SINGOJURUH - Para petani yang sedang menanam buah ranti, terancam merugi. Sebab, gara-gara cuaca yang tidak bersahabat dengan sering turun hujan yang cukup deras, kini tanamannya banyak diserang jamur trip dan cacar.
Akibat serangan hama itu, tanaman ranti kerdil dan buahnya juga tidak bisa besar. Akibatnya, hasil panen juga merosot. “Sering turun hujan, tanaman diserang jamur trip,” terang Mahrus, 34, salah seorang petani asal Dusun Krajan Lor, Desa Lemahbang Kulon, Kecamatan Singojuruh.
Mahrus mengaku menanam buah ranti ini di sawah seluas setengah hektare.Ranti yang ditanam itu jenis rewako dan lokal. Saat musim hujan seperti ini, ranti jenis rewako lebih bertahan. “Ranti lokal banyak diserang jamur trip dan cacar,” ungkapnya.
Dalam sekali panen, Mahrus mengaku saat musim hujan ini hanya bisa menjual hingga 2,5 kuintal ranti. Padahal, saat cuaca normal dalam sekali petik bisa panen hingga enam kuintal ranti. “Ukuran buah rantinya banyak yang kerdil, jadi bobotnya susut,” jelasnya.
Menurut Mahrus, saat ini harga ranti terbilang lumayan. Di tingkat petani, harga ranti itu mencapai Rp 9.000 per kilogram. Harga itu telah naik dari dua minggu sebelumnya hanya Rp 7,500 per kilogram. “Harga mahal, tapi petani tidak bisa menikmati hasilnya,” cetusnya.
Hal senada diungkapkan Afandi, 52, petani asal Desa/ Kecamatan Songgon, itu mengatakan dalam dua pekan terakhir harga buah ranti mulai merangkak naik, itu karena permintaan pasar yang semakin tinggi. Hanya saja, di tingkat petani banyak tanaman ranti yang buahnya kerdil akibat tidak tahan pada perubahan cuaca. “Coba ukuran buah ranti normal, petani masih untung,” katanya.
Bercocok tanam hortikultura, terang dia, saat ini lebih menjanjikan. Selain hasilnya bisa dinikmati atau dipanen dengan waktu yang cepat, tanaman hortikultura memiliki jangka waktu panen lebih lama dan berkelanjutan. “Belum untung sekarang, panen yang akan datang mungkin bisa dapat untung,” pungkasnya. (*)
Editor : Rahman Bayu Saksono