RADAR BANYUWANGI - Film invasi alien biasanya memiliki pola yang mudah dikenali. Makhluk asing datang, manusia melawan, lalu perjuangan berlanjut demi menyelamatkan kehidupan. Hope memilih jalan yang jauh lebih berisiko. Film terbaru Na Hong-jin, sutradara The Wailing, memulai ceritanya sebagai misteri monster yang menegangkan sebelum berkembang menjadi tontonan fiksi ilmiah dengan aksi besar, humor gelap, dan sejumlah keputusan cerita yang sulit ditebak.
Film berdurasi sekitar 160 menit ini mengambil latar sebuah kota kecil dan terpencil di Korea Selatan. Kehidupan warga berubah setelah ditemukan seekor sapi yang mati secara mengenaskan. Kepala kepolisian setempat, Bum-seok yang diperankan Hwang Jung-min, awalnya menyelidiki kasus tersebut dengan dugaan adanya serangan hewan liar.
Namun, kejadian berikutnya menunjukkan bahwa ancaman yang dihadapi warga jauh lebih besar.
Kerusakan mulai terjadi di berbagai lokasi. Sebuah makhluk misterius bergerak cepat di sekitar kota, meninggalkan kehancuran dan korban. Bum-seok kemudian terlibat dalam situasi yang semakin sulit dikendalikan bersama bawahannya, Sung-ae (Hoyeon), serta pemburu bernama Sung-ki (Zo In-sung).
Di sinilah Hope menunjukkan kekuatan terbesarnya.
Misteri monster menjadi senjata utama
Na Hong-jin tidak terburu-buru memperlihatkan sosok alien. Selama bagian awal, penonton lebih banyak mengenali ancaman melalui suara, jejak kehancuran, reaksi para karakter, dan berbagai kejadian yang berlangsung di sekitar kota.
Pendekatan tersebut membuat bagian awal Hope terasa seperti thriller monster. Bum-seok tidak pernah benar-benar memahami apa yang sedang dihadapinya. Penonton pun ditempatkan pada posisi yang sama.
Keputusan itu bukan kebetulan. Na mengatakan bahwa sekitar 50 menit pertama memang diperlukan untuk membangun cerita sebelum makhluk tersebut diperlihatkan.
“Kami benar-benar ingin 50 menit awal terasa luas, dengan kepadatan aksi dan narasi yang kuat,” kata Na Hong-jin.
Cara tersebut mengingatkan pada tradisi film monster yang lebih mengutamakan ketegangan sebelum memperlihatkan ancaman secara utuh. Bedanya, Na membawa pendekatan itu ke dalam produksi yang menggunakan lokasi nyata, pergerakan kamera yang intens, dan rangkaian kehancuran dalam skala besar.
Sinematografi Hong Kyung-pyo turut memperkuat atmosfer film. Lingkungan kota, kawasan hutan, jalan raya, hingga bangunan yang rusak tidak hanya menjadi latar, tetapi juga membantu menggambarkan bagaimana ancaman tersebut perlahan menguasai ruang kehidupan warga.
Dari horor ke aksi fiksi ilmiah
Masalah sekaligus daya tarik Hope muncul ketika film mulai membuka rahasianya.
Makhluk asing akhirnya diperlihatkan secara lebih jelas. Dalam cerita, para alien memiliki tinggi sekitar tiga meter dan diwujudkan melalui kombinasi efek digital serta performa aktor menggunakan teknologi motion capture.
Beberapa aktor yang terlibat dalam karakter alien antara lain Michael Fassbender, Alicia Vikander, Cameron Britton, dan Taylor Russell.
Secara konsep, keputusan tersebut cukup ambisius. Na tidak hanya ingin membuat alien sebagai monster tanpa karakter, tetapi memanfaatkan performa para aktor untuk membangun keberadaan dan tujuan mereka meskipun terdapat hambatan bahasa.
Namun, visual alien ketika bergerak menjadi salah satu aspek yang paling mungkin memecah pendapat penonton. Jika kemunculannya dalam posisi diam dapat terlihat mengesankan, gerakannya dalam sejumlah adegan aksi justru terasa kurang meyakinkan.
Persoalan tersebut menjadi semakin terlihat karena Hope banyak mengandalkan adegan pengejaran. Mobil, kuda, jalan kota, hutan, dan jalan raya menjadi arena pertempuran antara manusia dan makhluk asing.
Di atas kertas, formula itu terdengar menjanjikan. Dalam pelaksanaannya, perpaduan gerakan manusia, kendaraan, kuda, dan karakter digital tidak selalu menghasilkan adegan aksi yang terasa mulus.
Stunt nyata menjadi salah satu kekuatan film
Di tengah kontroversi mengenai efek visual, Hope justru memiliki kekuatan pada aksi yang dilakukan secara langsung di lokasi.
Na Hong-jin mengatakan proses produksinya memang menghadapi tantangan besar dalam menggabungkan stunt dengan karakter yang nantinya ditambahkan menggunakan CGI. Ia memilih memberikan perhatian lebih pada aksi langsung yang direkam kamera.
“Saya lebih memilih berfokus pada stunt yang dikerjakan dengan sangat teliti dalam proses tersebut,” ungkapnya.
Keputusan itu terlihat pada sejumlah adegan kehancuran dan pengejaran yang melibatkan kendaraan, kuda, serta lingkungan sekitar.
Salah satu rangkaian paling ekstrem berlangsung di sebuah jalan panjang dan jembatan tinggi. Menurut Na, keselamatan menjadi perhatian terbesar karena kondisi lokasi cukup berbahaya. Jalan yang digunakan memiliki panjang sekitar enam kilometer, sementara jembatan dalam adegan tersebut termasuk salah satu jembatan tinggi di Korea Selatan.
“Kekhawatiran terbesar saya adalah keselamatan,” ujarnya.
Menariknya, meskipun lokasi tersebut membuat proses produksi penuh risiko, Na mengatakan pengambilan gambar adegan itu sendiri berjalan relatif lancar.
Humor gelap membuat bagian awal lebih hidup
Hope juga tidak sepenuhnya bermain sebagai film horor serius. Humor gelap menjadi bagian penting, terutama ketika para karakter berusaha menghadapi situasi yang semakin tidak masuk akal.
Bum-seok, misalnya, menggunakan candaan sebagai salah satu cara menghadapi tekanan. Kontras antara kepanikan warga dan respons para karakter menghasilkan sejumlah momen yang membuat film terasa lebih ringan tanpa sepenuhnya menghilangkan ancaman.
Keseimbangan antara horor dan humor tersebut bekerja paling baik pada bagian awal. Ketika film mulai bergerak semakin jauh ke wilayah aksi fiksi ilmiah, penggunaan humor menjadi lebih sering dan berpotensi mengurangi ketegangan yang sebelumnya telah dibangun.
Perubahan inilah yang membuat Hope terasa seperti dua film berbeda.
Mengapa respons terhadap Hope bisa sangat berbeda?
Setelah pemutaran perdananya di Cannes, tanggapan terhadap Hope dilaporkan terbelah. Ada yang melihat keberanian Na Hong-jin sebagai sesuatu yang menyegarkan, sementara ada pula yang menilai film tersebut terlalu ambisius dan tidak sepenuhnya berhasil menjaga konsistensi.
Perbedaan tersebut sebenarnya dapat dipahami dari struktur filmnya.
Bagian pertama bekerja dengan prinsip misteri. Ancaman tidak terlihat jelas sehingga imajinasi penonton mengambil peran penting. Setelah makhluk asing diperlihatkan, fokus bergeser menjadi aksi dan mitologi fiksi ilmiah.
Perubahan genre tersebut membuat ekspektasi penonton ikut berubah.
Film yang semula terasa seperti thriller monster kemudian berkembang menjadi cerita yang lebih besar tentang manusia, alien, perbedaan perspektif, dan konsekuensi dari kesalahpahaman.
Di satu sisi, perubahan ini menunjukkan keberanian Na untuk tidak mengikuti formula film invasi alien pada umumnya. Di sisi lain, semakin banyak elemen baru yang diperkenalkan, semakin sulit pula bagi film untuk menjaga fokus narasinya.
Apakah Hope layak ditonton?
Hope bukan film invasi alien yang sempurna. Namun, film ini memiliki satu kualitas yang semakin jarang ditemukan dalam blockbuster. Keberanian untuk mengambil risiko.
Penonton yang menginginkan cerita fiksi ilmiah dengan formula sederhana kemungkinan akan menemukan sejumlah bagian yang membingungkan. Sebaliknya, mereka yang menikmati film dengan perubahan arah ekstrem dan keputusan penyutradaraan yang tidak konvensional justru dapat melihat Hope sebagai eksperimen yang menarik.
Kekuatan film paling terasa pada atmosfer, lokasi nyata, performa pemeran manusia, stunt, serta cara Na membangun misteri pada bagian awal. Sementara itu, efek visual alien, perubahan genre, dan arah cerita pada bagian akhir menjadi aspek yang kemungkinan besar memunculkan perdebatan.
Dengan kata lain, Hope bukan tontonan yang selesai ketika credit title muncul. Justru setelah film berakhir, sejumlah pertanyaan mengenai pilihan ceritanya masih mungkin tertinggal di kepala penonton.
Hal tersebut dapat menjadi kelemahan sekaligus kelebihannya.
Bagi penonton di Banyuwangi yang mencari alternatif dari film waralaba yang lebih konvensional, Hope menawarkan pengalaman yang berbeda. Film ini mungkin tidak cocok untuk semua orang, tetapi keberaniannya membuat karya Na Hong-jin jauh lebih menarik untuk dibicarakan daripada sekadar menjadi film invasi alien biasa.
Data film Hope
- Judul: Hope
- Sutradara: Na Hong-jin
- Genre: Fiksi ilmiah, horor, aksi
- Durasi: sekitar 160 menit
- Pemeran: Hwang Jung-min, Hoyeon, Zo In-sung, Michael Fassbender, Alicia Vikander, Cameron Britton, Taylor Russell
- Negara: Korea Selatan
- Jadwal tayang: 9 September
Hope menjadi langkah baru bagi Na Hong-jin setelah sebelumnya dikenal melalui film thriller kriminal dan horor supernatural. Kali ini ia mencoba membangun dunia fiksi ilmiah dengan skala yang jauh lebih besar. Sebuah perjudian kreatif yang hasil akhirnya sangat mungkin membuat penonton terkesan sekaligus kebingungan.
Editor : Lugas Rumpakaadi