Lady Bird Bukan Sekadar Film Coming-of-Age, tetapi Kisah Rumit tentang Cinta Ibu dan Anak

Loanda Ajeng Rossiani • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 14:15 WIB
Saoirse Ronan sebagai Lady Bird dan Laurie Metcalf sebagai Marion dalam Lady Bird (2017), film Greta Gerwig yang menjadikan hubungan ibu dan anak sebagai inti cerita. (IMDb)
Saoirse Ronan sebagai Lady Bird dan Laurie Metcalf sebagai Marion dalam Lady Bird (2017), film Greta Gerwig yang menjadikan hubungan ibu dan anak sebagai inti cerita. (IMDb)

RADAR BANYUWANGI - Lady Bird (2017) sering terlihat seperti kisah sederhana tentang seorang remaja perempuan yang ingin meninggalkan kota asalnya dan mencari kehidupan baru.

Christine “Lady Bird” McPherson (Saoirse Ronan) memang sangat ingin keluar dari Sacramento, melanjutkan kuliah di Pantai Timur, dan membangun identitas yang berbeda dari keluarganya.

Namun, di balik keinginannya untuk pergi, terdapat konflik yang jauh lebih personal, yaitu hubungan Lady Bird dengan ibunya, Marion McPherson (Laurie Metcalf).

Film debut penyutradaraan tunggal Greta Gerwig ini menempatkan hubungan ibu dan anak perempuan sebagai pusat cerita.

A24 menggambarkan Lady Bird sebagai kisah tentang hubungan yang penuh humor dan kepedihan antara seorang ibu dan putrinya, dengan latar Sacramento pada 2002.

Bagi Gerwig sendiri, hubungan tersebut memang merupakan inti film.

“Film tentang remaja perempuan umumnya berpusat pada seorang laki-laki,” ujarnya dalam wawancara dengan Script Magazine

Menurut Gerwig, ia tidak melihat kehidupan perempuan dengan cara seperti itu.

Sebaliknya, ia melihat hubungan antara perempuan dan ibu mereka sebagai sesuatu yang sangat kompleks ketika memasuki masa remaja.

“Kisah cinta antara seorang ibu dan anak perempuan adalah kisah cinta yang paling menyentuh dan paling kaya yang saya ketahui,” kata Gerwig, merangkum alasan personal di balik pendekatan tersebut. 

Karena itu, Lady Bird tidak menjadikan Marion sebagai antagonis dan tidak pula menggambarkan Lady Bird sebagai korban yang harus “menang” atas ibunya.

Keduanya sama-sama keras kepala, sama-sama memiliki keinginan sendiri, dan dalam banyak hal justru terlalu mirip.

Lady Bird ingin pergi, tetapi konflik sebenarnya ada di rumah

Bagi Lady Bird, Sacramento terasa seperti tempat yang terlalu kecil untuk ambisinya.

Ia ingin kuliah di Pantai Timur, jauh dari keluarganya dan lingkungan yang menurutnya membatasi dirinya.

Bahkan nama “Lady Bird” sendiri merupakan bentuk kecil dari keinginan tersebut.

Nama lahirnya adalah Christine, tetapi ia memilih identitas baru yang, dalam pikirannya, lebih sesuai dengan dirinya.

Dalam wawancara Fresh Air bersama Terry Gross, Gerwig menjelaskan bahwa keputusan Lady Bird mengganti namanya bukan sekadar lelucon karakter.

Ketika membahas identitas tersebut, Gerwig menggambarkannya sebagai “penolakan terhadap segala sesuatu yang diberikan ibunya.”

Nama itu dengan demikian menjadi bagian dari proses Lady Bird untuk mendefinisikan dirinya sendiri.

Ia tidak hanya ingin tinggal di tempat lain.

Ia ingin menentukan sendiri siapa dirinya.

Karena itu, pertengkarannya dengan Marion memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar konflik antara anak remaja dan orang tua.

Perdebatan tentang uang, kuliah, pakaian, teman, atau masa depan sebenarnya berkaitan dengan satu pertanyaan yang sama, seberapa jauh Lady Bird boleh menentukan hidupnya sendiri?

Marion bukan antagonis, melainkan seseorang yang takut kehilangan anaknya

Marion mudah terlihat sebagai ibu yang terlalu kritis.

Ia sering mempertanyakan pilihan Lady Bird, tidak selalu menghargai ambisi putrinya, dan kesulitan menerima keinginan anaknya untuk pergi jauh.

Namun, film secara bertahap memperlihatkan bahwa perilaku Marion tidak dapat dipisahkan dari keadaan keluarganya.

Keluarga McPherson menghadapi tekanan ekonomi.

Ayah Lady Bird, Larry (Tracy Letts), kehilangan pekerjaannya, sementara Marion bekerja sebagai perawat untuk membantu menopang keluarga.

Kondisi tersebut membuat kekhawatiran Marion terhadap masa depan putrinya tidak dapat dibaca hanya sebagai sikap keras seorang ibu.

Gerwig bahkan menjelaskan bahwa salah satu hal yang paling ia perhatikan adalah bagaimana karakter menggunakan bahasa untuk menyembunyikan perasaan sebenarnya.

“Yang ingin dikatakan ibunya adalah, ‘Aku sangat ketakutan,'” ujar Gerwig kepada Fresh Air, ketika membahas apa yang sebenarnya dirasakan Marion.

Kalimat tersebut membantu menjelaskan banyak perilaku Marion.

Ketakutan tidak selalu keluar sebagai pengakuan bahwa ia takut.

Dalam hubungan mereka, rasa takut sering berubah menjadi kritik, kemarahan, atau penolakan.

Gerwig juga mengatakan bahwa ia ingin penonton tidak melihat salah satu dari mereka sebagai tokoh jahat.

“Kamu tidak merasa bahwa salah satu dari mereka adalah penjahat,” ujarnya.

Inilah salah satu kunci pembacaan Lady Bird.

Konflik mereka bukan pertarungan antara orang baik dan orang jahat.

Konflik tersebut berasal dari dua orang yang sama-sama mencintai, tetapi tidak selalu mampu mengomunikasikan rasa takut dan kasih sayang dengan cara yang dapat diterima oleh pihak lain.

Lady Bird dan Marion bertengkar karena mereka terlalu mirip

Salah satu hal yang membuat hubungan mereka terasa nyata adalah kenyataan bahwa Lady Bird dan Marion tidak benar-benar berada di dua sisi yang berlawanan.

Keduanya memiliki kepribadian kuat.

Keduanya memiliki standar terhadap kehidupan.

Keduanya keras kepala.

Dan keduanya sama-sama sulit mengakui ketika mereka membutuhkan satu sama lain.

Gerwig sengaja membangun konflik tersebut tanpa membuat salah satu karakter sepenuhnya benar.

Dalam Fresh Air, ia menjelaskan ketertarikannya pada cara perempuan bertengkar sekaligus menunjukkan kasih sayang. 

“Itulah cara perempuan bertengkar dan juga cara mereka mencintai,” kata Gerwig.

Itulah sebabnya film tidak meminta penonton memilih siapa yang benar.

Lady Bird memang sering bersikap egois.

Marion juga sering mengatakan hal-hal yang melukai putrinya.

Tetapi film tidak mengubah salah satu dari mereka menjadi tokoh jahat agar konflik menjadi mudah dipahami.

Hubungan mereka justru bekerja karena keduanya dapat menjadi penyebab luka sekaligus sumber kasih sayang bagi satu sama lain.

Adegan kecil memperlihatkan cara Marion mencintai Lady Bird

Gerwig memberi perhatian besar pada tindakan-tindakan kecil Marion.

Dalam wawancara dengan Script Magazine, ia menjelaskan bahwa adegan pembuka ketika Marion merapikan tempat tidur di kamar hotel sudah ada sejak baris pertama skenario.

“Marion sedang merapikan tempat tidur di kamar hotel,” tulis Gerwig.

Tindakan tersebut bukan sekadar aktivitas rumah tangga.

Gerwig mengatakan bahwa hal itu menunjukkan Marion sebagai seseorang yang “mengurus berbagai hal.”

Detail ini penting karena Marion tidak selalu menunjukkan kasih sayangnya melalui ucapan.

Ia mengurus keluarga.

Ia bekerja.

Ia memperhatikan hal-hal kecil.

Ia mencoba memastikan semuanya berjalan sebagaimana mestinya.

Masalahnya, perhatian semacam itu dapat dirasakan secara berbeda oleh orang yang menerimanya.

Bagi Marion, kritik mungkin merupakan bentuk kepedulian.

Bagi Lady Bird, kritik tersebut bisa terdengar seperti penolakan.

Di sinilah film menemukan salah satu sumber emosinya, dua orang yang saling mencintai dapat memiliki bahasa kasih yang berbeda.

Pertengkaran mereka terasa nyata karena cinta dan kemarahan muncul bersamaan

Salah satu adegan yang paling jelas memperlihatkan dinamika tersebut terjadi ketika Lady Bird dan Marion bertengkar di dalam mobil.

Lady Bird akhirnya membuka pintu dan melompat keluar dari mobil yang sedang bergerak.

Adegan tersebut ekstrem dibandingkan sebagian besar perilakunya dalam film, tetapi Gerwig sengaja menempatkannya di sana.

“Ada kualitas tertentu dalam pertengkaran di dalam mobil ketika kamu merasa terjebak,” terang Gerwig menjelaskan alasannya pada Fresh Air.

Mobil menjadi ruang yang tepat untuk konflik mereka karena tidak ada ruang untuk menghindar.

Mereka berada sangat dekat secara fisik ketika justru sedang berusaha menjauh secara emosional.

Gerwig mengatakan bahwa adegan tersebut ditujukan untuk mencapai sesuatu yang “secara emosional terasa nyata.”

Pendekatan ini menjadi ciri penting Lady Bird.

Film tidak selalu berusaha membuat setiap peristiwa realistis secara harfiah.

Yang ingin dibuat Gerwig terasa nyata adalah emosinya.

Itulah sebabnya pertengkaran Lady Bird dan Marion terkadang lucu, terkadang menyakitkan, dan terkadang hampir absurd.

Penonton dapat merasa bahwa mereka berlebihan sekaligus memahami mengapa mereka sampai pada titik tersebut.

Mengapa Marion sulit mengatakan bahwa ia mencintai Lady Bird?

Salah satu adegan paling penting dalam hubungan mereka justru muncul ketika Marion tidak mampu memberikan validasi sederhana yang diinginkan putrinya.

Lady Bird ingin mendengar bahwa dirinya cukup baik.

Marion justru terus mendorongnya untuk menjadi lebih baik.

Ketika Terry Gross bertanya kepada Gerwig mengapa Marion tidak cukup mengatakan bahwa ia mencintai dan menyukai putrinya, Gerwig memberikan jawaban yang sangat penting bagi keseluruhan film.

Menurut Gerwig, Marion takut jika ia mengatakan kepada Lady Bird bahwa putrinya sudah baik sebagaimana adanya, Lady Bird justru akan berhenti berkembang.

Gerwig menjelaskan bahwa Marion “tidak bisa mengalah dalam hal itu karena dia terlalu takut.”

Dengan demikian, kritik Marion tidak selalu berasal dari ketidakpuasan terhadap Lady Bird.

Sebagiannya berasal dari ketakutan bahwa jika ia berhenti mendorong putrinya, Lady Bird tidak akan mampu menghadapi dunia.

Ironinya, dorongan tersebut justru dapat membuat Lady Bird merasa tidak pernah cukup baik.

Keduanya menginginkan sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu berbeda, Marion ingin Lady Bird mampu menghadapi kehidupan, sedangkan Lady Bird ingin merasa bahwa ibunya percaya kepadanya.

Masalahnya adalah mereka menggunakan bahasa yang berbeda untuk mengungkapkan kebutuhan tersebut.

Sacramento bukan sekadar latar, tetapi sesuatu yang baru dipahami setelah ditinggalkan

Keinginan Lady Bird untuk meninggalkan Sacramento pada awalnya terlihat seperti bagian standar dari cerita coming-of-age.

Remaja merasa kota asalnya terlalu kecil.

Ia ingin pergi.

Ia menganggap tempat lain lebih menarik.

Ia membayangkan kehidupan yang lebih besar menunggunya di luar sana.

Namun, Gerwig menggunakan perjalanan tersebut untuk membalik gagasan tentang rumah.

Dalam wawancara di New York Film Festival, Gerwig mengatakan bahwa film tersebut “adalah film yang dibingkai di sekitar keluarga ini”, tetapi kemudian ia menyadari bahwa film itu secara diam-diam juga merupakan cerita tentang sang ibu.

Ia merumuskannya dengan kalimat yang sangat tepat.

“Pendewasaan seseorang adalah proses melepaskan bagi orang lain,” tulisnya.

Kalimat tersebut mengubah perspektif terhadap keseluruhan film.

Bagi Lady Bird, meninggalkan rumah berarti tumbuh dewasa.

Bagi Marion, kepergian anaknya berarti belajar melepaskan.

Keduanya sedang mengalami perubahan, tetapi dari arah yang berlawanan.

Gerwig juga menyebut Lady Bird sebagai “surat cinta untuk Sacramento.”

Pernyataan tersebut menjelaskan mengapa Sacramento tidak diperlakukan hanya sebagai kota yang harus ditinggalkan.

Kota itu adalah bagian dari identitas Lady Bird, bahkan ketika ia sendiri belum mampu melihatnya.

Ending Lady Bird bukan tentang berhasil kabur dari rumah

Bagian akhir film memperjelas perubahan tersebut.

Setelah pergi ke New York, Lady Bird mulai melihat Sacramento dari jarak yang berbeda.

Ketika ditanya mengenai asalnya, ia tidak lagi berbicara tentang kota itu hanya sebagai tempat yang ingin ditinggalkan.

Jarak membuat hal-hal yang sebelumnya terasa biasa menjadi terlihat penting.

Gerwig menjelaskan bahwa ia ingin membuat film tentang “refleksi tentang rumah dan apa arti rumah.”

Ia tertarik pada gagasan seseorang yang ingin keluar dari suatu tempat, kemudian menyadari bahwa ia mencintai tempat tersebut.

Itulah yang membuat perjalanan Lady Bird tidak berakhir dengan kemenangan sederhana.

Ia tidak pergi dari Sacramento untuk membuktikan bahwa ibunya salah.

Ia juga tidak pulang sebagai pribadi yang tiba-tiba sudah memahami seluruh pengorbanan Marion.

Yang berubah adalah cara Lady Bird melihat rumahnya.

Ia mulai memahami bahwa Sacramento bukan sekadar tempat yang membatasi dirinya.

Kota itu merupakan bagian dari pengalaman yang membentuk dirinya.

Dan hal yang sama berlaku untuk Marion.

Lady Bird sebenarnya adalah coming-of-age untuk dua orang

Inilah yang membuat Lady Bird lebih menarik daripada kisah coming-of-age yang hanya mengikuti perjalanan seorang remaja.

Lady Bird sedang belajar menjadi dirinya sendiri.

Pada saat yang sama, Marion sedang belajar melepaskan anaknya.

Gerwig sendiri mengatakan bahwa ia tertarik pada kedua proses tersebut.

“Saya sama tertariknya pada proses melepaskan seperti halnya pada proses pendewasaan,” katanya dalam wawancara New York Film Festival.

Karena itu, perkembangan Lady Bird tidak dapat dipisahkan dari perkembangan Marion.

Ketika Lady Bird ingin pergi, itu merupakan bagian dari pertumbuhannya.

Tetapi bagi Marion, kepergian tersebut berarti kehilangan sebagian peran yang selama ini ia jalankan sebagai ibu.

Lady Bird bergerak menuju dunia baru.

Marion harus belajar membiarkannya pergi.

Cinta dalam Lady Bird tidak selalu terdengar seperti cinta

Kekuatan terbesar film ini mungkin justru terletak pada penolakannya terhadap hubungan ibu-anak yang terlalu rapi.

Tidak ada satu percakapan ajaib yang menyelesaikan seluruh masalah mereka.

Tidak ada perubahan karakter yang terjadi dalam semalam.

Tidak ada kepastian bahwa setelah semua konflik selesai, Lady Bird dan Marion akan selalu memahami satu sama lain.

Yang ada adalah jarak, perubahan perspektif, dan kesadaran yang datang terlambat.

Gerwig mengatakan bahwa ia tertarik pada bagaimana orang menggunakan bahasa untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya mereka maksud.

“Saya selalu tertarik pada bagaimana orang menggunakan bahasa untuk tidak mengatakan apa yang mereka maksud,” katanya pada Fresh Air.

Kalimat itu hampir bisa menjadi kunci untuk memahami hubungan Lady Bird dan Marion.

Mereka sering mengatakan sesuatu yang berbeda dari apa yang sebenarnya mereka rasakan.

“Pergi” bisa berarti ingin tumbuh.

“Kamu belum cukup baik” bisa berarti “aku takut kamu tidak siap.”

“Aku tidak membutuhkanmu” bisa menjadi cara seorang anak mengatakan bahwa ia sedang berusaha menemukan dirinya sendiri.

Dan diam bisa berarti bahwa seseorang tidak tahu bagaimana mengatakan bahwa ia takut kehilangan orang yang dicintainya.

Pendewasaan Lady Bird bukan hanya tentang berhasil meninggalkan Sacramento.

Ia juga tentang menyadari bahwa rumah yang ingin ditinggalkannya telah membentuk dirinya.

Begitu pula dengan Marion.

Ia harus menerima bahwa mencintai seorang anak tidak selalu berarti mempertahankannya tetap dekat.

Itulah yang membuat hubungan Lady Bird dan Marion menjadi inti emosional film ini.

Mereka tidak pernah benar-benar berhenti mencintai satu sama lain.

Mereka hanya membutuhkan jarak untuk mulai memahami bentuk cinta yang sejak awal ada di antara mereka.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Greta Gerwig Lady Bird Saoirse Ronan Laurie Metcalf film coming-of-age