RADAR BANYUWANGI - Jakarta Film Week (JFW) 2026 makin mempertegas posisinya sebagai ruang pertemuan sineas Indonesia dengan jaringan perfilman internasional. Tahun ini, festival tersebut menerima lebih dari 1.200 film dari 82 negara.
JFW 2026 akan berlangsung pada 21–25 Oktober 2026. Memasuki tahun keenam, festival itu tidak hanya mengandalkan program pemutaran. Sejumlah program industri disiapkan untuk mempertemukan sineas dengan produser, pengelola festival, hingga pelaku industri dari berbagai negara.
Data Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatat, selain lebih dari 1.200 film, JFW tahun ini menerima 180 proposal.
Jumlah film yang masuk meningkat dibandingkan penyelenggaraan 2025 yang mencapai 1.154 film. Namun, jumlah negara asal peserta turun. Tahun lalu film yang masuk berasal dari 99 negara, sedangkan tahun ini dari 82 negara.
Mengangkat tema “Encounters”, JFW 2026 menempatkan pertemuan sebagai gagasan utama. Bukan hanya pertemuan antara film dan penonton, melainkan juga antara talenta baru, pelaku industri, dan jaringan perfilman internasional.
Festival Director Jakarta Film Week 2026 Rina Damayanti mengatakan, fungsi festival tidak berhenti ketika film selesai diputar.
“Festival ini bukan hanya soal menayangkan film. Ini tentang mempertemukan orang-orang di baliknya, menemukan talenta baru, dan memperkuat ekosistem perfilman di Indonesia. ‘Encounters’ merupakan perwujudan dari titik temu itu,” ujar Rina dalam konferensi pers JFW 2026 di CGV Grand Indonesia, Jakarta, Rabu (23/9).
JFW 2026 akan berlangsung di sejumlah lokasi. Di antaranya, CGV Grand Indonesia, Galeri Indonesia Kaya, Taman Ismail Marzuki, Mercure Jakarta Cikini, Paviliun Raden Saleh ARTOTEL, CGV FX Sudirman, dan FX Sudirman.
JFW juga membawa film ke luar ruang pemutaran konvensional melalui JFW360. Sebanyak 24 film pendek dapat diakses melalui Vidio hingga 20 Oktober 2026.
Bukan Sekadar Tempat Menonton Film
Salah satu program utama JFW adalah JFWNET–Industry Program. Di dalamnya terdapat Producers Lab, Pitching Forum, Talents Hub, Industry Talk, dan Festival Meeting.
Tahun ini Producers Lab diikuti sepuluh produser baru yang berasal dari Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Kalimantan.
Program itu dirancang untuk memperkuat kemampuan produser dalam manajemen produksi, pendanaan, hingga distribusi film. Peserta juga dipertemukan dengan mentor dan jaringan yang memiliki pengalaman dalam produksi serta koproduksi internasional.
Sementara itu, Talents Hub menghubungkan peserta Indonesia dengan jejaring festival dan program film dari sejumlah negara, termasuk Singapura, Filipina, dan Vietnam. Pitching Forum menjadi ruang bagi proyek film Indonesia untuk mencari peluang dukungan dan kolaborasi.
Head of Industry Jakarta Film Week 2026 Gayatri Nadya menyebut JFWNET tidak dirancang sebagai program yang berhenti setelah festival selesai.
“JFWNET–Industry Program berupaya membuka pintu bagi sineas muda. Kami ingin menjadi tempat bagi mereka untuk bertumbuh, terhubung dengan mitra internasional, dan melangkah lebih jauh,” kata Gayatri.
Jejak program itu mulai terlihat.
JFW mencatat alumnus Producers Lab Fadhilla Ristianty pernah mengikuti New Producers Room di Short Film Corner, Marché du Film–Festival de Cannes. Alumnus lainnya, Giovanni Rahmadeva, mengikuti European Film Market Toolbox Programme di Berlinale.
Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI Ahmad Mahendra menilai JFW telah mengambil posisi sebagai salah satu penghubung sineas Indonesia dengan jaringan yang lebih luas.
“JFW berperan sebagai hub sekaligus trajectory untuk pengembangan kapasitas para sineas. JFW juga semakin terhubung dengan berbagai festival internasional,” ujarnya.
Alumni JFW Tembus Cannes
Salah satu contoh paling konkret datang dari Annisa Adjam dan Bagus Suitrawan. Keduanya merupakan alumni Producers Lab JFW yang terlibat dalam film Vaterland or A Bule Named Yanto.
Annisa menjadi produser bersama dalam film tersebut. Sementara itu, Bagus terlibat sebagai line producer.
Film karya Berthold Wahjudi itu kemudian masuk kompetisi film pendek La Semaine de la Critique atau Cannes Critics’ Week 2026.
Hasilnya tidak berhenti pada seleksi. Vaterland meraih CANAL+ Award.
Situs resmi Cannes Critics’ Week mencatat film tersebut sebagai produksi Jerman–Indonesia. Aftersun Creative, rumah produksi milik Annisa, menjadi salah satu perusahaan yang terlibat dalam koproduksi.
Annisa menyebut sambutan penonton Cannes menjadi pengalaman penting bagi tim film tersebut.
“Mendapatkan sambutan yang sangat baik dari penonton Cannes menjadi pengalaman yang sangat berarti bagi kami,” ujar Annisa.
Vaterland berkisah tentang Yanto, pemuda berdarah Jerman-Indonesia yang mengunjungi adiknya di Yogyakarta. Pertemuan itu berkembang menjadi perjalanan mengenai identitas, rasa memiliki, dan keterasingan di antara dua budaya.
Perjalanan Vaterland menunjukkan bahwa keterhubungan internasional sebuah festival tidak cukup diukur dari banyaknya negara yang mengirim film.
Ukuran lainnya adalah sejauh mana sineas dan proyek yang pernah tumbuh dalam ekosistem festival mampu memperoleh akses ke forum, pasar, dan festival lain.
Ah Girl dari Rotterdam ke Jakarta
Koneksi antarfestival juga terlihat dari film pembuka JFW 2026.
Ah Girl karya sutradara Singapura Ang Geck Geck Priscilla dipilih untuk membuka festival. Sebelum diputar di Jakarta, film tersebut telah menjalani perjalanan di sejumlah festival internasional.
Ah Girl melakukan pemutaran perdana dunia melalui program Bright Future di International Film Festival Rotterdam (IFFR) 2026.
Film itu kemudian memenangkan IFFR Youth Jury Award. Setelah Rotterdam, Ah Girl dibawa ke Toronto International Film Festival (TIFF) 2026 untuk menjalani pemutaran perdana di Amerika Utara.
Kepada IFFR, Ang menyebut penghargaan tersebut membuatnya melihat kemungkinan film itu menjangkau kelompok penonton yang lebih luas.
“Penghargaan Youth Jury membuat saya sadar bahwa film ini bisa menjangkau penonton yang lebih luas,” kata Ang.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah film dapat berpindah dari satu festival ke festival lainnya. Setiap festival membuka kemungkinan bertemu penonton baru sekaligus memperpanjang usia edar sebuah karya.
Berbeda dengan Ah Girl yang menjadi pembuka, JFW 2026 akan ditutup dengan Laut Bercerita karya Yosep Anggi Noen.
Film yang diadaptasi dari novel karya Leila S. Chudori tersebut dijadwalkan menjalani pemutaran perdana di Indonesia pada JFW 2026.
Four Seasons in Java Libatkan Tujuh Negara
Jejak kerja lintas negara juga terlihat pada Four Seasons in Java atau Empat Musim Pertiwi karya Kamila Andini.
IFFR mencatat film tersebut sebagai koproduksi tujuh negara: Indonesia, Prancis, Belanda, Norwegia, Polandia, Arab Saudi, dan Singapura.
Sebelum masuk Global Feature Official Selection JFW 2026, film tersebut telah menjalani pemutaran perdana dunia dalam program Centrepiece Toronto International Film Festival pada September 2026.
Perjalanan internasional proyek itu bahkan dimulai jauh sebelum film selesai diproduksi.
Four Seasons in Java memperoleh dukungan pengembangan dari Hubert Bals Fund. Proyek tersebut juga mendapat dukungan koproduksi dan pascaproduksi serta pernah dipresentasikan di CineMart.
Proses itu memperlihatkan bagaimana jaringan internasional bekerja dalam industri film.
Sebuah film tidak selalu bergerak langsung dari ruang produksi ke festival dunia. Ada proses pengembangan proyek, pencarian pendanaan, koproduksi, pasar film, hingga pertemuan dengan programmer dan institusi dari berbagai negara.
Delapan Film Lahir dari Jakarta Film Fund
Di tingkat lokal, JFW tetap menjalankan Jakarta Film Fund sebagai jalur pengembangan pembuat film baru.
Pada 2026, program tersebut menghasilkan delapan film pendek berlatar Jakarta. Tiga di antaranya berasal dari Jakarta Film Fund for Student melalui kolaborasi dengan J-Youth Film Festival.
Program Manager Jakarta Film Week 2026 Novi Hanabi mengatakan, jumlah tersebut menjadi capaian baru dalam program pengembangan talenta lokal.
“Untuk pertama kalinya, kita akan menyaksikan delapan film pendek berlatar Jakarta melalui Jakarta Film Fund,” ujar Novi.
JFW 2026 juga memperluas pengalaman penonton melalui JFW Vision. Program baru itu memanfaatkan teknologi realitas virtual atau virtual reality (VR).
Selain itu, Sinema Warga membawa film pilihan ke sejumlah ruang publik. Di antaranya, Taman Bendera Pusaka, Taman Ismail Marzuki, dan Jaksinema di Pasar Rumput.
Perluasan akses tersebut sejalan dengan gagasan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengembangkan Jakarta sebagai kota sinema.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengatakan, festival merupakan salah satu bagian dari upaya tersebut. Namun, festival saja tidak cukup.
“Ini adalah impian awal saya saat menjadi wakil gubernur, menjadikan Jakarta sebagai kota sinema,” kata Rano dalam konferensi pers JFW 2026.
Menurut dia, akses masyarakat terhadap film juga perlu diperluas melalui bioskop dan ruang apresiasi film di berbagai wilayah.
Tidak Ada Tiket Otomatis ke Festival Dunia
Lebih dari 1.200 film dari 82 negara membuat JFW 2026 memiliki skala internasional. Namun, jumlah film dan negara bukan satu-satunya ukuran dampak sebuah festival.
Pertanyaan berikutnya justru lebih penting, apa yang terjadi setelah para sineas bertemu?
Apakah sebuah proyek mendapatkan produser atau mitra baru? Apakah sineas memperoleh akses ke laboratorium dan pasar film lain? Apakah film menemukan jalur distribusi baru?
Rekam jejak alumni JFW menuju Marché du Film dan Berlinale, keberhasilan Vaterland di Cannes Critics’ Week, serta perjalanan Ah Girl dan Four Seasons in Java memberikan gambaran bahwa koneksi tersebut mulai memiliki hasil yang dapat ditelusuri.
JFW memang bukan tiket otomatis menuju Cannes, Rotterdam, Toronto, maupun festival internasional lainnya.
Namun, festival dapat menjadi salah satu titik awal.
Di sanalah proyek bertemu mitra, sineas mendapatkan jaringan, dan film memperoleh kemungkinan untuk melanjutkan perjalanan.
Ketika pertemuan itu berkembang menjadi pengembangan proyek, koproduksi, akses pasar, hingga perjalanan ke berbagai negara, peran sebuah festival tak lagi hanya diukur dari apa yang terjadi di dalam ruang pemutaran.
Editor : Lugas Rumpakaadi