RADARBANYUWANGI.ID - Praktik permainan daring yang menyisipkan mekanisme taruhan semakin marak dan memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Berbagai game yang awalnya dirancang sebagai sarana hiburan kini mulai menghadirkan sistem permainan berbasis risiko dan imbalan (risk-reward), baik menggunakan koin virtual, poin dalam permainan, maupun uang sungguhan.
Model permainan tersebut dinilai berpotensi mendorong pemain untuk terus bertaruh demi memperoleh kemenangan atau mengembalikan koin yang telah habis. Kondisi ini menjadi perhatian karena banyak dimainkan oleh kalangan remaja dan pelajar yang memiliki akses luas terhadap gawai dan jaringan internet.
Mekanisme permainan dirancang agar memberikan sensasi kepuasan ketika pemain berhasil menang. Efek tersebut memicu pelepasan hormon dopamin yang menimbulkan rasa senang sekaligus penasaran untuk kembali bermain. Dalam jangka panjang, kondisi itu dapat memicu ketergantungan sehingga pemain kesulitan menghentikan aktivitas bermain.
Akibatnya, tidak sedikit pemain yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar telepon pintar maupun tablet. Aktivitas belajar, penyelesaian tugas sekolah, hingga interaksi sosial di lingkungan sekitar pun kerap terabaikan karena perhatian lebih banyak tercurah pada permainan.
Dampak negatif yang ditimbulkan tidak hanya menyangkut pengelolaan waktu. Kecanduan game dengan mekanisme taruhan juga berpotensi memengaruhi kondisi kesehatan, psikologis, dan keuangan pemain. Ketika koin atau saldo permainan habis, sebagian pemain mengaku mengalami kecemasan, mudah terpancing emosi, hingga terdorong menggunakan uang saku atau membeli aset digital berbayar agar dapat terus bermain.
Salah seorang pemain game daring, Afriza, mengaku awalnya hanya memainkan game tersebut untuk mengisi waktu luang menggunakan koin gratis yang disediakan.
"Awalnya cuma iseng main buat ngisi waktu luang pakai koin gratisan, tapi begitu koinnya habis malah penasaran pengin menang terus. Lama-lama jadi susah berhenti karena kepikiran nilainya," ujarnya.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa sensasi persaingan yang dipadukan dengan mekanisme taruhan dapat membuat pemain tidak menyadari telah masuk ke dalam siklus kecanduan. Keinginan untuk terus mengejar kemenangan maupun mengembalikan kerugian menjadi pemicu utama yang membuat pemain sulit berhenti.
Karena itu, keterlibatan orang tua, sekolah, dan lingkungan sekitar dinilai menjadi faktor penting dalam mencegah dampak yang lebih luas. Pengawasan terhadap aktivitas digital anak perlu diperkuat, disertai edukasi mengenai batasan waktu bermain, pemahaman tentang risiko perjudian yang dibungkus dalam hiburan digital, serta pemanfaatan teknologi secara sehat dan bertanggung jawab.
Editor : Lugas Rumpakaadi