RADAR BANYUWANGI - Bagi pembaca novel, ada satu momen yang kadang terasa mengganjal ketika cerita favorit akhirnya hadir di layar lebar, adegan yang ditunggu justru tidak ada.
Tokoh yang selama ini dibayangkan memiliki karakter tertentu bisa tampil berbeda.
Beberapa bab favorit mendadak hilang. Bahkan, tidak jarang akhir cerita yang sudah dikenal dari novel mendapat sentuhan baru ketika diadaptasi menjadi film.
Situasi seperti itu juga pernah dirasakan Nazillah, penikmat buku yang memiliki kebiasaan menonton film di bioskop.
Ia mengaku sempat kecewa ketika menemukan sejumlah bagian favorit dari novel tidak muncul dalam versi film.
"Awalnya sempat kecewa karena ada beberapa bab favorit di novel yang malah dihilangkan pas jadi film. Tapi setelah dipikir-pikir, kalau semua isi buku dimasukkan, filmnya bakal kepanjangan dan membosankan, jadi saya coba nikmati filmnya sebagai bentuk karya yang baru saja," ujar Nazillah.
Pengalaman tersebut menggambarkan persoalan yang kerap muncul setiap kali sebuah novel dipindahkan ke layar lebar.
Pembaca biasanya memiliki gambaran sendiri mengenai tokoh, suasana, hingga jalannya cerita. Ketika gambaran tersebut bertemu dengan interpretasi sutradara, perbedaan hampir tidak bisa dihindari.
Lantas, mengapa film adaptasi tidak dibuat sama persis dengan novelnya?
Jawabannya terletak pada perbedaan bahasa antara kedua medium tersebut.
Novel mempunyai ruang yang luas untuk bercerita. Penulis dapat menghabiskan banyak halaman untuk menggambarkan suasana, menjelaskan latar belakang tokoh, memasukkan monolog batin, maupun mengembangkan cerita sampingan.
Pembaca juga bebas menikmati cerita sesuai ritmenya sendiri. Satu bagian bisa dibaca cepat, sementara bagian lain dapat dinikmati lebih lama.
Film tidak memiliki keleluasaan serupa. Cerita harus disampaikan melalui gambar, dialog, suara, ekspresi, dan tindakan karakter dalam durasi terbatas.
Film layar lebar pada umumnya harus mampu menyelesaikan konflik utama dalam kisaran waktu sekitar 90 hingga 150 menit.
Karena itu, pembuat film harus melakukan seleksi terhadap materi yang ada di novel.
Subplot yang dianggap tidak terlalu berpengaruh terhadap konflik utama bisa dipangkas.
Dua karakter bahkan dapat digabungkan menjadi satu tokoh apabila hal tersebut membuat alur lebih sederhana.
Latar tempat juga dapat mengalami perubahan menyesuaikan kebutuhan cerita maupun produksi.
Bukan berarti bagian-bagian tersebut dianggap tidak penting. Persoalannya adalah bagaimana membuat cerita yang panjang dan kompleks dapat dipahami penonton dalam waktu relatif singkat.
Dalam novel, misalnya, kondisi psikologis seorang tokoh bisa dijelaskan melalui beberapa halaman.
Film harus menerjemahkan informasi tersebut ke dalam sesuatu yang dapat dilihat atau didengar penonton.
Ekspresi wajah, tindakan, dialog, suasana ruangan, hingga musik dapat mengambil fungsi yang dalam novel dijelaskan melalui narasi.
Di sinilah prinsip show, don't tell menjadi penting dalam proses adaptasi.
Pembuat film tidak sekadar memindahkan kalimat dari buku ke layar, tetapi menerjemahkan inti cerita ke dalam bahasa visual.
Konsekuensinya, film adaptasi pada dasarnya tidak harus menjadi salinan bergerak dari novel.
Film merupakan karya baru yang mengambil cerita, karakter, gagasan, atau pesan tertentu dari sumber aslinya, kemudian membentuknya kembali sesuai karakter medium pada film.
Persoalan muncul ketika ekspektasi pembaca terlalu melekat pada versi novel.
Pembaca yang sudah membangun imajinasi mengenai karakter tertentu bisa merasa asing ketika aktor yang memerankannya memberikan interpretasi berbeda.
Begitu pula ketika adegan yang dianggap penting justru tidak ditemukan dalam film.
Di sisi lain, penonton yang belum pernah membaca novelnya mungkin tidak merasakan kehilangan yang sama.
Mereka menikmati film berdasarkan apa yang disajikan di layar tanpa memiliki pembanding langsung.
Perbedaan pengalaman tersebut membuat respons terhadap film adaptasi menjadi beragam.
Ada yang menilai perubahan sebagai bentuk kreativitas, tetapi ada pula yang menganggapnya sebagai pengurangan terhadap cerita asli.
Padahal, kesetiaan terhadap novel bukan satu-satunya ukuran keberhasilan adaptasi.
Film tetap harus memiliki alur yang efektif, konflik yang jelas, karakter yang dapat dipahami, serta ritme yang mampu mempertahankan perhatian penonton.
Jika seluruh isi novel dipaksakan masuk ke dalam film tanpa penyaringan, cerita justru berpotensi kehilangan fokus.
Karena itu, keputusan untuk menghilangkan satu bab atau mengubah karakter tidak selalu berarti pembuat film gagal memahami karya aslinya.
Bisa jadi, perubahan tersebut merupakan bagian dari upaya mempertahankan esensi cerita ketika berpindah dari media tulisan ke audio-visual.
Bagi penonton sekaligus pembaca, mungkin diperlukan cara pandang yang sedikit berbeda ketika menikmati film adaptasi.
Novel dan film dapat diposisikan sebagai dua pengalaman yang saling berhubungan, tetapi tidak harus identik.
Novel memberikan ruang bagi pembaca untuk membangun dunia cerita melalui imajinasi.
Film menawarkan interpretasi visual yang telah dirancang oleh sutradara dan seluruh tim produksinya.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan hanya apakah film tersebut sama dengan novelnya.
Pertanyaannya adalah apakah film mampu membawa konflik, emosi, dan pesan utama cerita ke dalam bentuk yang efektif bagi penonton.
Dengan memahami perbedaan tersebut, hilangnya satu bab favorit atau berubahnya sebuah karakter mungkin tidak lagi selalu dipandang sebagai sebuah kekecewaan.
Perubahan itu dapat dilihat sebagai konsekuensi dari perjalanan sebuah cerita ketika berpindah dari halaman buku menuju layar lebar.
Editor : Lugas Rumpakaadi