Roblox Pangkas Pendapatan Kreator Pakaian 2D, Kebijakan Baru Picu Gelombang Protes

Nabella Anastasya Pratiwi • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 14:26 WIB
Roblox resmi menyatukan aturan Marketplace avatar 2D dan 3D mulai 14 Juli 2026. (Google Play)
Roblox resmi menyatukan aturan Marketplace avatar 2D dan 3D mulai 14 Juli 2026. (Google Play)

RADAR BANYUWANGI - Roblox resmi memberlakukan kebijakan unifikasi aturan unggah dan skema pendapatan untuk seluruh item avatar 2D maupun 3D di Marketplace mulai 14 Juli 2026. Kebijakan tersebut mengubah sistem pembagian pendapatan bagi kreator pakaian 2D atau classic clothing, dari sebelumnya menerima 70 persen hasil penjualan menjadi rata-rata sekitar 30 persen per transaksi.

Perubahan itu langsung memicu respons negatif dari komunitas kreator. Gelombang protes bermunculan di berbagai platform daring karena banyak perancang busana digital menilai kebijakan baru tersebut akan memangkas penghasilan mereka secara signifikan.

Melalui unggahan resmi di forum pengembang pada 7 Juli 2026, pemimpin produk Marketplace Roblox, Fabio, menjelaskan bahwa unifikasi aturan dilakukan untuk menciptakan fondasi Marketplace yang lebih konsisten, aman, dan setara bagi seluruh kreator aset avatar.

Menurut Roblox, perubahan tersebut juga menjadi langkah untuk mengatasi penyalahgunaan sistem oleh pihak-pihak yang memanfaatkan biaya unggah murah guna membanjiri Marketplace dengan item spam maupun hasil penjiplakan. Dengan aturan yang seragam, perusahaan berharap kualitas ekosistem Marketplace dapat lebih terjaga.

Namun, alasan tersebut belum mampu meredam penolakan dari komunitas. Sejumlah petisi bermunculan di platform Change.org, termasuk petisi bertajuk Protect Roblox Clothing Creators' Revenue Share yang berhasil mengumpulkan ribuan tanda tangan.

Melalui petisi tersebut, para kreator mendesak Roblox mempertahankan pembagian pendapatan sebesar 70 persen atau setidaknya membatasi pengurangannya hingga maksimal 10 persen. Mereka juga meminta perusahaan memberikan masa pemberitahuan yang lebih panjang sebelum kebijakan baru diterapkan.

Banyak kreator menilai pemangkasan pendapatan tersebut tidak sebanding dengan waktu, tenaga, dan kreativitas yang dibutuhkan untuk menghasilkan desain pakaian digital. Mereka khawatir perubahan itu akan semakin menyulitkan kreator kecil untuk berkembang di platform Roblox.

Penolakan juga datang dari komunitas Roleplay yang selama ini mengandalkan pakaian 2D karena harganya lebih terjangkau. Pakaian jenis ini kerap digunakan sebagai seragam dalam jumlah besar sehingga menjadi pilihan utama bagi berbagai komunitas permainan peran.

Menanggapi gelombang kritik tersebut, Roblox melakukan revisi terhadap sebagian kebijakan pada 13 Juli 2026. Perusahaan menurunkan biaya unggah item avatar 2D dan 3D dari rencana awal 200 Robux menjadi 80 Robux.

Selain itu, Roblox membatalkan rencana kenaikan biaya muka penerbitan item 2D yang semula akan meningkat menjadi 600 Robux. Biaya tersebut akhirnya tetap dipertahankan sebesar 10 Robux seperti sebelumnya.

Meski demikian, perusahaan tidak mengubah kebijakan utama terkait pembagian pendapatan kreator pakaian 2D. Skema baru yang memangkas porsi pendapatan dari 70 persen menjadi rata-rata 30 persen tetap diberlakukan.

Sebagian kreator menilai revisi biaya unggah memang meringankan beban awal saat menerbitkan item. Namun, mereka menegaskan bahwa pemangkasan pendapatan tetap menjadi persoalan utama karena berdampak langsung terhadap keberlanjutan usaha para kreator.

Editor : Lugas Rumpakaadi
roblox