RADAR BANYUWANGI - Avengers: Doomsday, Supergirl, hingga Wuthering Heights punya satu kesamaan. Film-film besar itu ikut mengalirkan belanja produksi internasional ke Britania Raya.
Daftarnya terus bertambah.
Spider-Man: Brand New Day menggunakan Glasgow sebagai pengganti New York. Produksinya juga berlangsung di Pinewood Studios. Sementara itu, The Batman Part II masuk daftar film investasi internasional yang mulai melakukan pengambilan gambar di Britania Raya pada semester pertama 2026.
Fenomena itu memperlihatkan perubahan peta produksi film global.
Hollywood memang tidak pindah dari Amerika Serikat. Namun, pekerjaan memproduksi film-film beranggaran besar kini semakin tersebar. Britania Raya menjadi salah satu pusat yang paling menonjol.
Data British Film Institute (BFI) menunjukkan, belanja produksi film dan high-end television (HETV) di Britania Raya mencapai GBP 6,8 miliar sepanjang 2025. Angka itu naik 22 persen dibandingkan data awal 2024.
Khusus film panjang, nilai produksinya mencapai GBP 2,77 miliar. Naik 31 persen dan menjadi angka tahunan tertinggi sejak BFI melakukan pencatatan.
Dari jumlah tersebut, GBP 2,51 miliar berasal dari 58 film berstatus inward investment. Yakni, produksi yang sebagian besar pendanaannya berasal dari luar Britania Raya.
Film-film dalam kelompok itu antara lain Wuthering Heights, Supergirl, Avengers: Doomsday, empat film The Beatles garapan Sam Mendes, The Christophers, dan The Thomas Crown Affair.
Kepala Eksekutif BFI Ben Roberts menyebut angka tersebut sebagai bukti kuatnya daya tarik industri film dan televisi Britania Raya terhadap investasi global.
“Angka-angka ini menunjukkan bahwa industri film dan televisi Britania Raya terus mendatangkan investasi dalam jumlah besar ke perekonomian sekaligus menciptakan lapangan kerja,” ujar Roberts dalam laporan resmi BFI yang dirilis 5 Februari 2026.
Namun, ada catatan penting.
Roberts juga mengingatkan bahwa derasnya investasi asing tidak otomatis membuat seluruh industri film lokal berada dalam kondisi sehat. BFI menilai akses terhadap pembiayaan masih menjadi persoalan serius bagi produksi domestik.
Artinya, ada dua cerita yang berjalan bersamaan.
Di satu sisi, Britania Raya menikmati derasnya proyek internasional. Di sisi lain, pembuat film lokal masih menghadapi tantangan mencari modal.
Pajak Bukan Satu-satunya Daya Tarik
Insentif pajak menjadi salah satu alasan studio Hollywood memilih Britania Raya.
Melalui skema Audio-Visual Expenditure Credit (AVEC), film dan program televisi kelas atas yang memenuhi syarat bisa memperoleh kredit pengeluaran sebesar 34 persen.
Untuk biaya visual effects (VFX) tertentu yang dikerjakan di Britania Raya, tarifnya mencapai 39 persen.
Namun, pajak bukan satu-satunya faktor.
Britania Raya telah membangun ekosistem produksi yang lengkap. Mulai studio, kru, perusahaan penyewaan peralatan, efek visual, pascaproduksi, hingga jaringan lokasi syuting.
British Film Commission bahkan menjadikan kelengkapan tersebut sebagai syarat sebuah wilayah bisa ditetapkan sebagai pusat produksi resmi.
Pada Agustus 2026, West Midlands ditetapkan sebagai pusat produksi regional kedelapan di Britania Raya.
Kepala Eksekutif British Film Commission Adrian Wootton mengatakan produser bisa menemukan hampir seluruh kebutuhan produksi dalam jarak yang relatif dekat.
“Di mana pun produksi ditempatkan, fasilitas, kru, dan talenta kelas dunia tersedia dalam jangkauan dekat. Begitu pula akses ke lokasi-lokasi unik serta insentif pajak yang stabil,” ujar Wootton.
Jaringan produksi itu kini tersebar dari London dan Inggris Tenggara hingga Bristol, Manchester, Liverpool, Leeds, Belfast, Glasgow, Edinburgh, Cardiff, dan Birmingham.
Tenaga kerja juga menjadi perhatian.
Pada Mei 2026, BFI mengumumkan pendanaan GBP 11,85 juta untuk pengembangan keterampilan dan pelatihan selama tiga tahun.
Program tersebut diarahkan ke sejumlah pusat produksi utama di Britania Raya.
Tujuannya jelas. Ketika proyek internasional terus berdatangan, industri harus memastikan jumlah kru terampil tetap mencukupi.
Netflix dan Amazon Pasang Kaki
Daya tarik Britania Raya juga terlihat dari investasi studio global pada infrastruktur.
Salah satu contohnya Shepperton Studios di Surrey.
Setelah ekspansi, kompleks itu memiliki 31 sound stage. Sebanyak 17 panggung baru ditambahkan bersama sekitar 548 ribu kaki persegi ruang produksi dan bengkel.
Luas keseluruhan kompleks mencapai sekitar 1,5 juta kaki persegi.
Amazon MGM Studios mengambil sembilan panggung baru. Netflix menyewa delapan panggung tambahan di luar 14 panggung yang sebelumnya sudah digunakan.
Bagi Netflix, Britania Raya bukan sekadar lokasi tambahan.
“Britania Raya adalah pusat produksi terpenting kami di luar Amerika Utara,” kata Wakil Presiden Produksi Netflix untuk EMEA dan Britania Raya Anna Mallett.
Menurut Pinewood Group, Netflix telah menginvestasikan lebih dari USD 6 miliar di Britania Raya sejak 2020 ketika pernyataan itu disampaikan.
Produksi seperti Sex Education, The Crown, dan Bridgerton menjadi bagian dari investasi tersebut.
Investasi jangka panjang seperti itu penting.
Sebab, studio global tidak lagi sekadar datang untuk satu proyek. Mereka menanamkan modal dan mengamankan kapasitas produksi untuk beberapa tahun sekaligus.
Ketika fasilitas sudah tersedia, keputusan untuk membawa proyek berikutnya menjadi lebih mudah.
Glasgow Bisa Menjadi New York
Britania Raya juga punya keunggulan lain: lokasi yang fleksibel.
Hal itu terlihat ketika Spider-Man: Brand New Day melakukan pengambilan gambar di Glasgow pada 2025.
Sejumlah jalan di pusat kota berubah wajah. Taksi kuning, kendaraan polisi New York, bendera Amerika Serikat, dan berbagai elemen lain dipasang.
Glasgow pun berubah menjadi New York.
Produksi film tersebut juga menggunakan Pinewood Studios di Buckinghamshire.
Kota di Skotlandia itu bukan pertama kali menjadi pengganti kota Amerika.
Glasgow sebelumnya digunakan dalam produksi The Batman untuk menggambarkan bagian dari Gotham.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa lokasi cerita tidak selalu sama dengan lokasi produksi.
Adegan luar ruang bisa diambil di Glasgow. Interior dikerjakan di studio. Efek visual diselesaikan di London atau kota lain.
Seluruhnya bisa berada dalam satu ekosistem produksi.
Pada semester pertama 2026, The Batman Part II juga masuk dalam daftar film investasi internasional yang mulai melakukan pengambilan gambar utama di Britania Raya.
Film lain dalam kelompok tersebut antara lain Elden Ring, Hello & Paris, dan Highlander.
Eropa Ikut Berburu Hollywood
Namun, Britania Raya tidak sendirian.
Negara-negara Eropa lain juga berlomba menarik proyek internasional dengan kombinasi insentif pajak, studio, tenaga kerja, dan subsidi.
Spanyol, misalnya, menawarkan potongan pajak nasional hingga 30 persen bagi produksi film dan audiovisual asing yang memenuhi syarat.
Sejumlah wilayah menawarkan skema yang lebih tinggi. Kepulauan Canary memiliki insentif hingga 50 persen. Navarra menawarkan kredit pajak hingga 35 persen.
Hungaria juga agresif.
Negara itu menawarkan potongan hingga 30 persen atas pengeluaran produksi yang memenuhi syarat. Skemanya telah diperpanjang hingga akhir 2030.
National Film Institute Hungary menyebut insentif tersebut sebagai salah satu motor utama industri film di negara itu.
Belanja produksi film langsung di Hungaria pernah mencapai sekitar USD 910 juta per tahun ketika perpanjangan program diumumkan pada 2024.
Sejumlah produksi internasional besar pernah bekerja di sana. Di antaranya Alien: Romulus, Dune: Prophecy, The Brutalist, dan Maria.
Jerman juga menambah amunisi.
Pemerintah federal menyediakan EUR 250 juta untuk pendanaan ekonomi sektor film pada 2026. Nilainya hampir dua kali lipat dibandingkan sebelumnya.
Tingkat dukungan terhadap biaya produksi juga dinaikkan menjadi 30 persen.
“Kebijakan pendanaan film federal bekerja. Kami berinvestasi pada masa depan Jerman sebagai lokasi produksi film,” ujar Menteri Negara untuk Kebudayaan dan Media Jerman Wolfram Weimer pada Agustus 2026.
Persentase insentif antarnegara memang tidak bisa dibandingkan mentah-mentah.
Setiap skema punya aturan berbeda. Mulai batas biaya, jenis pengeluaran yang bisa diklaim, persyaratan budaya, hingga mekanisme pencairan.
Tetapi arahnya sama.
Produksi film internasional kini dipandang sebagai investasi ekonomi yang layak diperebutkan.
Rekor 2025, Lalu Melambat
Pertanyaan berikutnya adalah apakah Britania Raya mampu mempertahankan momentum.
Data semester pertama 2026 memberi sinyal yang lebih beragam.
BFI mencatat 73 film mulai melakukan pengambilan gambar di Britania Raya sepanjang Januari–Juni 2026.
Belanja produksinya mencapai sekitar GBP 1,03 miliar.
Jumlah produksinya bertambah dibandingkan periode yang sama pada 2025. Namun, nilai belanjanya turun sekitar 6 persen.
Sebanyak 26 film investasi internasional menyumbang sekitar GBP 905 juta. Nilainya setara dengan 88 persen dari seluruh belanja produksi film pada periode tersebut.
Produksi domestik menyumbang GBP 75 juta. Sementara itu, produksi bersama atau co-production mencapai sekitar GBP 47 juta.
Namun, jika dihitung untuk periode 12 bulan hingga Juni 2026, gambarnya berbeda.
Belanja produksi film mencapai sekitar GBP 2,7 miliar. Naik 11 persen dibandingkan periode 12 bulan sebelumnya.
Investasi internasional menyumbang sekitar GBP 2,4 miliar atau 89 persen.
Artinya, posisi Britania Raya masih kuat. Tetapi, belanja produksi tidak selalu tumbuh lurus dari satu semester ke semester berikutnya.
Financial Times pada 14 September 2026 menyoroti fenomena yang sama.
Media tersebut mempertanyakan apakah para “pahlawan super Amerika” yang kini banyak diproduksi di Britania Raya akan terus bertahan di sana.
Pertanyaan itu relevan.
Sebab, proyek film bisa berpindah relatif cepat jika negara lain menawarkan paket yang lebih menarik.
Los Angeles Berusaha Membawa Produksi Pulang
Persaingan tidak hanya datang dari Eropa.
California juga berusaha membawa kembali produksi ke pusat tradisional Hollywood.
FilmLA mencatat aktivitas produksi di lokasi luar studio di Greater Los Angeles mencapai 4.711 hari pengambilan gambar pada kuartal II 2026.
Angka itu turun 12,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Khusus film panjang, aktivitasnya turun 19,9 persen menjadi 443 hari pengambilan gambar.
Sekitar 33 persen dari hari pengambilan gambar film panjang pada periode tersebut berasal dari proyek yang memperoleh insentif negara bagian.
Data FilmLA hanya mengukur aktivitas di lokasi luar studio dalam wilayah yang dilayaninya. Karena itu, angka tersebut tidak menggambarkan keseluruhan produksi Hollywood.
Namun, tekanannya terlihat.
Kepala Eksekutif FilmLA Denise Gutches menyebut insentif produksi sebagai salah satu cara untuk menghidupkan kembali aktivitas film di kawasan tersebut.
“Menarik produksi seperti ini merupakan langkah penting untuk membawa kembali kegiatan syuting ke kawasan tersebut, memulihkan lapangan kerja, dan memperkuat ekonomi produksi lokal,” ujar Gutches.
Situasi itu menunjukkan satu hal.
Perang insentif produksi sudah menjadi kompetisi global.
Britania Raya berusaha mempertahankan proyek. Jerman, Spanyol, dan Hungaria mengejar proyek baru. California berusaha menarik produksi kembali.
Hollywood Tidak Pindah
Fenomena tersebut belum menunjukkan Hollywood pindah dari Amerika Serikat ke Britania Raya.
Studio-studio Amerika tetap memiliki pusat pengembangan proyek, pendanaan, manajemen, distribusi, dan fasilitas produksi besar di negaranya.
Yang berubah adalah lokasi tempat sebagian pekerjaan produksi dilakukan.
Sebuah film bisa dikembangkan dan dibiayai studio Amerika. Set dibangun di Shepperton atau Pinewood. Adegan luar ruang diambil di Glasgow. Kru berasal dari Britania Raya. Efek visual dikerjakan di London. Pekerjaan lain bisa diselesaikan di negara berbeda.
Dalam sistem seperti itu, yang diperebutkan bukan identitas Hollywood.
Yang diperebutkan adalah miliaran dolar atau poundsterling dalam belanja produksi, lapangan kerja, investasi studio, serta bisnis turunannya.
Britania Raya sejauh ini berhasil mengambil posisi penting.
Rekor belanja produksi film sebesar GBP 2,77 miliar pada 2025 menjadi salah satu buktinya. Sebanyak GBP 2,51 miliar berasal dari investasi internasional.
Tetapi, keberhasilan itu tidak otomatis bertahan.
Produser akan terus membandingkan insentif, nilai tukar, harga studio, ketersediaan kru, biaya tenaga kerja, fasilitas VFX, logistik, hingga kepastian regulasi.
Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan apakah Hollywood sedang pindah ke Britania Raya.
Pertanyaannya, sampai kapan Britania Raya mampu membuat Hollywood tetap memilihnya?
Editor : Lugas Rumpakaadi