RADAR BANYUWANGI - Ella Beatty mencuri perhatian lewat serial Monster: The Lizzie Borden Story. Siapa sangka, pemeran perempuan yang dituduh melakukan pembunuhan dengan kapak itu justru takut melihat darah.
Serial kriminal Netflix, Monster: The Lizzie Borden Story, mencatat 32,3 juta penayangan global dalam tiga minggu sejak debutnya pada 17 September 2026. Di balik angka tersebut, ada kisah menarik Ella Beatty yang harus mengatasi ketakutannya sendiri demi menghidupkan karakter Lizzie Borden.
Dalam wawancara dengan Netflix Tudum, aktris asal Amerika Serikat itu mengaku tidak terbiasa menyaksikan tayangan yang menampilkan kekerasan.
"Saya penakut sekali," ujar Beatty.
Pengakuan tersebut bertolak belakang dengan perannya dalam serial antologi kriminal garapan Ryan Murphy dan Ian Brennan. Beatty harus memerankan perempuan yang pernah dituduh membunuh ayah dan ibu tirinya menggunakan kapak pada 1892.
Audisi Rumahan yang Berbuah Peran Utama
Perjalanan Beatty mendapatkan peran Lizzie Borden bermula dari audisi mandiri yang direkam bersama seorang teman sekolah aktingnya.
Kepada Wonderland Magazine dalam wawancara yang diterbitkan pada 5 Oktober 2026, Beatty mengatakan bahwa dirinya langsung tertarik ketika menerima naskah audisi. Namun, ia tidak terlalu berharap terpilih.
"Kau mungkin hanya mengirimkannya ke dalam kehampaan," kenangnya, menggambarkan perasaannya seusai mengirimkan rekaman audisi.
Di luar dugaan, kabar dari tim produksi datang keesokan harinya. Proses tersebut akhirnya mengantarkannya menjadi pemeran utama perempuan pertama yang menjadi pusat cerita dalam antologi Monster.
Kesempatan itu sekaligus mempertemukan Beatty dengan sejumlah nama besar, seperti Charlie Hunnam sebagai Andrew Borden, Rebecca Hall sebagai Abby Borden, dan Vicky Krieps sebagai Bridget Sullivan.
Mendalami Karakter yang Menyimpan Banyak Teka-Teki
Memerankan tokoh sejarah dengan kehidupan yang masih diperdebatkan bukan pekerjaan mudah. Apalagi, tidak banyak dokumentasi yang bisa menjelaskan secara terperinci suara, gerak tubuh, dan kepribadian Lizzie Borden.
Beatty kemudian membaca buku The Trial of Lizzie Borden karya Cara Robertson. Ia juga bekerja sama dengan pelatih gerak Julia Crockett untuk membangun karakter fisik Lizzie.
Menurut Beatty, pendekatan tersebut membantunya menghadirkan sosok yang lebih kompleks daripada sekadar perempuan yang dituduh melakukan pembunuhan.
Dalam wawancara Netflix Tudum, ia menyoroti tekanan sosial yang dihadapi perempuan Amerika pada abad ke-19.
"Saya pikir, menjadi perempuan di Amerika pada masa itu berarti merasa terkekang secara seksual, spiritual, dan emosional," tuturnya.
Tantangan lain muncul ketika syuting adegan kekerasan. Beatty harus berhadapan dengan darah buatan, kostum yang terkena cipratan, serta rangkaian adegan yang menuntut kesiapan fisik dan emosional.
Ia memilih mengikuti kebutuhan cerita. Tim produksi turut memastikan tata rias, kostum, dan pola cipratan darah tetap konsisten dari satu pengambilan gambar ke pengambilan berikutnya.
Kisah Lizzie Borden, Terdakwa yang Dibebaskan
Kasus yang menginspirasi serial ini terjadi pada 4 Agustus 1892 di Fall River, Massachusetts, Amerika Serikat.
Andrew Borden dan istrinya, Abby, ditemukan tewas di rumah mereka akibat serangan senjata tajam. Lizzie, putri Andrew, kemudian menjadi tersangka dan menghadapi persidangan yang menyita perhatian masyarakat.
Namun, pada Juni 1893, pengadilan membebaskan Lizzie dari dakwaan pembunuhan. Pelaku sebenarnya tidak pernah dipastikan secara hukum.
Fakta tersebut menjadi pembeda penting antara sejarah dan penggambaran dalam serial Netflix.
Dalam versi dramatik Monster, Lizzie ditampilkan sebagai perempuan yang menghadapi tekanan keluarga, pembatasan sosial, dan konflik batin. Serial itu juga mengeksplorasi hubungan pribadinya melalui cerita yang tidak seluruhnya didukung bukti sejarah.
"Ryan selalu mengatakan bahwa karyanya adalah lukisan, bukan dokumenter," kata Beatty kepada Wonderland, menjelaskan pendekatan kreatif serial tersebut.
Bagi Beatty, tantangan utamanya bukan membuktikan siapa pembunuh keluarga Borden. Ia berusaha memahami karakter yang ditulis untuk layar kaca sekaligus menggambarkan bagaimana tekanan sosial dapat membentuk kehidupan seseorang.
Lewat delapan episode yang kini tersedia di Netflix, Monster: The Lizzie Borden Story mengajak penonton kembali menengok perkara berusia lebih dari satu abad yang hingga kini masih menyisakan pertanyaan.
Editor : Lugas Rumpakaadi