GENTENG - Tidak seperti olahraga bulu tangkis yang sangat populer di kalangan semua usia, peminat olahraga tenis lapangan, ternyata masih kurang diminati, terutama di kalangan anak-anak.
Hal ini diakui pelatih tenis, Tomi Rukminto, 36, asal Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng. Dia mengungkapkan peminat tenis memang tidak sebanyak peminat olahraga lain, seperti bulu tangkis. Apalagi, tenis ini tidak bisa dimainkan di sembarang tempat. “Memang harus ada lapangannya,” jelasnya.
Selain itu, terang dia, perlengkapan seperti raket bisa dibilang agak mahal. Apalagi, raket untuk tenis ini antara orang dewasa dan anak-anak harus berbeda. “Harga raket memang sedikit mahal,” ungkapnya.
Di samping soal biaya, terang dia, waktu yang diperlukan untuk berlatih tenis secara benar memang agak lama. Untuk tahap pemula, setidaknya dibutuhkan waktu paling cepat enam bulan agar bisa memahami dan memainkan tenis dengan baik dan benar. “Paling cepat enam bulan baru bisa main,” jelasnya.
Untuk itu dalam merekrut bibit atlit junior, dia tidak terlalu agresif. Tomi mengungkapkan, cara yang dia pakai untuk menjaring atlit junior dengan mengandalkan pertemanan pada sejumlah guru yang memiliki hobi tenis. Dia beranggapan, jika ada salah satu siswa yang tertarik, itu akan dibicarakan dan disampaikan kepadanya. “Saya banyak kenal guru, kalau muridnya minat pasti cerita,” jelasnya.
Sementara itu, Jainul, 31, warga Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng, yang sedang mengantar anaknya berlatih tenis menuturkan sengaja mengarahkan anaknya untuk menekuni olahraga tenis karena dianggap memiliki bakat. “Anak saya punya minat,” cetusnya.
Jainul menyebut peluang untuk bisa lebih berprestasi dalam dunia tenis, itu masih terbuka lebar. Apalagi, saat ini belum banyak anak-anak yang serius menekuni olahraga ini. “Saya ingin anak-anak bisa juara,” ucapnya.(sli/abi)
Editor : AF Ichsan Rasyid