Eighth Grade: Mengapa Ayah Kayla Justru Menjadi Sosok Paling Mengharukan di Film Ini?

Loanda Ajeng Rossiani • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 13:59 WIB
Elsie Fisher sebagai Kayla Day dan Josh Hamilton sebagai Mark dalam Eighth Grade (2018), film debut penyutradaraan Bo Burnham yang menggambarkan kecemasan remaja dan hubungan ayah-anak secara intim. (IMDb)
Elsie Fisher sebagai Kayla Day dan Josh Hamilton sebagai Mark dalam Eighth Grade (2018), film debut penyutradaraan Bo Burnham yang menggambarkan kecemasan remaja dan hubungan ayah-anak secara intim. (IMDb)

RADAR BANYUWANGI - Dalam banyak film tentang remaja, orang tua sering ditempatkan sebagai sumber konflik.

Mereka menjadi sosok yang terlalu keras, terlalu protektif, atau dianggap tidak memahami dunia anaknya.

Eighth Grade (2018) memilih jalan yang berbeda.

Di tengah kecemasan sosial, rasa tidak percaya diri, dan kehidupan digital yang membuat Kayla Day semakin terasing, justru ayahnya, Mark, menjadi sosok yang terus berusaha berada di sisinya.

Mark tidak selalu memahami apa yang sedang dialami putrinya.

Ia juga tidak memiliki jawaban untuk setiap ketakutan Kayla.

Namun, ketika Kayla menarik diri, ia tidak menjadikan penolakan itu sebagai alasan untuk berhenti mencoba.

Hubungan keduanya menjadi salah satu bagian paling menyentuh dari film yang ditulis dan disutradarai Bo Burnham tersebut.

Bahkan Burnham sendiri menggambarkan relasi orang tua dan anak dalam film itu sebagai sesuatu yang tidak selalu mudah atau mulus.

“Begitulah wujud cinta,” ujarnya.

Menurut Burnham, kasih sayang dalam hubungan tersebut justru terlihat melalui perjuangan, kecanggungan, dan usaha untuk terus memahami satu sama lain.

Ia mengatakan bahwa hubungan orang tua dan anak dalam Eighth Grade dapat berada dalam situasi yang sebenarnya baik, dengan niat yang baik dari kedua pihak, tetapi tetap tidak selalu berjalan mulus.

Eighth Grade dan kecemasan Kayla di era internet

Eighth Grade merupakan debut penyutradaraan film panjang Bo Burnham.

Ceritanya mengikuti Kayla Day, remaja 13 tahun yang menjalani minggu terakhir kelas delapan sebelum memasuki sekolah menengah atas.

Elsie Fisher memerankan Kayla, sementara Josh Hamilton berperan sebagai Mark, ayahnya.

Kayla menjalani masa remajanya ketika kehidupan sosial tidak lagi berhenti di lingkungan sekolah.

Ia membuat video YouTube berisi nasihat tentang kepercayaan diri dan menjadi diri sendiri.

Ironisnya, Kayla sendiri justru kesulitan melakukan hal-hal yang ia sarankan kepada penontonnya.

Di internet, ia dapat membangun versi dirinya yang terlihat lebih percaya diri.

Dalam kehidupan nyata, ia kesulitan berbicara dengan teman sebaya, merasa tidak diterima, dan sangat memikirkan bagaimana orang lain memandangnya.

Burnham mengatakan bahwa film tersebut berangkat dari keinginannya membicarakan kecemasan, termasuk kecemasannya sendiri.

“Saya ingin berbicara tentang kecemasan, kecemasan saya sendiri,” ungkapnya.

Karena itu, internet dalam Eighth Grade bukan sekadar latar zaman.

Layar menjadi tempat Kayla membangun identitas, mencari validasi, sekaligus menghindari ketidaknyamanan di dunia nyata.

Mark tidak memaksa Kayla untuk terbuka

Hubungan Kayla dan Mark menarik karena konflik mereka tidak dibangun melalui pertengkaran besar.

Mark adalah ayah tunggal yang berusaha memahami putrinya, tetapi sering terlihat canggung ketika harus melakukannya.

Ia ingin berbicara dengan Kayla, mengetahui apa yang terjadi di sekolah, dan memastikan putrinya baik-baik saja.

Masalahnya, Kayla tidak selalu ingin berbicara.

Ada momen ketika Mark mencoba mendapatkan perhatian Kayla sementara putrinya justru sibuk dengan ponsel.

Di permukaan, adegan itu terlihat seperti konflik klasik antara orang tua dan anak di era digital.

Namun, Burnham tidak berhenti pada gambaran tersebut.

Dalam wawancara dengan SlashFilm, Burnham ditanya tentang keretakan hubungan orang tua dan anak yang terasa kuat dalam film.

Jawabannya justru menunjukkan bahwa ia tidak melihat kecanggungan tersebut sebagai tanda hubungan yang buruk.

“Cinta itu perjuangan, canggung, dan aneh,” kata Burnham.

Burnham kemudian menjelaskan bahwa hubungan Mark dan Kayla tidak harus selalu “berhasil” dalam arti kedua pihak langsung memahami satu sama lain.

Yang penting adalah mereka tetap memiliki hubungan yang sehat dan niat yang baik.

Itulah yang membuat perilaku Kayla terhadap ayahnya terasa lebih kompleks.

Ia memang sering menolak percakapan.

Namun, film tidak menggunakannya untuk menyimpulkan bahwa Kayla tidak menyayangi ayahnya.

Ia hanya sedang kesulitan menghadapi dirinya sendiri.

Mark bukan ayah yang selalu tahu harus berkata apa

Salah satu kekuatan hubungan mereka justru terletak pada ketidaksempurnaan Mark.

Ia bukan orang tua yang selalu memiliki kalimat bijak.

Ia beberapa kali terlihat bingung dan tidak tahu bagaimana cara mendekati putrinya.

Namun, ia terus mencoba.

Burnham bahkan mengatakan bahwa hubungan tersebut sengaja memperlihatkan dua orang yang dapat memiliki niat yang sangat baik tetapi tetap mengalami kesulitan untuk saling memahami.

Dengan demikian, Mark bukan karakter yang diciptakan untuk memberikan solusi kepada Kayla.

Ia lebih dekat dengan sosok orang tua yang hanya berusaha menyediakan tempat aman ketika anaknya belum mampu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Hal tersebut membuat hubungan mereka terasa lebih realistis.

Mark tidak selalu tahu apa yang Kayla perlukan.

Kayla juga tidak selalu tahu bagaimana mengatakan apa yang ia perlukan.

Tetapi keduanya tetap berusaha mempertahankan hubungan tersebut.

Adegan kapsul waktu menjadi titik emosional hubungan mereka

Salah satu adegan terpenting antara Kayla dan Mark terjadi ketika Kayla meminta bantuan ayahnya membakar kapsul waktu yang dibuatnya saat masih kelas enam.

Dalam adegan tersebut, Mark bertanya sederhana.

“Apa isinya?” tanyanya.

Kayla menjawab bahwa isinya berkaitan dengan harapan dan impiannya.

Ketika Mark mengetahui bahwa Kayla ingin membakarnya, percakapan tersebut perlahan berubah menjadi pembicaraan tentang perasaan Kayla terhadap dirinya sendiri.

Adegan ini penting karena sepanjang film Kayla terus membandingkan dirinya dengan orang lain.

Ia memikirkan siapa yang menyukainya, siapa yang menganggapnya aneh, siapa yang menganggapnya populer, dan apakah dirinya cukup menarik untuk diterima.

Namun, ketika berhadapan dengan ayahnya, pertanyaannya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih personal, apakah dirinya membuat Mark kecewa?

Mark tidak menjawab dengan ceramah.

Ia meyakinkan putrinya bahwa Kayla bukan sumber kesedihan dalam hidupnya.

Dalam adegan tersebut, respons Mark menjadi salah satu bentuk validasi paling penting yang diterima Kayla sepanjang film.

Yang menarik, adegan ini tidak membutuhkan pidato panjang.

Burnham justru membangun emosinya melalui percakapan sederhana antara dua orang yang sering kali kesulitan berbicara satu sama lain.

Bo Burnham sengaja membuat hubungan mereka canggung

Pilihan tersebut sejalan dengan pendekatan Burnham terhadap hubungan orang tua dan anak.

Dalam wawancara SlashFilm, Burnham menolak gagasan bahwa kecanggungan antara Mark dan Kayla berarti hubungan mereka gagal.

“Ini bukan soal semuanya berjalan baik.” katanya.

Maksudnya, hubungan tersebut tidak harus selalu menghasilkan penyelesaian yang rapi.

Konflik kecil, frustrasi, dan ketidaknyamanan merupakan bagian dari hubungan mereka.

Pandangan tersebut membuat Mark menjadi karakter yang menarik.

Ia tidak ditampilkan sebagai ayah ideal yang selalu mengatakan hal yang benar.

Ia juga bukan orang tua yang memahami seluruh bahasa sosial yang digunakan Kayla.

Sebaliknya, ia adalah ayah yang terkadang salah langkah tetapi tidak berhenti mencoba.

Dalam film Eighth Grade, itu penting.

Kayla hidup dalam lingkungan yang membuatnya terus merasa harus tampil dengan cara tertentu.

Ia membuat video untuk memberikan kesan percaya diri, memperhatikan media sosial teman-temannya, dan berusaha menyesuaikan diri dengan kelompok yang sebenarnya membuatnya tidak nyaman.

Mark menawarkan sesuatu yang berbeda: hubungan yang tidak membutuhkan penampilan sempurna.

Kayla mencari validasi di internet, tetapi menemukannya di rumah

Kontras tersebut menjadi semakin jelas ketika perjalanan Kayla dilihat secara keseluruhan.

Di sekolah, ia ingin diterima.

Di media sosial, ia ingin terlihat percaya diri.

Dalam hubungan pertemanan, ia ingin dianggap menarik.

Dalam hubungan romantis, ia ingin dianggap cukup dewasa.

Tetapi hampir semua pencarian tersebut membuat Kayla semakin cemas.

Sebaliknya, Mark tidak meminta Kayla menjadi lebih populer atau lebih percaya diri agar ia layak dicintai.

Ia hanya ingin putrinya baik-baik saja.

Burnham menjelaskan bahwa ia tertarik pada pengalaman Kayla karena kecemasan yang dirasakan karakter tersebut dapat menjadi gambaran tentang perasaan terjebak dan kewalahan yang sering menyertai kehidupan remaja.

Dalam salah satu wawancaranya, ia menggambarkan kondisi tersebut sebagai perasaan seperti:

“Tidak berdaya, berenang di tengah berbagai hal, dan tenggelam,” ungkapnya.

Perasaan tersebut menjelaskan mengapa hubungan Kayla dan Mark menjadi penting.

Ketika hampir semua hal di luar rumah terasa seperti penilaian terhadap dirinya, Mark menjadi salah satu ruang di mana Kayla tidak perlu membuktikan apa pun.

Hubungan Mark dan Kayla bukan tentang ayah yang menyelamatkan anaknya

Di sinilah Eighth Grade terasa lebih matang daripada cerita yang sekadar menjadikan orang tua sebagai penyelamat protagonis remaja.

Mark tidak menyelesaikan kecemasan Kayla.

Ia tidak membuat Kayla tiba-tiba menjadi populer.

Ia juga tidak memberikan satu nasihat yang kemudian mengubah seluruh kehidupan putrinya.

Kayla tetap harus menjalani pengalaman tersebut sendiri.

Yang dilakukan Mark adalah tetap berada di dekatnya.

Itu sejalan dengan penjelasan Burnham mengenai hubungan mereka.

Menurutnya, hubungan orang tua dan anak dalam film tersebut dapat memiliki niat yang sangat baik dari kedua pihak tetapi tetap terasa canggung dan aneh.

Dengan kata lain, kasih sayang dalam Eighth Grade tidak selalu tampil sebagai solusi.

Kadang-kadang ia hadir sebagai kesediaan untuk terus mencoba.

Mengapa hubungan Mark dan Kayla terasa begitu personal?

Ada sesuatu yang sederhana dalam cara Mark mencintai putrinya, ia tidak selalu tahu bagaimana membantu, tetapi ia tetap hadir.

Hal itu menjadi kontras dengan dunia yang sedang Kayla coba pahami.

Internet membuat Kayla terus memikirkan bagaimana dirinya terlihat di mata orang lain.

Mark, dengan segala kecanggungan dan keterbatasannya, justru menawarkan ruang di mana Kayla tidak perlu tampil sebagai versi tertentu dari dirinya.

Burnham mengatakan bahwa ia ingin hubungan tersebut terasa subjektif dari sudut pandang Kayla.

Keseluruhan film memang diarahkan untuk membuat penonton sedekat mungkin dengan pengalaman karakter tersebut.

Karena itu, Mark tidak pernah benar-benar menjadi pusat cerita.

Namun, ketika ia muncul, keberadaannya memberikan kontras terhadap kecemasan Kayla.

Ia adalah orang yang mungkin tidak selalu mengerti putrinya, tetapi tetap mencoba memahami.

Eighth Grade tidak menawarkan solusi sederhana

Kekuatan Eighth Grade bukan karena Mark berhasil “memperbaiki” Kayla.

Kayla tetap seorang remaja yang cemas.

Ia masih harus menghadapi sekolah baru, lingkungan sosial baru, dan ketidakpastian masa depan.

Tidak ada satu percakapan dengan orang tua yang dapat menghapus semua itu.

Yang berubah adalah cara film memperlihatkan dukungan.

Dukungan Mark tidak selalu muncul dalam bentuk nasihat.

Kadang-kadang ia hadir dalam bentuk pertanyaan yang tidak langsung mendapatkan jawaban, percakapan yang canggung, atau kesediaan untuk tetap berada di dekat Kayla ketika sang anak belum siap berbicara.

Itulah yang membuat hubungan mereka terasa manusiawi.

Eighth Grade bukan hanya cerita tentang seorang remaja yang berusaha melewati kelas delapan.

Film ini juga merupakan cerita tentang seorang ayah yang belajar bahwa mencintai anak tidak selalu berarti mengetahui cara menyelesaikan masalahnya.

Burnham sendiri merangkum gagasan tersebut dengan sangat sederhana ketika membahas hubungan Mark dan Kayla.

“Begitulah wujud cinta.”

Bukan hubungan yang selalu mulus. Bukan pula hubungan di mana satu pihak selalu tahu apa yang harus dilakukan.

Melainkan hubungan yang tetap bertahan meskipun terkadang canggung, sulit, dan penuh kesalahpahaman.

Dan bagi Kayla, mungkin itulah bentuk dukungan yang paling ia butuhkan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Eighth Grade Bo Burnham Elsie Fisher Josh Hamilton film remaja