RADAR BANYUWANGI - Bayangkan berada di balik jeruji dan menunggu hukuman mati untuk kejahatan yang tidak pernah Anda lakukan. Bukti yang mendukung ketidakbersalahan Anda ada, tetapi suara Anda nyaris tidak terdengar. Di hadapan sistem yang telah lebih dulu mencurigai Anda, kebenaran tidak selalu menjadi pihak yang paling kuat.
Situasi itulah yang menjadi inti Just Mercy (2019), film garapan Destin Daniel Cretton yang mengangkat kisah nyata Walter McMillian dan pengacara hak sipil Bryan Stevenson. Film ini tidak sekadar menceritakan perjuangan seorang pengacara untuk membebaskan kliennya. Lebih dari itu, Just Mercy memperlihatkan bagaimana prasangka rasial, tekanan sosial, dan ketimpangan kekuasaan dapat memengaruhi proses hukum hingga seseorang yang tidak bersalah berakhir menghadapi hukuman mati.
Kisah tersebut berlangsung di Alabama pada akhir abad ke-20. Bagi McMillian, persoalannya bukan hanya tuduhan pembunuhan. Ia harus berhadapan dengan lingkungan sosial yang dibentuk oleh sejarah panjang diskriminasi rasial di Amerika Serikat bagian Selatan.
Di sinilah film mulai menjauh dari pola umum drama hukum. Dalam banyak film tentang persidangan, hukum digambarkan sebagai arena yang pada akhirnya memberikan kemenangan kepada pihak yang memiliki argumen terbaik. Bukti penting muncul pada saat yang tepat, seorang saksi mengubah kesaksian, kemudian kebenaran terungkap di ruang sidang.
Just Mercy menawarkan gambaran yang jauh lebih tidak nyaman. Kebenaran tidak otomatis menang hanya karena seseorang memilikinya.
Walter McMillian dan tuduhan yang mengubah hidupnya
McMillian adalah seorang pria kulit hitam yang tinggal di Monroe County, Alabama. Kehidupannya berubah setelah ia dituduh membunuh seorang perempuan bernama Ronda Morrison. Ia kemudian dijatuhi hukuman mati meskipun terdapat persoalan serius dalam perkara yang menjeratnya.
Bagi film ini, fakta tersebut bukan sekadar titik awal sebuah cerita kriminal. Kasus McMillian menjadi pintu masuk untuk melihat bagaimana seseorang dapat terperangkap dalam sistem ketika aparat, masyarakat, dan institusi hukum memiliki keyakinan yang sama tentang siapa yang layak dicurigai.
Kesaksian yang mendukung alibi McMillian tidak serta-merta mengakhiri perkara. Sebaliknya, perjuangannya menunjukkan bahwa keberadaan fakta tidak selalu menjamin fakta tersebut akan diperlakukan secara adil.
Persoalan semacam ini membuat Just Mercy terasa berbeda dari drama hukum yang mengandalkan kejutan di menit terakhir. Film ini tidak ingin membuat penonton sekadar menunggu bukti pamungkas. Penonton justru diajak melihat proses panjang ketika sebuah tuduhan memperoleh kekuatan karena didukung oleh prasangka dan struktur kekuasaan.
McMillian bukan hanya harus membuktikan bahwa ia tidak melakukan kejahatan. Ia juga harus berhadapan dengan anggapan bahwa dirinya memang pantas menjadi tersangka.
Bryan Stevenson dan perjuangan yang lebih besar dari satu kasus
Dalam situasi tersebut, Bryan Stevenson masuk ke dalam perkara McMillian. Stevenson adalah pengacara muda yang kemudian dikenal luas karena pekerjaannya membela orang-orang miskin dan kelompok yang rentan terhadap ketidakadilan dalam sistem peradilan pidana.
Pertemuannya dengan McMillian menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan Stevenson. Ia tidak melihat perkara tersebut semata-mata sebagai tantangan profesional. Di balik berkas hukum dan proses persidangan terdapat seorang manusia yang kehidupannya sedang dihancurkan oleh sistem.
Perjuangan Stevenson juga memperlihatkan bahwa membela seseorang yang berada di posisi paling lemah membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan berargumentasi. Ia harus menghadapi institusi yang tidak selalu terbuka terhadap kritik, masyarakat yang telah memiliki prasangka, dan sistem yang cenderung sulit mengakui kesalahannya sendiri.
Karena itu, perjuangan dalam Just Mercy berlangsung di dalam sekaligus di luar ruang sidang.
Stevenson harus mencari fakta, menemui saksi, memeriksa kembali proses hukum, dan mempertanyakan dasar dari tuduhan terhadap McMillian. Namun, ia juga harus menghadapi persoalan yang lebih sulit: bagaimana meyakinkan sebuah sistem bahwa asumsi yang telah dianggap benar ternyata dapat keliru.
Ketika prasangka masuk ke ruang pengadilan
Salah satu kekuatan Just Mercy terletak pada cara film menggambarkan hubungan antara prasangka sosial dan institusi hukum.
Secara ideal, pengadilan merupakan tempat untuk menguji fakta secara objektif. Ras, status sosial, dan latar belakang seseorang seharusnya tidak menentukan bagaimana hukum diterapkan kepadanya. Namun, institusi hukum tetap dijalankan oleh manusia. Ketika prasangka manusia masuk ke dalam proses tersebut, hukum dapat kehilangan sifat netral yang selama ini melekat pada citranya.
Kasus McMillian memperlihatkan persoalan itu dengan sangat jelas. Ketidakadilan tidak harus muncul melalui satu tindakan yang secara terang-terangan melanggar hukum. Ia dapat terbentuk melalui rangkaian keputusan, asumsi, dan pembiaran yang pada akhirnya mengarah pada kesimpulan yang keliru.
Itulah yang membuat film ini lebih mengganggu daripada sekadar kisah tentang seorang terpidana yang akhirnya dibebaskan. Pertanyaan yang muncul bukan hanya, “Bagaimana kesalahan ini bisa diperbaiki?” tetapi juga, “Mengapa sistem membutuhkan perjuangan sebesar itu untuk mengakui kesalahannya?”
Pertanyaan tersebut relevan karena kesalahan dalam sistem peradilan memiliki konsekuensi yang tidak dapat dibalik dengan mudah. Ketika seseorang kehilangan bertahun-tahun hidupnya di penjara, kehilangan hubungan dengan keluarga, atau bahkan menghadapi hukuman mati, koreksi yang datang kemudian tidak sepenuhnya mampu mengembalikan apa yang telah dirampas.
Alabama dan sejarah yang tidak bisa dihapus
Latar Alabama dalam Just Mercy memiliki fungsi yang lebih penting daripada sekadar tempat berlangsungnya cerita.
Wilayah Selatan Amerika Serikat memiliki sejarah panjang mengenai segregasi rasial dan diskriminasi terhadap warga kulit hitam. Warisan tersebut tidak hilang hanya karena aturan hukum berubah. Dampaknya dapat bertahan dalam hubungan sosial, struktur ekonomi, kebijakan publik, dan cara institusi memperlakukan kelompok tertentu.
Film ini menggunakan konteks tersebut untuk menunjukkan bahwa kasus McMillian tidak muncul dalam ruang kosong. Ada sejarah panjang yang membentuk cara masyarakat memandang ras dan kekuasaan.
Bryan Stevenson sendiri berulang kali menekankan pentingnya masyarakat Amerika menghadapi sejarah tersebut secara terbuka. Dalam wawancaranya dengan NPR, ia berbicara mengenai perlunya menghadirkan narasi sejarah Amerika yang selama ini tidak selalu disampaikan secara jelas, sekaligus membangun institusi yang mendorong masyarakat untuk menolak kembali bias rasial dan kebencian berbasis prasangka.
Pandangan itu menjadi salah satu kunci untuk memahami Just Mercy. Perjuangan Stevenson tidak berhenti pada pembebasan seorang klien. Ia berkaitan dengan upaya menghadapi sejarah yang masih memiliki pengaruh terhadap kehidupan masa kini.
Dari satu kasus menuju persoalan hukuman mati
Film ini kemudian membawa persoalan McMillian ke isu yang lebih luas: hukuman mati dan sistem peradilan pidana.
Hukuman mati membuat kesalahan hukum memiliki konsekuensi paling ekstrem. Jika sebuah sistem keliru menjatuhkan hukuman kepada seseorang, waktu tidak selalu dapat memperbaiki semuanya. Karena itu, kasus-kasus seperti McMillian menimbulkan pertanyaan mendasar tentang seberapa hati-hati negara seharusnya menggunakan kewenangannya untuk mencabut kehidupan seseorang.
Dalam kerangka yang lebih luas, perjuangan Stevenson juga berkaitan dengan orang-orang yang memiliki kemampuan paling terbatas untuk melindungi dirinya sendiri. Kemiskinan, keterbatasan akses terhadap bantuan hukum, dan posisi sosial dapat membuat seseorang jauh lebih rentan ketika berhadapan dengan sistem peradilan.
Dengan demikian, Just Mercy tidak hanya berbicara tentang rasisme. Film ini mempertemukan persoalan ras, kelas sosial, kekuasaan, hukuman mati, dan akses terhadap keadilan dalam satu kisah.
Mengapa kemenangan McMillian tidak terasa seperti akhir yang sepenuhnya bahagia?
Salah satu keputusan penting film ini adalah tidak menjadikan pembebasan McMillian sebagai akhir yang menyelesaikan seluruh persoalan.
Memang ada kemenangan. Setelah perjuangan panjang, McMillian mendapatkan kembali kebebasannya. Bagi dirinya dan keluarganya, hal tersebut tentu merupakan perubahan yang sangat berarti.
Namun, bagi penonton, kemenangan itu justru menimbulkan pertanyaan baru.
Bagaimana mungkin seseorang yang tidak bersalah bisa sampai berada di ruang kematian?
Jawabannya tidak cukup ditemukan dalam kesalahan individu. Ada persoalan yang lebih besar mengenai bagaimana institusi bekerja, bagaimana masyarakat membentuk prasangka, dan bagaimana sejarah dapat memengaruhi cara sebuah kelompok manusia diperlakukan.
Karena itu, Just Mercy tidak memberikan kepuasan sederhana seperti film hukum yang berakhir dengan seorang pengacara memenangkan persidangan. Pembebasan McMillian bukan bukti bahwa sistem telah bekerja dengan sempurna. Sebaliknya, ia menjadi bukti bahwa sistem tersebut dapat melakukan kesalahan yang sangat serius dan membutuhkan keberanian dari individu untuk memperbaikinya.
Editor : Lugas Rumpakaadi