Frank Darabont Tolak Dana Lebih Besar demi Ending Tragis The Mist, Stephen King Justru Setuju

Loanda Ajeng Rossiani • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 14:29 WIB
Thomas Jane sebagai David Drayton berusaha melindungi putranya, Billy, yang diperankan Nathan Gamble, dalam film The Mist (2007) garapan Frank Darabont. (Dimension Films/IMDb)
Thomas Jane sebagai David Drayton berusaha melindungi putranya, Billy, yang diperankan Nathan Gamble, dalam film The Mist (2007) garapan Frank Darabont. (Dimension Films/IMDb)

RADAR BANYUWANGI - Akhir cerita film The Mist (2007) masih menjadi perbincangan hampir dua dekade setelah dirilis. Bukan hanya karena tragedi yang dialami tokoh utamanya, David Drayton, melainkan juga keputusan sutradara Frank Darabont mengubah cerita asli Stephen King.

Darabont bahkan rela menolak tawaran pendanaan lebih besar demi mempertahankan akhir cerita tersebut. Menariknya, King justru mendukung perubahan yang dianggap terlalu suram oleh sejumlah calon penyandang dana.

Kini, kisah horor itu kembali mendapat perhatian. Sutradara Mike Flanagan tengah menyiapkan adaptasi baru The Mist untuk Warner Bros. dengan pendekatan berbeda dari film Darabont.


Peringatan: Artikel berikut mengandung spoiler akhir cerita The Mist (2007).


Ending The Mist Berbeda dari Cerita Aslinya

Dirilis pada 21 November 2007, The Mist dibintangi Thomas Jane sebagai David Drayton. Ia bersama putranya, Billy, dan sejumlah warga terjebak di sebuah supermarket setelah kabut misterius menyelimuti kota mereka.

Ancaman datang dari makhluk mengerikan di luar bangunan. Sementara itu, rasa takut membuat hubungan antarmanusia di dalam supermarket semakin tegang.

Film tersebut diadaptasi dari novela Stephen King yang pertama kali terbit dalam antologi Dark Forces pada 1980, kemudian dimuat kembali dalam Skeleton Crew pada 1985.

Dalam cerita asli, David bersama para penyintas meninggalkan supermarket dan melanjutkan perjalanan menembus kabut. Nasib mereka dibiarkan menggantung, meski masih ada harapan untuk selamat.

Darabont mengambil jalan berbeda.

Ketika mobil yang mereka tumpangi kehabisan bahan bakar, David merasa tidak ada lagi jalan keluar. Ia kemudian menembak empat orang di dalam kendaraan, termasuk putranya sendiri, untuk menghindarkan mereka dari serangan monster.

Namun, tak lama setelah keputusan itu diambil, rombongan militer muncul. Pertolongan ternyata sudah dekat.

David selamat, tetapi harus menanggung konsekuensi dari tindakannya.

Ide Ending Tragis Ternyata Berasal dari Stephen King

Dalam wawancara dengan Lilja's Library pada 7 Januari 2008, Darabont mengungkap bahwa gagasan akhir cerita tersebut sebenarnya terinspirasi dari tulisan King.

Pada bagian akhir novela, David sempat memikirkan jumlah peluru dalam pistolnya yang lebih sedikit daripada jumlah penumpang mobil. Darabont kemudian mengembangkan kemungkinan paling buruk dari pemikiran tersebut.

"Steve, aku mendapatkannya darimu!" ujar Darabont ketika menceritakan percakapannya dengan King.

Artinya, Darabont memperoleh gagasan itu dari karya King sendiri, bukan sepenuhnya menciptakan penyelesaian baru.

Dalam wawancara Yahoo Entertainment pada 23 September 2016, Darabont juga mengungkap kondisi emosionalnya ketika menggarap film tersebut.

"Saat itu, suasana hati saya sedang agak buruk," katanya.

Darabont mengaku sedang marah terhadap keadaan dunia dan negaranya. Ia pun memilih akhir yang mencerminkan keputusasaan manusia.

"Tidak selalu harus berakhir bahagia," tegasnya.

Menurut Darabont, film tidak harus selalu berakhir bahagia. Ia terinspirasi oleh The Twilight Zone dan film-film lama yang berani menghadirkan ironi pahit.

Stephen King Mendukung, Darabont Menolak Tawaran Dana

Perubahan cerita itu ternyata mendapat persetujuan Stephen King.

Dalam wawancara Yahoo Entertainment pada 6 September 2017, King menjelaskan bahwa dirinya menyukai keputusan Darabont.

"Itu bersifat nihilistik. Saya menyukainya," ujar King.

King menilai akhir tersebut bertentangan dengan kebiasaan Hollywood yang cenderung memberikan penyelesaian menyenangkan bagi penonton.

Namun, dukungan King tidak serta-merta memudahkan proses produksi.

Darabont mengungkap kepada Lilja's Library pada Januari 2008 bahwa seorang produser pernah menawarkan anggaran USD 30 juta. Syaratnya, bagian akhir film harus diubah.

Tawaran itu ditolak. Darabont akhirnya mengerjakan The Mist dengan anggaran sekitar USD 17 juta melalui Dimension Films.

"Tapi setidaknya saya bisa membuat film itu dengan cara saya sendiri," katanya.

Baginya, mempertahankan gagasan cerita lebih penting daripada menerima pendanaan besar dengan konsekuensi mengubah akhir film.

Horor Sesungguhnya Adalah Hilangnya Harapan

Keputusan David menembak orang-orang terdekatnya membuat akhir The Mist memiliki makna lebih dalam daripada sekadar kejutan.

Dalam wawancara retrospektif/film pada 2022, aktor Sam Witwer, pemeran prajurit Wayne Jessup, menyoroti pesan tersebut.

"Horor dalam film tersebut adalah hilangnya harapan," ujarnya.

Menurut Witwer, ketakutan terbesar dalam film bukan hanya monster, melainkan hilangnya harapan.

Pesan serupa muncul dari kemunculan kembali karakter perempuan yang diperankan Melissa McBride. Perempuan yang sebelumnya meninggalkan supermarket demi menemui anak-anaknya itu justru terlihat dalam rombongan warga yang diselamatkan militer.

Dalam wawancara tahun 2008, Darabont mengungkap bahwa kemunculan kembali karakter tersebut merupakan gagasan aktor Jeffrey DeMunn.

Adegan itu mempertegas ironi nasib David. Ketika seseorang tetap berusaha bertahan, kemungkinan selamat masih terbuka. Sebaliknya, keputusan yang lahir dari keputusasaan dapat membawa akibat yang tidak bisa dibatalkan.

Darabont juga membandingkan The Mist dengan The Shawshank Redemption (1994). Jika film tersebut membahas pentingnya harapan, The Mist memperlihatkan bahaya ketika manusia kehilangan harapan.

Mike Flanagan Siapkan Adaptasi Baru The Mist

Kisah The Mist kini bersiap kembali ke layar lebar.

Pada 10 Februari 2026, Deadline melaporkan bahwa Mike Flanagan ditunjuk menulis sekaligus menyutradarai adaptasi baru untuk Warner Bros.

Dalam wawancara Entertainment Weekly pada Juli 2026, Flanagan menyatakan bahwa pendekatannya akan berbeda dari film Darabont.

"Akhir ceritanya sungguh mencengangkan," ujar Flanagan mengenai akhir cerita film 2007 tersebut.

Flanagan mengaku sudah menyampaikan gagasannya kepada Stephen King. Ia ingin memberikan penafsiran baru, bukan mengulang pendekatan Darabont.

Dengan rencana adaptasi tersebut, The Mist kembali membuka perdebatan tentang bagaimana sebuah cerita horor seharusnya berakhir.

Namun, satu hal tetap menonjol dari film Darabont. Teror terbesar tidak selalu datang dari monster dalam kabut, tetapi juga dari keputusan manusia ketika harapan mulai menghilang.

Editor : Lugas Rumpakaadi
The Mist 2007 Frank Darabont Stephen King Ending The Mist Mike Flanagan