RADAR BANYUWANGI - Bagaimana jika ancaman dari luar angkasa tidak datang untuk menghancurkan manusia, tetapi justru mengubah mereka menjadi sesuatu yang tidak lagi mereka kenali?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu daya tarik utama Annihilation (2018), film fiksi ilmiah garapan Alex Garland yang menghadirkan ancaman alien dengan cara berbeda. Tidak ada pasukan makhluk luar angkasa yang datang untuk menguasai bumi. Sebaliknya, sebuah fenomena misterius bernama The Shimmer perlahan memperluas pengaruhnya dan mengubah segala sesuatu yang berada di dalamnya.
Di balik cerita tentang ekspedisi ilmiah dan mutasi biologis, Annihilation menyimpan pertanyaan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan manusia: apakah kehancuran selalu datang dari luar, atau sebenarnya manusia memiliki kemampuan untuk menghancurkan dirinya sendiri?
The Shimmer Bukan Sekadar Zona Berbahaya
Dalam cerita, lima ilmuwan perempuan memasuki The Shimmer untuk mencari jawaban atas hilangnya sejumlah tim yang sebelumnya dikirim ke wilayah tersebut. Mereka datang dengan latar belakang dan keahlian berbeda, tetapi masing-masing membawa persoalan pribadi yang tidak sederhana.
Semakin jauh mereka memasuki zona anomali itu, semakin sulit mereka membedakan antara sesuatu yang berasal dari lingkungan dan sesuatu yang muncul dari dalam diri mereka sendiri.
The Shimmer membiaskan berbagai unsur. Gelombang radio mengalami perubahan, struktur DNA dapat bertransformasi, sementara tumbuhan dan hewan berkembang dalam bentuk yang tidak lazim. Lingkungan tersebut menghadirkan pemandangan yang sekaligus indah dan mengerikan.
Bunga-bunga dapat memiliki karakteristik yang menyerupai manusia. Hewan mengalami mutasi ekstrem. Tubuh manusia pun tidak luput dari perubahan.
Namun, perubahan biologis itu bukan sekadar efek visual untuk membangun suasana horor. Garland menggunakannya sebagai bagian dari gagasan yang lebih besar tentang perubahan, kehilangan kendali, dan kecenderungan manusia menghadapi kehancuran.
Ketika Mutasi Menjadi Cermin Kondisi Manusia
Setiap anggota ekspedisi memasuki The Shimmer dengan membawa luka emosional masing-masing. Ada trauma, kehilangan, rasa bersalah, dan persoalan yang belum terselesaikan.
Karena itu, perjalanan mereka dapat dibaca lebih dari sekadar ekspedisi menuju wilayah asing. The Shimmer seolah memperbesar kondisi yang sebelumnya telah ada di dalam diri mereka.
Gagasan tersebut berkaitan dengan pandangan Garland mengenai sifat destruktif manusia. Dalam wawancaranya dengan Thrillist, sang sutradara menjelaskan alasan para karakter memiliki kecenderungan menghancurkan diri sendiri.
“Alasan setiap orang di sana bersifat destruktif terhadap diri sendiri, atau bahwa orang-orang ini kebetulan memiliki kecenderungan destruktif, adalah karena pada dasarnya semua orang memiliki sifat destruktif terhadap diri sendiri," ujarnya.
Pernyataan tersebut memberikan kunci untuk memahami film ini. Ancaman di dalam The Shimmer bukan hanya sesuatu yang datang dari luar. Fenomena tersebut justru berfungsi seperti katalis yang mempercepat proses perubahan dan memperlihatkan sisi manusia yang selama ini tersembunyi.
Dengan cara itu, Annihilation tidak menggambarkan alien sebagai musuh tradisional. Fenomena asing tersebut tidak memiliki pola invasi seperti yang sering ditemukan dalam film fiksi ilmiah. Ia lebih menyerupai kekuatan alam yang tidak memiliki kepentingan manusiawi, tetapi mampu mengubah kehidupan secara fundamental.
Keindahan yang Berjalan Bersama Kehancuran
Salah satu kekuatan Annihilation terletak pada cara film tersebut memperlakukan perubahan sebagai sesuatu yang tidak sepenuhnya buruk maupun baik.
Mutasi di dalam The Shimmer dapat menghasilkan bentuk kehidupan yang mengerikan, tetapi juga menciptakan sesuatu yang memiliki keindahan asing. Batas antara kehancuran dan penciptaan menjadi kabur.
Konsep tersebut membuat The Shimmer dapat dibaca sebagai gambaran tentang kehidupan itu sendiri. Manusia terus berubah akibat pengalaman, kehilangan, trauma, dan pilihan yang dibuatnya. Tidak semua perubahan dapat dikendalikan, dan tidak semua perubahan menghasilkan sesuatu yang langsung dapat dipahami.
Dalam konteks ini, mutasi biologis bukan hanya persoalan tubuh. Ia menjadi metafora tentang identitas dan perubahan manusia.
Seseorang dapat keluar dari pengalaman traumatis dengan kondisi yang sangat berbeda dari sebelumnya. Pertanyaannya kemudian, apakah ia masih merupakan orang yang sama?
Misteri di Mercusuar Mengubah Pertanyaan Film
Pertanyaan tersebut mencapai titik paling penting ketika perjalanan menuju sumber The Shimmer membawa cerita ke sebuah mercusuar.
Di tempat itu, tokoh utama berhadapan dengan entitas yang mampu meniru wujud fisiknya. Entitas tersebut tidak sekadar menjadi lawan yang harus dikalahkan. Kehadirannya justru memaksa karakter dan penonton mempertanyakan batas antara manusia asli dan sesuatu yang merupakan salinan.
Di sinilah Annihilation mulai bergerak dari misteri tentang alien menuju persoalan identitas.
Jika tubuh dapat berubah, ingatan dapat berubah, dan pengalaman dapat mengubah kepribadian, apa sebenarnya yang membuat seseorang tetap menjadi dirinya sendiri?
Film ini tidak memberikan jawaban sederhana. Sebaliknya, Garland membiarkan penonton berhadapan dengan ketidakpastian tersebut.
Hubungannya dengan Paradoks Kapal Theseus
Gagasan mengenai identitas dalam Annihilation berkaitan dengan paradoks Kapal Theseus dalam filsafat Yunani kuno.
Sederhananya, paradoks ini mempertanyakan identitas sebuah kapal ketika seluruh bagian kayunya diganti satu per satu. Jika tidak ada lagi bagian asli yang tersisa, apakah kapal tersebut masih merupakan kapal yang sama?
Pertanyaan yang serupa muncul dalam Annihilation. Jika seseorang mengalami perubahan mendasar pada tubuh dan pikirannya, apakah ia masih merupakan individu yang sama?
Konsep ini membuat akhir film menjadi lebih menarik karena penonton tidak hanya diminta memahami apa yang terjadi secara fisik. Mereka juga diajak mempertanyakan makna keberadaan dan identitas setelah perubahan yang ekstrem.
Mengapa Annihilation Tidak Memberikan Semua Jawaban?
Bagi sebagian penonton, misteri yang tidak dijelaskan secara tuntas mungkin terasa tidak memuaskan. Namun, justru ketidakjelasan tersebut menjadi bagian penting dari pendekatan Garland.
The Shimmer tidak harus dipahami sebagai teka-teki yang memiliki satu jawaban pasti. Fenomena tersebut dapat dibaca sebagai simbol perubahan yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan oleh manusia.
Gumpalan cahaya, mutasi DNA, perubahan flora dan fauna, hingga entitas yang meniru manusia menjadi bagian dari sebuah cerita yang lebih besar mengenai transformasi.
Dengan tidak memberikan penjelasan yang serba gamblang, film ini memberikan ruang bagi penonton untuk membangun interpretasinya sendiri.
Editor : Lugas Rumpakaadi