RADAR BANYUWANGI - Industri film nasional tengah menghadapi perubahan dalam mencari dan memilih pemain. Popularitas di media sosial perlahan menjadi salah satu pertimbangan penting dalam proses kasting. Fenomena yang kerap disebut sebagai “modal viral” itu membuka jalan lebih cepat bagi figur dengan basis pengikut besar untuk masuk ke layar lebar.
Perubahan tersebut sekaligus memunculkan perdebatan baru. Di satu sisi, media sosial membuat proses pencarian talenta menjadi lebih terbuka. Pemain dari berbagai latar belakang kini memiliki kesempatan memperkenalkan diri tanpa harus lebih dulu menembus jalur kasting konvensional yang selama ini dikenal ketat.
Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan persoalan. Ketika jumlah pengikut dan tingkat popularitas ikut dipertimbangkan sebagai modal komersial, kualitas akting berpotensi bukan lagi menjadi satu-satunya ukuran dalam menentukan pemain.
Aktor Reza Rahadian pernah menyoroti perubahan tersebut dalam tayangan bincang-bincang #VINIAR di studio Volix Media, Jakarta. Pernyataan itu disampaikan dalam video yang diunggah kanal YouTube Volix Media pada 21 November 2022.
Reza dalam kesempatan tersebut mengenang kondisi industri pada era 2000-an. Kala itu, pemain sinetron disebut menghadapi label tertentu ketika hendak masuk ke film layar lebar. Latar belakang sinetron sering kali diasosiasikan dengan gaya permainan yang dianggap kurang realistis oleh sebagian kalangan perfilman.
Menurut Reza, kondisi tersebut membuat batas antara pemain sinetron dan aktor film terasa cukup tegas. Pemain yang telah memiliki pengalaman di televisi belum tentu mudah mendapatkan kepercayaan untuk tampil dalam produksi layar lebar.
Perubahan ekosistem digital kemudian ikut merombak pola tersebut. Media sosial memungkinkan seseorang membangun basis massa, memperlihatkan kemampuan, sekaligus memperoleh perhatian publik tanpa sepenuhnya bergantung pada jalur industri konvensional.
Dalam konteks bisnis film, kondisi itu tentu menarik bagi rumah produksi. Figur yang telah dikenal publik dinilai memiliki potensi untuk membantu promosi sekaligus menarik penonton. Popularitas dapat menjadi aset pemasaran yang diperhitungkan sejak tahap pemilihan pemain.
Persoalannya, pendekatan berbasis popularitas juga menyimpan risiko. Ketika daya jual menjadi pertimbangan dominan, proses penggodokan karakter dan penilaian kemampuan akting dikhawatirkan ikut terpinggirkan.
Padahal, keberhasilan sebuah film tidak hanya ditentukan oleh seberapa dikenal wajah yang berada di depan kamera. Kekuatan cerita, kemampuan aktor membangun karakter, serta kecocokan pemain dengan dunia yang diciptakan film tetap menjadi bagian penting dari kualitas karya.
Fenomena “modal viral” itu tidak sepenuhnya bisa dipandang sebagai ancaman maupun solusi. Perkembangan media sosial justru dapat menjadi pintu masuk bagi talenta yang sebelumnya sulit terjangkau oleh industri. Tantangannya adalah memastikan keterbukaan tersebut tetap berjalan beriringan dengan proses seleksi yang mempertimbangkan kapasitas seni peran.
Pada akhirnya, popularitas bisa menjadi tiket untuk dilirik. Namun, kemampuan mempertahankan kepercayaan penonton tetap membutuhkan lebih dari sekadar jumlah pengikut di media sosial.
Editor : Lugas Rumpakaadi