RADAR BANYUWANGI - Alien: Romulus membawa penonton kembali ke atmosfer horor dan estetika industrial yang melekat pada dua film awal waralaba Alien. Namun, film garapan Fede Álvarez itu juga memicu perdebatan karena cukup banyak menggunakan dialog, karakter, dan elemen visual yang mengingatkan pada film-film pendahulunya.
Sebagian penonton melihatnya sebagai penghormatan terhadap sejarah waralaba, sementara sebagian lainnya menganggap sejumlah callback tersebut terlalu dekat dengan fan service. Álvarez sendiri punya penjelasan berbeda.
Dalam wawancara dengan AVP Galaxy yang dipublikasikan pada November 2024, sutradara asal Uruguay tersebut menegaskan bahwa referensi terhadap film-film lama bukan dimasukkan karena tuntutan studio.
“Ini hanya untuk diri saya sendiri. Saya tidak benar-benar berusaha melayani siapa pun. Saya hanya melakukan apa yang ingin saya lakukan,” ujar Álvarez.
Ia bahkan menggambarkan proses pembuatan Alien: Romulus sebagai produksi dengan semangat independen. Menurut Álvarez, 20th Century memberikan ruang yang cukup luas kepada dirinya dan rekan penulis Rodo Sayagues untuk mengambil keputusan kreatif.
Pernyataan tersebut penting karena Alien: Romulus memang tidak menyembunyikan hubungannya dengan film-film terdahulu. Salah satu contoh paling jelas muncul ketika Andy, sintetis yang diperankan David Jonsson, melontarkan variasi kalimat ikonik Ripley dari Aliens, “Get away from her, you bitch.”
Dialog ikonik Andy awalnya tidak ada
Menurut Álvarez, kalimat tersebut bukan bagian dari rencana awal adegan. Dialog itu dicoba dalam proses pengembangan setelah ia merasa momen Andy menghadapi Xenomorph membutuhkan pelepasan emosional yang lebih kuat.
Respons saat pemutaran tes kemudian ikut memengaruhi keputusan untuk mempertahankannya.
Álvarez mengatakan sambutan penonton terhadap adegan itu begitu kuat sehingga ia memilih tidak menariknya kembali hanya karena sebagian penggemar lama mungkin menganggapnya terlalu eksplisit sebagai referensi. Ia juga mengakui pendekatan semacam itu tidak selalu disukai semua orang.
Dengan kata lain, callback tersebut tidak muncul secara kebetulan. Álvarez sadar betul dari mana dialog itu berasal dan memahami risiko ketika menggunakannya kembali.
Namun, baginya, pertanyaan utamanya bukan apakah penonton akan mengenali referensi tersebut, melainkan apakah momen itu bekerja di dalam cerita.
Sejak awal ingin menggabungkan Alien dan Aliens
Kedekatan Romulus dengan film-film sebelumnya sebenarnya sudah terlihat dalam konsep produksinya.
Sebelum film dirilis, Álvarez menjelaskan bahwa dirinya tidak ingin memilih antara atmosfer perlahan dan menekan dari Alien karya Ridley Scott dengan intensitas aksi Aliens karya James Cameron.
“Meminta penggemar Alien memilih di antara keduanya adalah pertanyaan yang kejam. Jadi saya berpikir, ‘Bagaimana saya melakukan keduanya?’” katanya.
Konsep itu kemudian diterapkan pada Renaissance Station, lokasi utama film. Bagian Remus dirancang lebih dekat dengan estetika Alien, sedangkan Romulus memiliki tampilan yang mengarah pada dunia teknologi Aliens.
Álvarez juga menegaskan melalui kanal resmi The Walt Disney Company bahwa tujuan dasarnya adalah mengembalikan waralaba tersebut kepada horor yang sederhana seperti film pertamanya.
“Inti film ini adalah membawa Alien kembali pada kesederhanaan awal waralaba, ketika film itu, di atas segalanya, adalah film horor,” katanya.
Pendekatan itu bukan hanya diterapkan melalui desain produksi, tetapi juga lewat penggunaan efek praktis. Tim produksi membangun makhluk, animatronik, miniatur pesawat, dan set fisik, kemudian mengombinasikannya dengan efek digital dari perusahaan seperti Industrial Light & Magic dan Wētā.
Mengapa wajah Ian Holm kembali sebagai Rook?
Callback lain yang jauh lebih kontroversial adalah kehadiran Rook, sintetis yang menggunakan kemiripan wajah mendiang Ian Holm.
Holm sebelumnya memerankan Ash dalam Alien tahun 1979.
Dalam wawancara dengan Los Angeles Times, Álvarez mengatakan timnya sempat mempertimbangkan sejumlah sintetis dari sejarah waralaba sebelum memilih Holm.
“Satu-satunya yang belum muncul kembali dan menurut kami menarik adalah Ian Holm,” kata Álvarez.
Álvarez kemudian menghubungi Sophie de Stempel, janda Holm, untuk menjelaskan konsep tersebut. Ridley Scott, yang tetap berhubungan dengan Holm semasa hidupnya, juga diajak berdiskusi mengenai keputusan itu.
Rook bukan dibuat sepenuhnya menggunakan citra digital. Produksi menggunakan animatronik berbentuk Holm, performa fisik dan suara dari Daniel Betts, serta penyempurnaan CGI pada beberapa bagian wajah. Álvarez mengatakan sebagian besar performa pada set tetap berasal dari puppeteer.
Bagi Álvarez, keberadaan Rook juga mempunyai alasan naratif. Rook dan Ash berasal dari sistem perusahaan yang sama sehingga kemiripan pola bicara atau respons mereka dapat dijelaskan sebagai bagian dari pemrograman sintetis di dunia Alien.
Ridley Scott memberi ruang kepada Álvarez
Meski Alien: Romulus menggunakan berbagai elemen dari film pertama, keterlibatan Ridley Scott tidak berarti Álvarez hanya menjalankan formula yang diberikan kreator terdahulunya.
Scott menjadi produser dan memberikan masukan selama proses pengembangan serta penyuntingan. Namun, ia juga menilai Álvarez telah mempunyai visi yang cukup jelas.
Dalam wawancara dengan Los Angeles Times, Scott menggambarkan Álvarez sebagai energi baru untuk waralaba tersebut.
“Fede adalah sebuah ledakan energi, dan saya harus mundur lalu membiarkannya melakukannya,” ujar Scott.
Álvarez sendiri mengatakan Scott merupakan partner penting sepanjang produksi.
“Dia telah menjadi partner yang hebat di setiap level,” katanya.
Scott terutama memberikan masukan mengenai elemen yang perlu diperkuat serta ritme film pada tahap penyuntingan. Tetapi keputusan kreatif akhirnya tetap berada di tangan Álvarez.
Hal tersebut sejalan dengan pengakuan Álvarez bahwa ia berusaha mengikuti kanon Alien tanpa kehilangan ruang untuk membuat karakter dan cerita baru.
Itu pula alasan ia tidak membawa kembali Ellen Ripley. Alih-alih menjadikan karakter lama sebagai pusat daya tarik, Romulus memperkenalkan Rain Carradine dan Andy sebagai pintu masuk bagi generasi penonton baru.
Alien: Isolation juga meninggalkan jejak
Referensi Romulus tidak terbatas pada film.
Álvarez secara terbuka mengakui pengaruh gim horor Alien: Isolation. Gim buatan Creative Assembly tersebut, menurutnya, membuktikan bahwa Xenomorph masih bisa terasa menakutkan apabila dikembalikan pada atmosfer horor yang tepat.
“Alien: Isolation membuat saya melihat bahwa Alien benar-benar masih bisa terasa mengerikan jika dikerjakan dengan baik saat ini,” katanya.
Salah satu penghormatannya muncul melalui telepon atau save station yang menyerupai perangkat penyimpanan permainan dalam Alien: Isolation.
Álvarez bahkan menggunakannya sebagai petunjuk visual. Perangkat tersebut ditempatkan sebelum sejumlah kejadian buruk dalam film, meniru pengalaman pemain yang menemukan titik penyimpanan sebelum memasuki bagian berbahaya dalam gim.
Detail seperti itu menunjukkan bahwa nostalgia dalam Romulus tidak hanya hadir melalui dialog terkenal. Sebagian referensi juga digunakan sebagai bagian dari desain visual dan mekanisme membangun ketegangan.
Alien: Romulus meraup lebih dari US$350 juta
Terlepas dari perdebatan mengenai fan service, Alien: Romulus menghasilkan performa komersial yang kuat.
Film yang mulai beredar pada Agustus 2024 itu meraup US$350,86 juta atau sekitar US$351 juta di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, sekitar US$105,31 juta berasal dari pasar domestik Amerika Utara dan US$245,55 juta dari pasar internasional.
Hasil tersebut kemudian membuka jalan untuk pengembangan cerita berikutnya.
Pada September 2025, Álvarez mengungkapkan bahwa dirinya dan Rodo Sayagues telah menyelesaikan skenario untuk kelanjutan Romulus. Namun, ia memutuskan tidak kembali sebagai sutradara.
“Kami baru saja menyelesaikan naskah sekuel Romulus. Tetapi saya akan menyerahkan tongkat estafet sebagai sutradara kali ini,” katanya.
Álvarez mengatakan dirinya masih akan terlibat sebagai produser bersama Ridley Scott, sementara tim mencari sineas lain untuk menyutradarai proyek tersebut.
Bagaimana status sekuel Alien: Romulus sekarang?
Status proyek itu sempat menjadi bahan spekulasi pada pertengahan 2026 setelah beredar laporan yang mengklaim sekuel Romulus telah dihentikan.
Steve Asbell, President of Production 20th Century Studios, merespons langsung laporan tersebut melalui akun X miliknya pada 1 Agustus 2026.
Jawabannya hanya satu kata, “Tidak.” (Nope.)
Meski demikian, bantahan tersebut bukan pengumuman jadwal produksi. Hingga pembaruan itu, studio belum mengumumkan sutradara, tanggal mulai syuting, ataupun tanggal rilis untuk kelanjutan Romulus.
Perkembangan waralaba kemudian menjadi lebih kompleks. Dalam wawancara yang diterbitkan Los Angeles Times pada 26 Agustus 2026, Ridley Scott juga mengatakan dirinya sedang mengembangkan film Alien lain yang akan melanjutkan kisah David, karakter sintetis Michael Fassbender dari Prometheus dan Alien: Covenant.
Belum ada konfirmasi resmi bahwa proyek Scott tersebut merupakan film yang sama dengan sekuel Alien: Romulus. Karena itu, keduanya belum dapat diperlakukan sebagai satu produksi sampai 20th Century memberikan penjelasan lebih lanjut.
Bagi Álvarez, Alien: Romulus sejak awal memang tidak dirancang untuk memutus hubungan dengan masa lalu waralaba. Namun, justru menggunakan sejarah Alien sebagai bagian dari bahasa visual dan naratif filmnya.
Apakah hasilnya terasa seperti penghormatan atau fan service tetap menjadi penilaian masing-masing penonton. Namun, berdasarkan penjelasan sang sutradara, sejumlah callback paling mencolok di Romulus bukan muncul karena instruksi studio. Álvarez memasukkannya karena memang ingin melihat dan mendengarnya berada di dunia Alien sekali lagi.
Editor : Lugas Rumpakaadi