The Watchers di HBO Max, Teror dari Ruang Kosong dan Perasaan Terus Diawasi

Loanda Ajeng Rossiani • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 11:34 WIB
Cahaya yang seharusnya memberi rasa aman justru membuat Mina dan penghuni The Coop menjadi tontonan bagi makhluk yang mengawasi dari balik kegelapan dalam The Watchers. (Unsplash/Keagan Henman)
Cahaya yang seharusnya memberi rasa aman justru membuat Mina dan penghuni The Coop menjadi tontonan bagi makhluk yang mengawasi dari balik kegelapan dalam The Watchers. (Unsplash/Keagan Henman)

The Watchers tidak hanya mengandalkan sosok monster untuk menebar ketakutan. Ishana Night Shyamalan justru memainkan ruang kosong, cahaya, cermin, hingga komposisi gambar yang sengaja dibuat terasa janggal. Hasilnya, penonton seolah ikut merasakan teror menjadi objek pengamatan.


RADAR BANYUWANGI - The Watchers kembali menarik untuk disimak setelah tersedia di HBO Max Indonesia. Film yang pertama kali dirilis pada 2024 itu merupakan debut penyutradaraan film panjang Ishana Night Shyamalan.

Diadaptasi dari novel karya A.M. Shine, film tersebut mengikuti Mina (Dakota Fanning), perempuan yang tersesat di sebuah hutan terpencil di Irlandia.

Ia kemudian menemukan tempat berlindung bernama The Coop. Di sana, Mina tinggal bersama Madeline (Olwen Fouéré), Ciara (Georgina Campbell), dan Daniel (Oliver Finnegan).

Namun, tempat itu bukan perlindungan biasa.

Setiap malam, mereka harus berada di dalam ruangan yang terang dan berdiri di depan kaca besar. Dari balik kegelapan, makhluk misterius datang untuk mengamati mereka.

Konsep itulah yang menjadi jantung teror The Watchers. Rasa takut tidak selalu muncul dari apa yang terlihat, tetapi justru dari kemungkinan bahwa ada sesuatu yang terus memperhatikan.

The Coop Dibuat seperti Panggung

The Coop menjadi pusat visual film. Bangunan tersebut memberikan perlindungan, tetapi sekaligus menjadikan para penghuninya seperti objek pameran.

Konsep itu memang dirancang sejak awal.

Dalam wawancara dengan Concrete Playground, Ishana mengungkapkan bahwa dirinya bersama sinematografer Eli Arenson dan penata produksi Ferdia Murphy sengaja membuat The Coop menyerupai panggung.

”Kami menggunakan pendekatan yang sangat klasik, harfiah, dan menyerupai panggung,” ujar Ishana.

Pendekatan teatrikal itu tampak jelas dalam permainan cahaya.

Menurut Ishana, karakter sengaja ditempatkan dalam bidang-bidang cahaya tertentu.

”Ada bidang-bidang cahaya yang tegas, tempat karakter kami bergerak masuk dan keluar,” katanya.

Cahaya dalam The Watchers akhirnya memiliki dua fungsi yang bertentangan.

Di satu sisi, cahaya memberikan rasa aman dari ancaman di luar ruangan. Namun, di sisi lain, cahaya membuat tubuh para karakter terlihat dengan jelas oleh makhluk yang mengawasi mereka.

Untuk selamat, mereka justru harus membiarkan diri dilihat.

Di situlah film membalik salah satu formula dasar horor. Biasanya, karakter merasa lebih aman ketika keluar dari kegelapan. Dalam The Watchers, berdiri di bawah cahaya belum tentu berarti selamat.

The Coop Dibangun dalam Dua Versi

Kesan berbeda antara ruang terkendali dan hutan liar juga muncul dari proses produksinya.

Ishana menjelaskan kepada SciFiNow bahwa tim produksi membuat dua versi The Coop.

”Kami membuat bagian dalam The Coop di panggung studio,” katanya.

Sementara itu, bagian luarnya dibuat terpisah.

”Kemudian kami membangun struktur bagian luarnya,” lanjut Ishana.

Interior yang dibangun di studio memungkinkan tim produksi mengatur pencahayaan dengan lebih presisi. Termasuk cahaya keemasan yang menjadi ciri khas ruangan tersebut.

Sebaliknya, bagian luar ditempatkan langsung di lingkungan hutan.

Hasilnya adalah dua dunia yang berbeda.

Di dalam The Coop, cahaya dan posisi manusia dapat dikendalikan. Begitu keluar, para karakter harus berhadapan dengan pepohonan rapat, tanah tidak rata, bayangan, dan jarak pandang terbatas.

The Coop pun terasa seperti kotak eksperimen yang teratur di tengah alam liar.

Kamera Sengaja Dibuat Tidak Nyaman

Rasa tidak nyaman dalam The Watchers tidak hanya berasal dari cerita. Kamera juga ikut membuat penonton merasa ada sesuatu yang salah.

Dalam wawancara dengan RogerEbert.com, Ishana menjelaskan bahwa dirinya sengaja mencari komposisi gambar yang tidak memberikan kenyamanan kepada penonton.

”Kami mencoba mencari cara yang paling tidak nyaman untuk membingkai sebuah adegan,” ujarnya.

Salah satu teknik yang digunakan adalah memperbanyak negative space atau ruang kosong dalam bingkai.

Subjek kadang ditempatkan terlalu dekat, terlalu jauh, atau tidak berada di posisi yang biasanya dianggap nyaman secara visual.

Efeknya sederhana, tetapi efektif.

Ketika karakter hanya mengisi sebagian kecil layar, sementara area kosong mendominasi bingkai, mata penonton otomatis mulai mencari sesuatu.

Apakah ada makhluk di sana?

Apakah sesuatu akan muncul?

Atau ancaman justru berada di luar bidang yang dapat dilihat kamera?

Ruang kosong yang semula tampak tidak penting akhirnya berubah menjadi sumber ketegangan.

Dakota Fanning juga menyadari bahwa cara Ishana dan Eli Arenson mengambil gambar berbeda dari pola yang lazim digunakan.

Dalam wawancara dengan Moviefone, Dakota menyebut Ishana sebagai sutradara yang memahami secara detail gambar yang ingin dibuat.

”Dia sangat memahami apa yang ingin dia lakukan,” kata Dakota.

Pendekatan pengambilan gambarnya juga tidak selalu mengikuti formula tradisional.

”Kami tidak pernah membuat master two-shot. Pendekatannya memang tidak tradisional,” ujarnya.

Dalam produksi film, master shot biasanya digunakan untuk memperlihatkan posisi karakter dan situasi ruang secara lebih lengkap sebelum kamera beralih ke sudut yang lebih dekat.

Namun, The Watchers sering menahan informasi tersebut.

Penonton tidak selalu diberi sudut paling nyaman untuk memahami sebuah ruangan. Akibatnya, mata dipaksa terus memeriksa apa yang ada di dalam bingkai.

Menariknya, penonton akhirnya melakukan hal yang sama seperti para Watchers: mengamati.

Hutan Luas yang Terasa seperti Penjara

Ada ironi lain dalam The Watchers. Sebagian besar cerita berlangsung di hutan terbuka, tetapi suasananya justru terasa sesak.

Mina sebenarnya memiliki ruang sangat luas untuk bergerak.

Namun, pepohonan yang berulang, jalan yang tidak jelas, serta sulitnya mencari jalan keluar membuat hutan tersebut berubah menjadi labirin.

Konsep tersebut sudah kuat sejak novel karya A.M. Shine.

Dalam wawancara yang diterbitkan Bloomsbury, Shine menjelaskan bahwa lanskap Irlandia memiliki posisi penting dalam karya-karyanya.

”Lanskap Irlandia begitu suram dan menghantui. Lanskap itu benar-benar menjadi karakter tersendiri,” ujarnya.

Karena itu, hutan di The Watchers tidak sekadar menjadi latar.

Hutan adalah bagian dari ancaman.

Pepohonan menyembunyikan apa yang berada beberapa meter di depan. Jalan yang tampak terbuka tidak menjamin adanya jalan keluar.

Semakin luas ruangnya, semakin terasa pula ketidakberdayaan manusia di dalamnya.

Ishana juga pernah menyebut Antichrist karya Lars von Trier sebagai salah satu referensi visual film.

Referensi itu membantu menjelaskan bagaimana hutan dalam The Watchers dibuat memiliki kehadiran sendiri. Bukan sekadar tempat berlangsungnya adegan.

Hasilnya adalah penjara tanpa dinding.

Karakter bisa berjalan jauh pada siang hari. Namun, kebebasan tersebut hanya ilusi karena mereka tetap berada dalam ruang yang seolah terus membawa mereka kembali ke ancaman yang sama.

A.M. Shine Ikut Terlibat dalam Adaptasi

Hubungan film dengan novel juga tidak berhenti pada penggunaan cerita sebagai bahan adaptasi.

A.M. Shine ikut dilibatkan dalam proses pengembangan film.

”Saya bertindak sebagai konsultan dalam proses adaptasi novel tersebut,” kata Shine dalam wawancara dengan Bloomsbury.

Ia membaca salah satu versi awal skenario Ishana. Shine juga mengikuti pengembangan film melalui concept art, mood board, dan percakapan dengan tim produksi.

Ishana pun sempat memperlihatkan draf skenario kepada Shine.

Menurut Ishana, penulis novel itu memberikan kebebasan kepadanya untuk mengembangkan film sebagai karya tersendiri.

Namun, beberapa ruang dalam novel tetap diterjemahkan cukup dekat dengan gambaran yang muncul di kepala Ishana ketika membaca bukunya.

Salah satunya adalah bunker.

”Bentuk ruangnya yang melingkar, banyaknya lorong, dan langit-langit yang tinggi,” kata Ishana ketika menggambarkan bagian yang sudah ia bayangkan sejak membaca novel.

Detail itu menjelaskan mengapa arsitektur memegang peranan penting dalam film.

Setiap ruang mempunyai cara berbeda dalam menghasilkan teror.

The Coop memaksa manusia tampil.

Hutan menghancurkan orientasi.

Bunker membawa karakter menuju ruang yang semakin asing.

Ruang bukan sekadar tempat cerita berlangsung. Ruang ikut menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilihat penonton.

Teror Menjadi Orang yang Terus Dinilai

Tema pengawasan dalam The Watchers juga memiliki makna personal bagi Ishana.

Dalam wawancara dengan ABC News Australia, ia mengaku tertarik pada kecemasan yang muncul ketika seseorang merasa terus diperhatikan.

”Kecemasan karena terus diperhatikan dan dinilai,” kata Ishana ketika menjelaskan tema yang membuatnya terhubung dengan cerita tersebut.

Tema itu terasa relevan dengan posisi Ishana sendiri.

The Watchers merupakan film panjang pertamanya sebagai sutradara. Pada saat bersamaan, namanya tidak bisa dilepaskan dari sang ayah, M. Night Shyamalan.

Artinya, film tersebut sejak awal juga hadir di tengah perhatian dan penilaian publik.

Situasi itu kemudian tercermin secara harfiah dalam cerita.

Setiap malam, Mina dan penghuni The Coop berdiri di depan kaca.

Mereka tahu sedang dilihat.

Namun, mereka tidak benar-benar dapat melihat siapa yang mengawasi.

Mereka juga tidak tahu bagaimana perilaku mereka dinilai.

Cermin memperkuat tema tersebut.

Selain menjadi pembatas antara manusia dan Watchers, permukaan reflektif membuat karakter terus berhadapan dengan bayangan diri mereka sendiri.

Proses melihat akhirnya berlangsung dalam beberapa arah.

Watchers melihat manusia.

Manusia mencoba melihat Watchers.

Karakter melihat dirinya sendiri.

Sementara itu, penonton melihat semuanya melalui kamera.

Monster Tidak Langsung Diperlihatkan

Ishana juga memilih tidak buru-buru memperlihatkan wujud Watchers secara utuh.

Alih-alih menjadikan monster sebagai sumber ketakutan sejak awal, film lebih dahulu membangun kehadirannya.

Suara, gerakan di luar ruangan, tatapan karakter, dan ruang kosong memberi cukup petunjuk bahwa ada sesuatu di luar sana.

Namun, penonton tidak langsung mendapat jawabannya.

Pendekatan seperti itu memberi ruang bagi imajinasi.

Sebelum bentuk ancamannya diketahui, setiap sudut gelap bisa menyembunyikan sesuatu.

Setiap suara dapat menjadi peringatan.

Setiap ruang kosong membuat mata bekerja lebih keras.

Ketakutan pun muncul sebelum monster benar-benar terlihat.

Visual Lebih Kuat daripada Cerita?

Meski memiliki konsep visual yang kuat, The Watchers tidak mendapat sambutan yang sepenuhnya positif.

Sejumlah kritikus menilai kekuatan gambarnya tidak selalu diimbangi penceritaan yang sama efektif.

Los Angeles Times, misalnya, menyoroti komposisi visual film yang sangat diperhitungkan. Namun, media tersebut juga menilai cerita terlalu terikat pada mekanisme misteri dan konstruksi visualnya.

Variety juga menyoroti persoalan serupa. Film dianggap mulai kehilangan daya ketika terlalu banyak mitologi dan penjelasan muncul pada bagian akhir.

Kritik tersebut justru menunjukkan bagian paling menarik dari The Watchers.

Film ini mungkin tidak selalu berhasil ketika harus menjelaskan seluruh misterinya. Namun, bahasa visualnya memiliki gagasan yang konsisten.

Ruang kosong membuat mata mencari ancaman.

Cahaya menjadikan manusia sebagai objek pameran.

Cermin membuat aktivitas melihat berlangsung dua arah.

Hutan menawarkan ilusi kebebasan, tetapi tidak memberikan jalan keluar.

Sementara itu, sosok monster ditahan cukup lama agar imajinasi penonton lebih dahulu bekerja.

Pada akhirnya, The Coop bukan sekadar tempat berlindung.

Ia adalah panggung.

Hutan menjadi auditorium gelap di sekelilingnya.

Dan setiap malam, manusia di dalam The Coop harus berdiri di bawah cahaya untuk menjalankan pertunjukan bagi penonton yang tidak bisa mereka lihat.

Editor : Lugas Rumpakaadi
The Watchers Ishana Night Shyamalan Dakota Fanning HBO Max film horor