Tujuh Tahun Berlalu, Marvel Kembali ke Avengers: Endgame untuk Menyambut Doomsday

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 14:30 WIB
Teaser Avengers: Doomsday resmi dirilis.
Teaser Avengers: Doomsday resmi dirilis.

RADAR BANYUWANGI – Marvel Studios kembali membuka pintu masa lalu. Avengers: Endgame (2019) diputar ulang di bioskop mulai 25 September 2026 dengan materi baru, adegan pascakredit, dan cuplikan eksklusif Avengers: Doomsday. Langkah ini bukan sekadar nostalgia: Marvel sedang menghubungkan kembali film yang menutup Infinity Saga dengan babak besar MCU berikutnya. 

Ada alasan kuat mengapa Endgame yang dipilih.

Film garapan Anthony dan Joe Russo itu merupakan titik kulminasi perjalanan MCU selama lebih dari satu dekade. Ketika dirilis pada 2019, Endgame menjadi penutup dari rangkaian 23 film yang membangun kisah Infinity Saga, sekaligus salah satu film dengan dampak budaya dan komersial terbesar dalam sejarah Marvel.

Tujuh tahun kemudian, film tersebut kembali ke layar lebar.

Bedanya, kali ini penonton tidak hanya diajak mengulang perjalanan Iron Man, Captain America, Thor, Hulk, Black Widow, dan kawan-kawan. Marvel menyisipkan materi baru yang sengaja diarahkan menuju Avengers: Doomsday, film berikutnya yang dijadwalkan tayang pada 18 Desember 2026. 

Bukan Sekadar Re-Release

Marvel telah mengonfirmasi bahwa Avengers: Endgame Encore membawa footage baru, pengantar khusus, adegan pascakredit baru, serta exclusive look untuk Avengers: Doomsday. Versi tersebut juga diputar pada layar IMAX dan Infinity Vision. 

Keputusan menambahkan materi baru membuat Encore berbeda dari pemutaran ulang biasa.

Pada 2019, Endgame sudah memiliki posisi sebagai film penutup sebuah era. Kini, materi tambahannya berfungsi sebagai pintu menuju era berikutnya.

Dengan kata lain, Marvel menggunakan film lama untuk memperkenalkan konteks bagi film baru.

Langkah tersebut juga memiliki nilai emosional. Penonton kembali melihat karakter dan dinamika yang telah menjadi fondasi MCU sebelum diperkenalkan pada ancaman baru yang dibawa Doctor Doom.

Dari Infinity Saga ke Multiverse Saga

Perjalanan MCU setelah Endgame bergerak ke arah berbeda.

Marvel memasuki Multiverse Saga, dengan cerita yang melibatkan realitas alternatif, perjalanan waktu, varian karakter, serta keterhubungan antara film dan serial.

Loki, Doctor Strange, Spider-Man, Wanda Maximoff, hingga karakter-karakter baru kemudian menjadi bagian dari cerita yang semakin melebar.

Secara konsep, multiverse memberikan ruang cerita yang nyaris tidak terbatas.

Namun, semakin luas sebuah semesta, semakin besar pula tantangan untuk membuat penonton tetap mengikuti semuanya.

Inilah salah satu perbedaan mendasar antara Infinity Saga dan fase setelahnya.

Pada era Infinity Saga, benang merah menuju Thanos dibangun secara bertahap selama bertahun-tahun. Setiap film memang memiliki cerita sendiri, tetapi sejumlah karakter dan peristiwa terus bergerak menuju satu konflik besar.

Multiverse Saga memiliki struktur yang lebih terfragmentasi.

Ada film. Ada serial Disney+. Ada karakter baru. Ada realitas alternatif. Ada varian karakter yang berasal dari semesta berbeda.

Bagi sebagian penonton, keluasan tersebut menjadi daya tarik. Namun, sebagian penggemar juga mengeluhkan banyaknya materi yang harus diikuti untuk memahami perkembangan cerita secara utuh.

Endgame Jadi Titik Referensi

Di sinilah arti penting Endgame Encore mulai terlihat.

Marvel tidak memilih sembarang film untuk diputar kembali. Mereka memilih film yang menjadi titik emosional paling kuat dalam perjalanan MCU.

Endgame adalah film ketika perjalanan sejumlah karakter utama berakhir sekaligus. Tony Stark membuat pengorbanan terakhir. Steve Rogers menyerahkan perisai Captain America. Natasha Romanoff mengorbankan diri. Thor memasuki fase kehidupan baru.

Film tersebut juga menjadi titik ketika MCU kehilangan sejumlah figur utama yang selama bertahun-tahun menjadi wajah waralaba.

Kembalinya Endgame ke bioskop membuat semua memori tersebut kembali aktif tepat ketika Marvel sedang mempersiapkan Doomsday.

Dan Doomsday sendiri membawa sejumlah wajah lama kembali.

Robert Downey Jr. kembali ke MCU, tetapi bukan sebagai Tony Stark. Dia memerankan Victor von Doom alias Doctor Doom. Chris Evans juga kembali sebagai Steve Rogers, sementara Chris Hemsworth, Tom Hiddleston, Paul Rudd, dan sejumlah nama dari berbagai era MCU turut masuk dalam jajaran pemeran. 

Bahkan karakter dari lini X-Men dan Fantastic Four ikut memperlebar cakupan cerita Doomsday.

Semesta Marvel kembali menjadi besar.

Nostalgia sebagai Jembatan

Karena itu, nostalgia menjadi salah satu elemen penting dalam strategi Endgame Encore.

Tetapi menyebut langkah tersebut sebagai "pengakuan Marvel atas kegagalan Multiverse Saga" terlalu jauh jika tidak didukung pernyataan resmi dari Marvel.

Yang dapat dipastikan adalah Marvel kembali menggunakan salah satu aset naratif paling kuat yang mereka miliki untuk mengantar penonton menuju cerita baru.

Ada perbedaan antara mengakui kegagalan dan menggunakan kembali sesuatu yang terbukti memiliki daya tarik kuat.

Marvel secara resmi tidak menyatakan bahwa Endgame Encore merupakan respons terhadap kegagalan Multiverse Saga. Yang mereka umumkan justru adalah materi baru dan keterkaitannya dengan Doomsday. 

Karena itu, makna strategis Encore lebih aman dibaca sebagai upaya memperkuat jembatan antara masa lalu dan masa depan MCU.

Ketika Doom Mengambil Alih Panggung

Ada satu perubahan besar yang membuat jembatan tersebut semakin menarik.

Robert Downey Jr., aktor yang selama lebih dari satu dekade identik dengan Tony Stark, kini kembali sebagai Doctor Doom.

Ini bukan sekadar pergantian karakter.

Tony Stark merupakan salah satu wajah utama Infinity Saga. Doctor Doom justru ditempatkan sebagai ancaman utama dalam babak baru.

Dengan demikian, Marvel mempertemukan simbol dari masa lalu dengan figur sentral masa depan.

Endgame Encore berada tepat di antara keduanya.

Penonton datang untuk mengingat bagaimana saga lama berakhir. Beberapa menit kemudian, materi baru mengarahkan mereka kepada cerita yang akan menentukan masa depan MCU.

Bukan Berarti Multiverse Ditinggalkan

Menariknya, kembali ke Endgame tidak otomatis berarti Marvel meninggalkan konsep multiverse.

Justru Doomsday dibangun dengan skala yang lebih luas. Sinopsis resmi yang dikutip Variety menyebut para pahlawan dari tiga semesta berbeda akan menghadapi ancaman eksistensial.

Artinya, Marvel masih membawa konsep multiverse ke depan.

Yang berubah adalah cara Marvel mengemasnya.

Alih-alih meminta penonton hanya melihat ke depan, Marvel terlebih dahulu mengajak mereka kembali ke titik yang paling familiar.

Endgame menjadi semacam titik koordinat.

Dari sana, penonton diarahkan menuju Doctor Doom, X-Men, Fantastic Four, Avengers baru, dan konflik multiverse berikutnya.

Tantangan Marvel Setelah Doomsday

Pertanyaan yang lebih besar justru muncul setelah Doomsday.

Bisakah Marvel membuat semesta yang semakin besar tetap terasa sebagai satu cerita?

Itulah tantangan yang selama beberapa tahun menjadi bagian dari perbincangan mengenai MCU.

Marvel memiliki karakter yang semakin banyak. Semestanya semakin luas. Namun, semakin banyak karakter dan alur yang diperkenalkan, semakin besar pula kebutuhan untuk memberikan alasan kepada penonton mengapa mereka harus mengikuti semuanya.

Endgame dulu memiliki jawaban yang sederhana: semua jalan menuju Thanos.

Kini, Marvel harus menciptakan alasan baru.

Avengers: Endgame Encore mungkin hanya berlangsung beberapa menit lebih panjang dari film aslinya. Namun, posisi beberapa menit tambahan tersebut jauh lebih penting daripada durasinya.

Ia menjadi penghubung antara dua era.

Pada 25 September, penonton bukan hanya kembali menonton bagaimana Avengers mengakhiri sebuah saga. Mereka juga diajak melihat bagaimana Marvel membuka pintu menuju babak berikutnya. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Marvel Studios Avengers Endgame Encore MCU Multiverse Avengers Doomsday doctor doom