Primetime Dapat Ovasi 9 Menit di Venice, Chris Hansen Menyebutnya Penghinaan

Khanza Tania Amelia Setiawan • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 19:12 WIB
Dari festival ke ruang keluarga, respons terhadap film tak selalu sama. (ChatGPT)
Dari festival ke ruang keluarga, respons terhadap film tak selalu sama. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Primetime mendapat sambutan meriah saat diputar di Festival Film Venice. Namun, Chris Hansen, jurnalis yang kisah dan pekerjaannya menjadi inspirasi film tersebut, justru menyebutnya sebagai ”penghinaan”.

Komentar itu disampaikan Hansen meski saat itu dia belum menonton film secara utuh.

Perbedaan respons tersebut muncul menjelang perilisan Primetime di bioskop Amerika Serikat pada 25 September 2026. A24 selaku distributor telah mencantumkan tanggal tersebut sebagai jadwal rilis resmi.

Film garapan Lance Oppenheim itu mengangkat periode ketika To Catch a Predator, segmen investigasi Dateline NBC yang dipandu Hansen, berada di puncak popularitas pada pertengahan 2000-an.

Robert Pattinson memerankan Hansen. Dia juga terlibat sebagai produser.

Primetime masuk kompetisi utama Festival Film Venice ke-83 dan diputar untuk publik pada 5 September. Associated Press melaporkan, pemutaran tersebut ditutup dengan ovasi berdiri selama sembilan menit.

Sambutan hangat di Venice itu berbanding terbalik dengan sikap Hansen terhadap film yang menggunakan nama dan pekerjaannya sebagai dasar cerita.

Pattinson Berharap Hansen Menyukainya

Keberatan Hansen sudah menjadi pembicaraan ketika Pattinson dan Oppenheim menghadiri konferensi pers di Venice.

Saat ditanya mengenai sikap Hansen terhadap Primetime, Pattinson memilih memberikan respons singkat.

”Tentu saja, saya berharap dia menyukai film ini,” kata Pattinson.

Pattinson mengatakan, ketertarikannya terhadap karakter Hansen semakin besar setelah mempelajari lebih banyak episode To Catch a Predator.

”Semakin banyak Anda menonton acaranya, ada sesuatu yang magnetis dari kehadirannya,” ujarnya.

Menurut Pattinson, daya tarik itu menjadi salah satu alasan sosok Hansen dan To Catch a Predator masih dibicarakan sekitar dua dekade setelah program tersebut mencapai puncak popularitas.

Pattinson awalnya bergabung dalam proyek itu sebagai produser. Seiring pengembangan film, dia semakin tertarik pada karakter Hansen dan akhirnya memutuskan untuk memerankannya sendiri.

Soroti Batas Jurnalisme dan Hiburan

Primetime menjadi debut Oppenheim dalam film cerita panjang. Sebelumnya, dia lebih dikenal melalui karya dokumenter.

Dalam pernyataan resmi yang dimuat La Biennale di Venezia, Oppenheim mengatakan bahwa To Catch a Predator meninggalkan kesan kuat baginya sejak masih muda.

Dia melihat program itu bukan hanya sebagai produk jurnalistik, tetapi juga sebagai tontonan televisi yang dibangun dari kemarahan publik.

Oppenheim menggambarkan Hansen sebagai sosok yang ”memelopori tontonan tentang penghukuman, ketika kemarahan moral berubah menjadi tayangan yang wajib ditonton”.

Hal itulah yang kemudian menjadi salah satu titik berangkat Primetime.

Oppenheim tertarik pada cara To Catch a Predator mencampurkan peristiwa nyata dengan konstruksi televisi. Orang-orang yang menjadi target operasi memang melakukan tindakan nyata. Namun, mereka kemudian masuk ke lingkungan yang sudah disiapkan untuk kebutuhan produksi televisi, lengkap dengan kamera tersembunyi, aktor, dan Hansen sebagai pembawa acara.

Karena itu, Primetime tidak hanya berfokus pada Hansen sebagai individu. Film tersebut juga menyoroti sistem produksi televisi dan tekanan popularitas terhadap orang-orang yang berada di dalamnya.

Film yang ditulis Ajon Singh itu juga mengambil inspirasi dari artikel Esquire karya Luke Dittrich berjudul Tonight on Dateline This Man Will Die.

Tulisan tersebut membahas operasi pada 2006 yang melibatkan Bill Conradt, seorang jaksa di Texas. Conradt meninggal karena bunuh diri ketika polisi mendatangi rumahnya, sementara kru televisi berada di luar.

Hansen Belum Menonton Filmnya

Hansen tidak terlibat dalam produksi Primetime.

Sebelum pemutaran perdana di Venice, dia sebenarnya sempat mendapat kesempatan menonton film tersebut. Namun, Hansen menolak menandatangani perjanjian kerahasiaan atau NDA yang menjadi syarat sebelum pemutaran.

Dalam wawancara dengan The Hollywood Reporter pada 9 September, Hansen menegaskan bahwa dirinya belum menonton Primetime secara utuh.

Dia mengaku bersedia menjaga kerahasiaan alur cerita. Namun, dia keberatan dengan cakupan perjanjian yang diminta.

Karena itu, kritik Hansen ketika itu didasarkan pada trailer, materi promosi, serta pemberitaan mengenai film tersebut.

Hansen kemudian menyebut Primetime sebagai ”sebuah penghinaan”.

Dia menilai film tersebut membuat pekerjaan orang-orang yang terlibat dalam perlindungan anak dari predator seksual terlihat jauh lebih gelap dan dramatis daripada kenyataan.

Hansen juga mempersoalkan keputusan pembuat film yang tidak melibatkannya dalam pengembangan cerita, padahal karakter utama menggunakan nama Chris Hansen.

Meski demikian, Hansen memisahkan kritik terhadap film dari pandangannya mengenai Pattinson.

Dia menyebut Pattinson sebagai aktor yang baik dan menegaskan tidak memiliki persoalan pribadi dengan bintang The Batman tersebut.

Pasang Iklan Sebelum Primetime

Perselisihan Hansen dengan film tersebut kemudian berlanjut ke langkah promosi yang tidak biasa.

Perusahaan milik Hansen membeli slot iklan yang ditayangkan sebelum pemutaran Primetime di sejumlah bioskop.

Iklan itu mempromosikan TruBlu, layanan streaming kriminal nyata milik Hansen. Di platform tersebut, dia melanjutkan operasi penyamaran melalui program Takedown.

Kepada Los Angeles Times, Hansen menjelaskan alasan di balik langkah itu.

”Mengapa tidak mengarahkan orang untuk melihat apa yang sebenarnya sedang dilakukan Chris Hansen?” katanya.

Menurut Hansen, penonton yang menyaksikan film dengan nama dan citranya juga perlu mengetahui pekerjaan yang masih dia lakukan saat ini.

Langkah tersebut secara tidak langsung mempertegas jarak antara Chris Hansen sebagai tokoh nyata dan Hansen versi Primetime.

Kritikus Tak Sepenuhnya Sepakat

Respons kritikus terhadap Primetime sejauh ini cenderung positif. Namun, penilaiannya tidak sepenuhnya seragam.

Menjelang perilisan luas di Amerika Serikat, film tersebut mencatat persentase ulasan positif yang tinggi di Rotten Tomatoes. Angka itu masih dapat berubah seiring bertambahnya ulasan setelah film beredar lebih luas.

Penampilan Pattinson menjadi salah satu unsur yang paling banyak mendapat apresiasi.

Namun, kritik terhadap pendekatan visual dan gagasan film lebih beragam.

Peter Bradshaw dari The Guardian, misalnya, menilai Primetime belum sepenuhnya memiliki arah yang jelas dalam membicarakan hubungan media dan moralitas.

Menurut dia, film tersebut ”tidak benar-benar yakin apa yang ingin dikatakannya tentang media atau moralitas”.

Di sisi lain, sejumlah kritikus menilai pendekatan Oppenheim berhasil mengubah dunia To Catch a Predator menjadi satir mengenai industri media. Gaya visual yang gelap juga dinilai sesuai dengan persoalan eksploitasi yang menjadi pusat cerita.

Perbedaan penilaian tersebut menunjukkan bahwa ovasi panjang di festival bukan satu-satunya ukuran penerimaan sebuah film.

Ovasi Venice Bukan Akhir

Respons penonton Venice dan keberatan Hansen lahir dari sudut pandang yang berbeda.

Penonton festival dan kritikus menilai Primetime sebagai karya sinema. Mereka melihat penampilan Pattinson, penyutradaraan Oppenheim, pendekatan visual, serta gagasan yang ingin disampaikan film.

Hansen berada pada posisi berbeda. Nama, pekerjaan, dan salah satu periode penting dalam kariernya dijadikan bahan dramatisasi tanpa keterlibatannya dalam produksi.

Perbedaan itu justru berdekatan dengan persoalan yang ingin dibicarakan Primetime, apa yang terjadi ketika orang dan peristiwa nyata diubah menjadi tontonan.

Karena itu, ovasi sembilan menit di Venice belum menjadi kesimpulan akhir mengenai penerimaan Primetime.

Setelah dirilis di bioskop Amerika Serikat pada 25 September, film tersebut akan bertemu penonton yang lebih luas. Termasuk mereka yang mengenal To Catch a Predator ketika program tersebut masih menjadi fenomena televisi.

Primetime akan berhadapan dengan pertanyaan yang juga diajukannya sendiri, apakah film itu berhasil mengkritik cara media mengubah kenyataan menjadi hiburan, atau justru dinilai melakukan hal serupa terhadap Chris Hansen dan kisah yang hendak dibedahnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Robert Pattinson Primetime Chris Hansen Festival Film Venice To Catch a Predator