RADARBANYUWANGI.ID - Setiap orang yang tinggal sendiri pasti pernah merasa sepi. Tapi bagi Dina, perempuan lajang berusia 27 tahun yang baru pindah ke kontrakan di Depok karena pekerjaan, rasa sepi itu berubah menjadi pengalaman mistis yang tak akan pernah ia lupakan.
Awalnya, semua terasa biasa. Rumah kecil yang ia sewa murah itu berada di gang sempit, cukup jauh dari jalan utama. Dinding-dindingnya lembab, beberapa bagian langit-langit sudah mengelupas.
Tapi lokasinya strategis dan harganya sesuai kantong. Dina tidak berpikir dua kali untuk langsung menyewa.
Malam-malam pertama, tak ada kejadian aneh. Namun, di malam keempat, sesuatu yang tak masuk akal mulai terjadi.
Sekitar pukul 02.15 dini hari, Dina terbangun karena mencium aroma yang sangat kuat. Bau itu khas dan akrab. Persis aroma singkong rebus.
Aroma gurih yang biasanya menguar dari dapur nenek saat pagi hari, kini menyelinap di tengah malam, menusuk indera penciumannya dengan jelas.
Refleks, Dina bangkit dan memeriksa dapurnya. Tak ada apa-apa. Kompor mati. Tidak ada bahan makanan di panci, bahkan air pun tidak ia masak sebelum tidur.
Jendela ia periksa, takut mungkin tetangga sedang memasak, tapi semua rumah tampak gelap dan sunyi. Dina menganggapnya halusinasi. Ia kembali tidur.
Namun bau itu datang lagi malam berikutnya. Dan besoknya. Selalu di jam yang sama, antara pukul dua hingga setengah tiga pagi.
Kadang-kadang bukan hanya singkong, melainkan bau sukun rebus yang hangus sedikit, seperti terlalu lama dipanaskan.
Anehnya, tak ada tanda-tanda aktivitas manusia lain di sekitar. Tidak ada suara panci, tidak ada api, tidak ada siapa-siapa.
Dina mulai merasa ketakutan, apalagi saat pada malam ketujuh, ia mendengar suara seperti sendok logam mengaduk sesuatu dari arah dapur. “Ceklek… ceklek…” Lalu suara nafas berat, seperti orang tua yang kelelahan.
Tapi lagi-lagi, saat ia bangkit, tak ada siapapun di sana. Hanya bau itu… semakin menyengat.
Tak kuat, Dina curhat ke temannya, Mitha, yang kemudian menyarankan untuk merekam suara atau video jika gangguan terjadi lagi. “Siapa tahu bisa ditelusuri,” kata Mitha.
Malam itu, Dina menyiapkan ponsel dan menyalakan perekam suara. Ia pura-pura tidur dan menunggu.
Sekitar pukul 02.19, bau itu muncul lagi. Bersamaan dengan itu, ponselnya merekam suara samar, seperti gumaman.
Keesokan harinya, saat didengarkan ulang, gumaman itu membuat darah Dina terasa berhenti mengalir. Suara perempuan tua, pelan dan parau terdengar jelas.
Dina kaget dan berteriak, setelahnya karyawan Indomaret itu tidak lagi menghuni kontrakan tersebut.
Konon Menjadi Aroma Khas
Di banyak daerah, terutama di Jawa, ada kepercayaan lama yang masih dipercaya sampai sekarang. Katanya, kalau malam-malam tiba-tiba tercium bau singkong atau ubi yang sedang dibakar, itu bisa jadi bukan dari dapur tetangga.
Banyak yang percaya, itu adalah tanda bahwa makhluk halus sedang mendekat.
Memang, aroma singkong bakar itu enak dan bikin lapar. Tapi bagi orang-orang tua dulu, bau itu justru pertanda bahwa ada energi gaib yang sedang berkumpul.
Biasanya, setelah bau itu muncul, alam ikut memberi isyarat. Tiba-tiba ayam bisa berkokok padahal belum pagi, atau angsa bersuara terus tanpa alasan.
Bahkan anjing pun sering menggonggong ke arah yang tidak jelas, seolah melihat sesuatu yang kita tidak bisa lihat.
Masyarakat Jawa juga percaya bahwa membakar singkong di malam hari sebaiknya dihindari. Soalnya, aroma itu sangat disukai oleh makhluk bernama genderuwo.
Genderuwo dikenal sebagai makhluk besar dan menyeramkan yang suka menghuni tempat-tempat gelap dan sepi.
Bukan hanya singkong. Bau sukun rebus juga dipercaya bisa mengundang makhluk itu. Apalagi kalau direbus malam hari, aromanya yang manis dan kuat bisa menarik perhatian dunia lain.
Jadi, meskipun terlihat sepele, bau makanan tradisional seperti singkong dan sukun di waktu malam kadang menyimpan misteri.
Mungkin saja itu cuma angin membawa aroma dari kejauhan. Tapi kalau terjadi berulang kali di jam yang sama, bisa jadi itu bukan kebetulan.
Disclaimer: Cerita ini disusun berdasarkan pengakuan dan kisah nyata yang beredar di masyarakat. Beberapa elemen mungkin telah disesuaikan untuk kebutuhan narasi. Mohon disikapi secara bijak sebagai bagian dari tradisi cerita horor urban Indonesia.
Editor : Agung Sedana