RADARBANYUWANGI.ID - Perilisan terbaru dari Resident Evil 9: Requiem memunculkan perdebatan menarik di kalangan komunitas penggemar seri horor populer dari Capcom. Diskusi tersebut berfokus pada satu pertanyaan klasik: mana yang sebenarnya lebih menyeramkan, RE9 atau pendahulunya, Resident Evil 7: Biohazard.
RE9 menghadirkan dua karakter utama dengan nuansa permainan berbeda, yakni Grace Ashcroft dan Leon S. Kennedy. Perbedaan latar belakang serta gaya bermain keduanya membuat atmosfer horor dalam gim terasa bervariasi.
Sejumlah penggemar menilai bahwa RE7 masih memberikan pengalaman horor yang lebih intens. Hal ini tidak lepas dari sosok protagonisnya, Ethan Winters, yang digambarkan sebagai orang biasa tanpa pelatihan tempur khusus.
“Ethan hanyalah orang biasa yang terjebak dalam situasi mengerikan. Itu membuat pemain merasa lebih rentan dan takut,” ujar salah satu penggemar dalam diskusi komunitas.
Berbeda dengan Ethan, Leon dikenal sebagai agen berpengalaman dengan latar belakang militer. Ketika pemain mengendalikan Leon di RE9, banyak yang merasa lebih percaya diri menghadapi ancaman.
“Ketika bermain sebagai Leon, rasanya seperti tidak terkalahkan. Aksi brutal melawan zombie justru terasa epik,” kata seorang pemain lain.
Namun RE9 juga tetap menawarkan sisi horor tersendiri melalui karakter Grace Ashcroft. Meski memiliki latar belakang sebagai agen FBI, beberapa pemain menilai situasi yang dialaminya masih mampu menghadirkan ketegangan yang kuat.
Sebagian penggemar bahkan berpendapat bahwa RE9 bisa terasa lebih menyeramkan dibanding RE7, terutama karena variasi sudut pandang karakter yang membuat ritme permainan berubah-ubah.
Pada akhirnya, perdebatan ini menunjukkan bahwa pengalaman horor dalam gim bersifat sangat subjektif. Baik RE7 maupun RE9 dinilai berhasil menghadirkan pengalaman yang kuat dengan pendekatan yang berbeda, sehingga keduanya tetap dianggap sebagai entri luar biasa dalam seri Resident Evil.
Artikel ini ditulis oleh Akbar Maulana Ilman, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Malang.
Editor : Lugas Rumpakaadi