menuturkan, selain ingin melakukan napak tilas perjalanan ayahnya, kedatangannya ke Banyuwangi, juga ingin mendengar dan mengetahui secara langsung kondisi masyarakat saat ini. Pihaknya juga ingin ikut andil bagian memberikan kontribusi nyata dalam memberdayakan ekonomi masyarakat. ”Nanti melalui YKP dan Pak Dodik, program ekonomi kerakyatan tersebut akan dilakukan di Banyuwangi,” kata Pembina Yayasan Kampung Pancasila ini.
Usai melakukan dialog, Tommy Soeharto kemudian menyempatkan diri masuk ke dalam kamar sederhana yang dulu ditempati Presiden Soeharto. Ketika berada di dalam kamar berukuran sekitar empat meter persegi tersebut, Tommy juga menyempatkan diri berfoto di atas tempat tidur yang terbuat dari kayu dan bambu itu. (*)
Editor : Rahman Bayu Saksono