Hope Hadirkan Teror Monster di Siang Hari, Na Hong-jin Dobrak Formula Horor

Loanda Ajeng Rossiani • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 12:29 WIB
Film Hope karya Na Hong-jin menghadirkan pendekatan berbeda terhadap genre monster dengan menempatkan ancaman di lingkungan terbuka dan tidak semata-mata mengandalkan kegelapan untuk membangun ketegangan. (IMDb)
Film Hope karya Na Hong-jin menghadirkan pendekatan berbeda terhadap genre monster dengan menempatkan ancaman di lingkungan terbuka dan tidak semata-mata mengandalkan kegelapan untuk membangun ketegangan. (IMDb)

RADAR BANYUWANGI - Film Hope karya sutradara Korea Selatan Na Hong-jin menawarkan pendekatan berbeda terhadap genre monster. Alih-alih menjadikan malam dan kegelapan sebagai tempat utama munculnya ancaman, film ini menghadirkan teror di lingkungan terbuka dengan cahaya matahari yang terang.

Hope merupakan film thriller fiksi ilmiah yang mengambil latar Hopo Port, desa pelabuhan fiktif di dekat Zona Demiliterisasi atau DMZ Korea Selatan. Ceritanya berawal dari kemunculan makhluk misterius yang membuat kehidupan warga berubah menjadi perjuangan untuk bertahan hidup. Film ini dibintangi Hwang Jung-min, Zo In-sung, Jung Ho-yeon, serta sejumlah aktor internasional seperti Taylor Russell, Cameron Britton, Alicia Vikander, dan Michael Fassbender.

Monster yang Tak Lagi Bersembunyi dalam Gelap

Film monster lazimnya menggunakan kegelapan untuk menyembunyikan sosok makhluk sekaligus membangun rasa penasaran. Hope mengambil jalur berbeda. Ketegangan tidak hanya dibangun dari pertanyaan tentang apa yang bersembunyi di balik bayangan, tetapi dari bagaimana manusia menghadapi ancaman ketika lingkungan di sekeliling mereka terlihat jelas.

Pendekatan tersebut membuat ruang terbuka tidak otomatis terasa aman. Cahaya matahari justru dapat memperlihatkan kehancuran dan kepanikan secara lebih gamblang. Para karakter tidak memiliki kemewahan untuk sekadar menunggu malam berlalu karena bahaya dapat hadir ketika mereka sedang berada di tempat yang semestinya memberikan jarak untuk melarikan diri.

Film ini juga tidak terburu-buru memperlihatkan sosok makhluk tersebut. Sejumlah ulasan mencatat bahwa bagian awal Hope mempertahankan ketidakpastian mengenai keberadaan dan bentuk ancaman sebelum cerita berkembang menjadi konflik yang lebih besar.

Hopo Port Menjadi Bagian Penting dari Teror

Kekuatan lain Hope terletak pada penggunaan lokasi. Hopo Port digambarkan sebagai komunitas terpencil yang terisolasi dari dunia luar. Dalam situasi normal, keterpencilan mungkin hanya menjadi karakteristik geografis. Dalam film ini, kondisi tersebut berubah menjadi sumber tekanan.

Na Hong-jin sendiri menilai keterasingan memiliki peran penting dalam cerita. Ia mengatakan ingin memulai kisah dari sebuah tempat kecil dan sederhana, kemudian membiarkan peristiwa di dalamnya berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.

“Isolasi memiliki makna penting dalam cerita ini. Saya ingin menceritakan kisah yang bermula di tempat yang sangat kecil dan sederhana,” ujar Na Hong-jin.

Dari Kepanikan Warga hingga Ancaman yang Lebih Besar

Kisah Hope berpusat pada Beom-seok, kepala pos polisi di Hopo Port yang diperankan Hwang Jung-min, bersama petugas polisi Sung-ae yang dimainkan Jung Ho-yeon dan Sung-gi, seorang pemuda desa yang diperankan Zo In-sung. Ketiganya berada di tengah situasi yang semakin sulit dikendalikan ketika ancaman misterius muncul.

Lembaga Sensor Film Indonesia mencatat Hope sebagai film thriller/misteri dan fiksi ilmiah berdurasi 156 menit. Film tersebut juga tercatat memperoleh klasifikasi Remaja 13 Tahun di Indonesia.

Skala film kemudian bergerak melampaui kisah monster dan warga desa. Hope terpilih dalam kompetisi utama Festival Film Cannes 2026, sekaligus menjadi debut Na Hong-jin di kompetisi utama festival tersebut. Film ini mendapat pemutaran perdana dunia di Cannes dan memperoleh sambutan panjang dari penonton setelah pemutaran.

Teror yang Tidak Bergantung pada Kegelapan

Keputusan Na Hong-jin untuk membawa ancaman ke ruang yang terang membuat Hope memiliki pendekatan visual yang berbeda dari film monster konvensional. Ketakutan tidak selalu lahir dari sesuatu yang tidak terlihat. Dalam situasi tertentu, justru kemampuan melihat ancaman secara langsung dapat membuat rasa tidak berdaya semakin kuat.

Ruang terbuka juga tidak serta-merta menghilangkan rasa terkurung. Ketika sebuah komunitas terisolasi dan tidak memiliki akses mudah terhadap bantuan, luasnya lanskap tidak banyak berarti. Karakter tetap dapat merasa terjebak karena pilihan mereka semakin terbatas.

Di titik inilah Hope membangun terornya. Matahari dapat menerangi jalan, rumah, ladang, dan pelabuhan, tetapi tidak memberikan jaminan keselamatan. Ancaman tetap berada di dalam ruang yang sama dengan manusia.

Pendekatan tersebut membuat Hope tidak hanya menarik sebagai film monster, tetapi juga sebagai eksperimen Na Hong-jin dalam mengolah ruang, ketegangan, dan rasa takut. Kegelapan tidak lagi menjadi satu-satunya tempat bagi monster untuk bekerja. Dalam film ini, siang hari pun dapat menjadi panggung bagi teror.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Na Hong-jin film fiksi ilmiah Hope film monster film korea