Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Sate Gagak dan Malam Api, Kisah Pesugihan dari Timur Jawa

Agung Sedana • Jumat, 6 Juni 2025 | 08:05 WIB

Mitos pesugihan sate gagak, kekayaan yang instan berbuntut resiko besar.
Mitos pesugihan sate gagak, kekayaan yang instan berbuntut resiko besar.

Disclaimer: Kisah ini merupakan cerita yang berkembang di masyarakat dan diwariskan secara lisan turun-temurun. Dari sudut pandang logika dan sains modern, cerita ini mungkin sulit dipercaya. Namun, sebagai bagian dari tradisi dan budaya lisan, ia tetap hidup dan dibicarakan. Cerita ini dikemas untuk sekadar pengetahuan dengan tujuan memperkuat iman, bahwa bekerja dan berdoa adalah cara paling benar memperoleh harta benda.

RADARBANYUWANGI.ID - Orang-orang di lereng Gunung Raung tak banyak bicara jika ditanya soal kekayaan mendadak. Mereka hanya mengangguk kecil, atau sesekali tersenyum pahit.

Di antara kebun-kebun kopi dan jalan setapak menuju hutan, ada satu cerita yang tak pernah ditulis di buku, tapi dibisikkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, ini tentang sate gagak.

Di desa itu, pernah hidup seorang pria bernama Sutarno. Ia bukan siapa-siapa, hanya seorang penjual bensin eceran di pinggir jalan yang hidup pas-pasan bersama istrinya.

Tapi semuanya berubah dalam waktu semalam. Rumahnya yang dulu reyot tiba-tiba dibangun ulang dari pondasi.

Motor tua yang dulu mogok kini berganti mobil. Dan warung kecil istrinya menjelma jadi toko kelontong yang selalu ramai pembeli.

Orang-orang mulai curiga. Tapi Sutarno selalu ramah, selalu berkata rejeki datang dari Tuhan.

Sampai suatu malam, seorang pemuda bernama Dian, yang sedang mencari sinyal HP di tepi jalan desa, melihat sesuatu yang tak bisa ia lupakan seumur hidupnya.

Malam itu sepi, hanya suara jangkrik dan hembusan angin dari arah hutan. Di kejauhan, Dian melihat kilatan cahaya kecil di bawah pohon beringin besar.

Ia mendekat, penasaran. Dari balik semak, ia melihat seorang pria telanjang bulat, tubuhnya hanya ditutupi kabut malam, sedang memanggang sesuatu di atas tungku batu.

Aroma amis terbakar menyengat. Di dekatnya, tergantung beberapa ekor burung berwarna hitam legam, matanya terbuka dan paruhnya menganga.

Dian nyaris berteriak saat sosok lain muncul dari balik kabut.

Seorang wanita dengan rambut panjang yang menyapu tanah, matanya tidak tampak, hanya lubang hitam kosong.

Wanita itu mengulurkan tangan dan mengambil beberapa tusuk sate, lalu berjalan menjauh… menghilang begitu saja di udara.

Keesokan harinya, Dian demam tinggi. Ia mengigau, menyebut-nyebut nama Sutarno dan burung gagak.

Ibunya yang panik membawa ia ke dukun kampung. Si dukun hanya mengangguk pelan. "Kau sudah lihat yang tak boleh dilihat. Semoga mereka tak mengejarmu."

Dari cerita dukun itulah, kisah asli tentang pesugihan sate gagak terkuak.

Ternyata, di balik kekayaan mendadak itu, ada perjanjian kelam dengan makhluk gaib.

Para pelaku disebut harus menjual sate dari daging burung gagak hitam, di tempat sunyi, pada tengah malam.

Ritualnya tak biasa, tanpa sehelai benang pun di tubuh, tanpa suara, tanpa tawa. Pelanggan yang datang bukan dari dunia manusia.

“Yang paling bahaya itu kalau Banaspati datang,” ujar sang dukun.

“Dia datang dalam wujud api. Membeli bukan dengan uang, tapi dengan ruh. Banyak yang tak kembali.”

Konon, jika sate itu disukai oleh Banaspati, makhluk gaib berbentuk api hidup tanpa kepala dan kaki, si penjual bisa langsung pingsan, kesurupan, atau bahkan hilang tanpa jejak.

Makhluk itu bukan sekadar pembeli, tapi juga penagih. Karena dalam dunia pesugihan, setiap kekayaan datang dengan cicilan.

Dan bukan cicilan uangmelainkan nyawa, jiwa, atau warasmu sendiri.

Bibit, seorang spiritualis yang pernah menjadi saksi langsung dalam praktik ini, pernah berkata dalam pengakuannya.

“Yang datang itu bukan hanya hantu. Kadang mereka ketuk rumah, kadang hanya diam di luar jendela. Tapi setiap malam Jumat Kliwon, pasti datang satu… yang menuntut dibakar satu burung lagi.”

Setelah lima tahun hidup bergelimang harta, kabar tentang Sutarno perlahan menghilang.

Rumahnya kosong. Toko istrinya tutup. Orang-orang bilang mereka pindah kota.

Tapi tukang ojek di desa itu pernah bersumpah melihat Sutarno duduk di pinggir hutan, menatap kosong ke api unggun, telanjang, masih memanggang sesuatu yang baunya menusuk sampai ke tenggorokan.

 

Editor : Agung Sedana
#sate gagak #pesugihan