RADAR BANYUWANGI - Bayangkan mengetahui bahwa sebuah komet raksasa sedang menuju bumi dan waktu untuk menyelamatkan diri semakin sedikit. Masalahnya, tempat perlindungan tidak tersedia untuk semua orang. Dalam keadaan seperti itu, ancaman terbesar mungkin bukan lagi benda langit yang akan menghantam bumi, melainkan manusia yang sama-sama ingin bertahan hidup.
Gagasan tersebut menjadi kekuatan utama Greenland (2020), film garapan Ric Roman Waugh yang menghadirkan bencana bukan semata sebagai tontonan kehancuran. Komet Clarke memang menjadi sumber malapetaka, tetapi cerita justru lebih banyak menguji bagaimana manusia bereaksi ketika kehidupan normal runtuh dalam waktu singkat.
Alih-alih memenuhi layar dengan adegan kehancuran kota secara terus-menerus, Greenland membawa penonton mengikuti perjuangan sebuah keluarga yang mendapatkan kesempatan menuju bunker perlindungan militer. Kesempatan itu terdengar seperti jalan keluar, tetapi sekaligus menjadi awal dari persoalan yang lebih besar.
Sebab, akses menuju keselamatan ternyata terbatas.
Ketika hanya sebagian masyarakat yang memperoleh tiket evakuasi, kehidupan sosial segera berubah. Muncul batas yang tegas antara mereka yang memiliki peluang untuk selamat dan mereka yang tidak. Dalam kondisi ketika masa depan seseorang ditentukan oleh selembar tiket atau tanda akses, rasa takut dengan mudah berubah menjadi kepanikan.
Di sinilah film mulai menunjukkan wajah bencana yang berbeda.
Ketika kesempatan untuk selamat tidak dimiliki semua orang
Ancaman komet menciptakan situasi ekstrem, tetapi ketidakadilan akses terhadap tempat perlindungan membuat kepanikan menjadi semakin personal. Orang-orang tidak hanya berusaha menghindari kehancuran, tetapi juga berusaha memastikan keluarganya termasuk dalam kelompok yang masih memiliki masa depan.
Gelang atau tanda evakuasi kemudian memiliki nilai yang jauh melampaui benda biasa. Bagi mereka yang tidak mendapat akses, benda tersebut menjadi simbol kesempatan untuk hidup. Akibatnya, orang yang memilikinya dapat menjadi sasaran.
Kondisi tersebut menjadi salah satu sumber ketegangan utama dalam Greenland. Keluarga yang berusaha mencapai tempat perlindungan harus menghadapi bukan hanya ancaman dari luar, tetapi juga masyarakat yang mulai kehilangan kendali.
Ketika hukum dan tatanan sosial tidak lagi memberikan rasa aman, naluri bertahan hidup mengambil alih. Orang yang sebelumnya dapat hidup berdampingan sebagai warga biasa tiba-tiba melihat orang lain sebagai penghalang antara dirinya dan keselamatan keluarganya.
Situasi ini membuat film terasa lebih dekat dengan ketakutan manusia dibandingkan sekadar film tentang kehancuran planet.
Monster sebenarnya bukan komet
Ric Roman Waugh secara terbuka menjelaskan bahwa komet bukanlah inti persoalan yang ingin ia eksplorasi melalui film tersebut.
“Ketika saya membaca Greenland, saya menyadari bahwa film ini tidak pernah sebenarnya tentang komet itu. Monster itu terlalu mudah untuk diidentifikasi. Monster lainnya adalah kemanusiaan itu sendiri. Ini adalah tentang apa yang akan kita lakukan dalam situasi hidup atau mati,” ujar Waugh dalam wawancaranya dengan Film Inquiry.
Pernyataan tersebut menjadi kunci untuk memahami Greenland. Clarke berfungsi sebagai ancaman yang jelas dan mudah dikenali. Penonton tahu dari mana bahaya berasal. Yang jauh lebih sulit diprediksi adalah bagaimana manusia akan bertindak ketika seluruh aturan kehidupan normal tiba-tiba kehilangan makna.
Dengan kata lain, komet menjadi pemicu, sementara manusia menjadi pusat konfliknya.
Ketakutan membuat batas baik dan buruk menjadi kabur
Salah satu aspek menarik dari Greenland adalah film ini tidak sepenuhnya membagi karakter ke dalam kelompok protagonis yang selalu benar dan pihak antagonis yang sepenuhnya jahat.
Dalam situasi hidup atau mati, tindakan ekstrem dapat muncul dari dorongan yang sebenarnya sangat manusiawi: keinginan menyelamatkan keluarga.
Seseorang dapat melakukan tindakan yang mengancam orang lain bukan karena sejak awal memiliki sifat kejam, melainkan karena takut kehilangan orang yang dicintainya. Di sinilah dilema moral film menjadi lebih rumit.
Penonton dipaksa melihat persoalan dari dua sisi. Bagi seseorang yang terancam, tindakan mempertahankan diri mungkin terasa wajar. Namun, bagi orang yang menjadi korban tindakan tersebut, alasan itu tidak otomatis membuatnya dapat dibenarkan.
Ketakutan akhirnya mengubah hubungan antarmanusia. Orang asing menjadi ancaman. Orang yang sebelumnya dapat dipercaya menjadi sulit ditebak. Bahkan kepedulian terhadap keluarga sendiri dapat berbenturan dengan kebutuhan untuk memperlakukan orang lain secara manusiawi.
Bencana terbesar terjadi sebelum bumi benar-benar hancur
Perspektif tersebut membuat Greenland berbeda dari film bencana yang menjadikan kehancuran fisik sebagai pusat cerita.
Kekuatan film ini justru terletak pada proses ketika masyarakat perlahan kehilangan rasa aman. Sebelum komet menghantam bumi, ketakutan telah lebih dahulu menghancurkan sesuatu yang tidak terlihat: kepercayaan.
Masyarakat yang mengetahui bahwa kesempatan untuk bertahan hidup terbatas akan menghadapi persoalan yang sangat sulit. Siapa yang berhak diselamatkan? Siapa yang harus ditinggalkan? Apakah seseorang harus mendahulukan keluarganya sendiri ketika keputusan tersebut berarti orang lain kehilangan kesempatan hidup?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membuat ancaman dalam Greenland terasa lebih manusiawi sekaligus lebih mengganggu.
Film ini tidak hanya meminta penonton membayangkan seperti apa dunia setelah bencana terjadi. Penonton juga diajak membayangkan seperti apa manusia beberapa jam sebelum bencana tersebut tiba, ketika semua orang mengetahui bahwa waktu mereka hampir habis.
Mengapa Greenland tetap menarik sebagai film bencana
Daya tarik Greenland tidak hanya berasal dari premis tentang komet yang mengancam bumi. Film ini menawarkan ketegangan melalui keputusan-keputusan manusia yang harus dibuat dalam keadaan serba terbatas.
Ada waktu yang terbatas. Ada tempat perlindungan yang terbatas. Ada informasi yang tidak selalu dapat diakses semua orang. Dan yang paling penting, ada rasa takut yang semakin sulit dikendalikan.
Kombinasi tersebut membuat ancaman terasa lebih dekat. Penonton tidak hanya bertanya apakah bumi akan selamat, tetapi juga apakah hubungan antarmanusia masih mampu bertahan ketika keselamatan menjadi sesuatu yang langka.
Editor : Lugas Rumpakaadi