Bukan Satu Tokoh, Ini Gabungan Figur Politik di Balik Kenneth Marshall Mickey 17

Khanza Tania Amelia Setiawan • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 13:06 WIB
Mark Ruffalo memerankan Kenneth Marshall dalam Mickey 17, karakter pemimpin otoriter yang dirancang dari gabungan karakteristik sejumlah figur politik dunia nyata. (Padang Ekspres)
Mark Ruffalo memerankan Kenneth Marshall dalam Mickey 17, karakter pemimpin otoriter yang dirancang dari gabungan karakteristik sejumlah figur politik dunia nyata. (Padang Ekspres)

RADAR BANYUWANGI - Karakter Kenneth Marshall yang diperankan Mark Ruffalo dalam film fiksi ilmiah Mickey 17 menjadi salah satu sosok yang menarik perhatian penonton.

Pemimpin koloni manusia di planet Niflheim itu digambarkan sebagai figur berkuasa yang karismatik, tetapi sekaligus absurd dan cenderung otoriter.

Sosok Marshall ternyata tidak dirancang berdasarkan satu politikus tertentu.

Sutradara Bong Joon-ho bersama Mark Ruffalo menggabungkan karakteristik sejumlah pemimpin politik dunia nyata untuk membentuk tokoh yang merepresentasikan pola kepemimpinan otoriter dalam konteks modern.

Bong mengungkapkan proses tersebut dalam wawancara media di Los Angeles, Amerika Serikat, pada Maret 2025.

Menurut dia, referensi karakter berasal dari sejumlah figur politik dengan latar dan karakter berbeda.

“Mark menunjukkan foto dan artikel berita tentang seorang gubernur Amerika tertentu, dan saya menunjukkan foto seorang politikus Korea yang selalu kalah dalam pemilu. Kami menggambarkan para diktator yang terpilih melalui pemungutan suara, bukan lewat kudeta,” ungkap Bong Joon-ho.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Kenneth Marshall sengaja dibangun sebagai gabungan berbagai karakter politik, bukan sebagai parodi langsung terhadap satu tokoh.

Pendekatan itu membuat karakter Marshall memiliki ruang yang lebih luas untuk menyampaikan kritik mengenai kekuasaan.

Dalam film, Marshall tampil sebagai pemimpin yang memanfaatkan citra politik dan daya tarik personal untuk memperoleh pengaruh.

Di balik karakter tersebut, Bong menyisipkan satir terhadap fenomena ketika seorang pemimpin yang memperoleh legitimasi melalui proses demokratis justru menunjukkan kecenderungan otoriter.

Pilihan ini juga memperkuat ciri khas film-film Bong Joon-ho yang kerap memadukan fiksi, humor gelap, dan kritik sosial.

Melalui Kenneth Marshall, kritik tersebut tidak diarahkan hanya kepada satu negara atau figur politik, melainkan pada pola kekuasaan yang dapat muncul dalam berbagai sistem politik.

Karena itu, Mickey 17 tidak sekadar menghadirkan karakter antagonis untuk menggerakkan cerita.

Kenneth Marshall menjadi bagian dari satir yang lebih luas tentang hubungan antara popularitas, legitimasi politik, dan kecenderungan seorang pemimpin untuk menggunakan kekuasaan secara berlebihan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Mark Ruffalo Mickey 17 Bong Joon-ho Kenneth Marshall film fiksi ilmiah