RADAR BANYUWANGI - Minggu pagi, televisi sudah menyala ketika sebagian anggota keluarga masih bersiap memulai aktivitas. Bagi generasi yang tumbuh pada era 1990-an hingga awal 2000-an, salah satu tayangan yang dinanti bukan sekadar kartun, melainkan sosok raksasa cahaya yang turun menghadapi monster.
Ultraman pernah menjadi bagian dari rutinitas tersebut.
Serial tokusatsu asal Jepang itu hadir di televisi Indonesia dalam berbagai generasi. Namun, bagi penonton yang tumbuh pada era tersebut, nama Ultraman Tiga, Dyna, Gaia hingga Cosmos memiliki tempat yang berbeda.
Bagi yang melewati masa kecil pada periode yang sama, kenangan itu mungkin terasa akrab. Menunggu tayangan pagi selesai, kemudian beralih ke kartun atau anime yang mengisi jadwal televisi berikutnya.
Tiga membuka lembaran baru Ultraman
Salah satu serial yang paling kuat melekat dalam ingatan generasi 90-an adalah Ultraman Tiga.
Serial ini pertama kali ditayangkan di Jepang pada 1996 dan baru hadir di Indonesia melalui Indosiar pada 2000. Kehadirannya menandai babak baru dalam perjalanan waralaba Ultraman setelah cukup lama didominasi oleh serial dari era Showa.
Tiga terasa berbeda bagi penonton pada masanya. Teknologi produksi dan efek visual berkembang, sementara ceritanya menawarkan pendekatan yang lebih modern dibandingkan sejumlah seri sebelumnya.
Perubahan tersebut membuat Ultraman kembali memiliki daya tarik bagi penonton generasi baru.
Tiga juga memiliki tiga bentuk utama dengan kemampuan berbeda, sesuatu yang kemudian menjadi salah satu ciri yang mudah diingat oleh penggemarnya.
Bagi anak-anak yang menyaksikannya pada awal 2000-an, perubahan bentuk tersebut bukan sekadar bagian dari cerita. Ia menjadi salah satu hal yang membuat setiap episode terasa menarik untuk diikuti.
Ketika Dyna melanjutkan cerita
Setelah Tiga, hadir Ultraman Dyna.
Serial tersebut mulai ditayangkan di Jepang pada 1997 dan kemudian masuk ke televisi Indonesia melalui Indosiar pada 2001. Ceritanya mengikuti Shin Asuka, anggota tim Super GUTS yang mengalami kecelakaan ketika menjalankan tugas.
Peristiwa itu mempertemukannya dengan sosok raksasa cahaya bernama Ultraman Dyna. Sejak saat tersebut, kehidupan Asuka berubah dan ia menjadi bagian dari perjuangan menghadapi berbagai ancaman terhadap bumi.
Dyna memiliki keterkaitan cerita dengan Tiga. Karena itu, penonton yang sebelumnya mengikuti perjalanan Tiga mendapatkan kesinambungan ketika memasuki dunia Dyna.
Bagi generasi yang menonton keduanya secara berurutan di televisi, keterkaitan tersebut membuat Ultraman terasa seperti sebuah dunia yang terus berkembang, bukan kumpulan cerita yang berdiri sendiri.
Gaia dan dua sosok raksasa
Pada 2002, giliran Ultraman Gaia hadir di Indonesia melalui Indosiar. Serial tersebut kemudian sempat ditayangkan kembali oleh Global TV pada 2006.
Gaia memiliki konsep yang berbeda karena menghadirkan dua sosok Ultraman dengan pandangan yang tidak selalu sama.
Ada Ultraman Gaia yang berusaha melindungi bumi sekaligus manusia. Di sisi lain, terdapat Ultraman Agul yang lebih menitikberatkan perlindungan terhadap bumi.
Perbedaan tersebut menghasilkan konflik yang menjadi salah satu daya tarik utama serial. Gaia dan Agul tidak selalu berada pada posisi yang sama, tetapi keadaan membuat keduanya harus berhadapan dengan ancaman yang lebih besar.
Bagi penonton masa itu, dinamika tersebut memberikan warna tersendiri. Pertarungan tidak hanya terjadi antara Ultraman dan monster, tetapi juga melibatkan perbedaan cara pandang di antara dua pahlawan.
Cosmos datang dengan cerita tentang perdamaian
Tidak semua serial Ultraman mengandalkan pertarungan sebagai daya tarik utama.
Ultraman Cosmos menjadi contoh yang paling mudah diingat. Serial tersebut pertama kali hadir di Indonesia melalui Indosiar pada 2004 dan kembali ditayangkan di Global TV pada 2007.
Cosmos membawa pendekatan yang lebih menonjolkan perdamaian. Alih-alih selalu menghancurkan monster yang dianggap sebagai ancaman, cerita sering memperlihatkan upaya memahami, menenangkan, atau menyelamatkan makhluk tersebut.
Pendekatan itu membuat Cosmos terasa lebih lembut dibandingkan dengan sejumlah seri lainnya.
Karakter Ultraman Cosmos yang identik dengan warna biru juga menjadi salah satu ciri visual yang mudah dikenali. Bagi sebagian anak, pendekatan tersebut justru membuat Cosmos menjadi serial yang menarik. Namun, bagi penonton yang mengharapkan pertarungan lebih intens, gaya cerita tersebut dapat terasa kurang menegangkan.
Perbedaan respons itu justru menunjukkan bahwa Ultraman tidak selalu menawarkan formula cerita yang sama.
Ginga dan nostalgia yang kembali
Beberapa tahun kemudian, Ultraman Ginga hadir di Indonesia melalui Indosiar pada 2014.
Serial ini membawa konsep baru sekaligus menyambungkan generasi penonton baru dengan karakter-karakter lama. Ceritanya berpusat pada Hikaru Raido, seorang siswa SMA dan atlet basket yang menemukan Ultra Live Figure di sebuah situs kuno.
Penemuan tersebut kemudian menyeret Hikaru ke dalam konflik yang melibatkan berbagai sosok Ultraman dan monster.
Kehadiran Ultraman Taro menjadi salah satu unsur nostalgia bagi penggemar lama. Karakter dari era sebelumnya muncul dalam cerita yang memiliki pendekatan berbeda, sehingga penonton lama mendapatkan sesuatu yang familiar, sementara penonton baru memperoleh pintu masuk menuju dunia Ultraman.
Editor : Lugas Rumpakaadi