Aaron Sorkin Bongkar Alasan Jesse Eisenberg Tolak Kembali Jadi Mark Zuckerberg di The Social Reckoning

Khanza Tania Amelia Setiawan • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 18:40 WIB
Aaron Sorkin mengungkap Jesse Eisenberg menolak kembali memerankan Mark Zuckerberg di The Social Reckoning. (Sundance Institute)
Aaron Sorkin mengungkap Jesse Eisenberg menolak kembali memerankan Mark Zuckerberg di The Social Reckoning. (Sundance Institute)

RADAR BANYUWANGI - Keinginan Aaron Sorkin menghadirkan kembali Jesse Eisenberg sebagai Mark Zuckerberg dalam film The Social Reckoning akhirnya tidak terwujud.

Meski telah membujuk sang aktor selama tiga hari, Eisenberg memilih menolak tawaran tersebut karena tidak ingin kembali dikaitkan dengan sosok pendiri Facebook itu.

Keputusan tersebut membuat Jeremy Strong dipercaya memerankan Zuckerberg dalam film terbaru garapan Sorkin.

Pengungkapan tersebut disampaikan Aaron Sorkin dalam wawancara eksklusif bersama Vanity Fair di New York, Amerika Serikat, yang dirilis pada Jumat (12/6).

Film The Social Reckoning merupakan sekuel sekaligus companion piece dari The Social Network (2010).

Berbeda dengan film pertamanya yang mengisahkan lahirnya Facebook, karya terbaru ini mengangkat skandal kebocoran data Facebook pada 2021 yang dipicu kesaksian pembocor rahasia Frances Haugen.

Dalam film tersebut, Frances Haugen diperankan Mikey Madison, sedangkan jurnalis The Wall Street Journal, Jeff Horwitz, dimainkan Jeremy Allen White.

Meski fokus cerita bergeser ke skandal data, karakter Mark Zuckerberg tetap menjadi salah satu tokoh penting.

Aaron Sorkin mengungkapkan Jesse Eisenberg merupakan pilihan pertama untuk kembali memerankan Mark Zuckerberg.

Menurutnya, tidak ada aktor yang lebih tepat karena Eisenberg telah berhasil menghidupkan karakter tersebut dalam The Social Network.

Sebagai informasi, penampilan Eisenberg dalam film rilisan 2010 itu mengantarkannya meraih nominasi Academy Awards atau Oscar untuk kategori Aktor Terbaik.

Karena itu, banyak penggemar menilai ia telah menjadi representasi Mark Zuckerberg di layar lebar.

Sorkin mengaku mulai menawarkan peran tersebut ketika bertemu Eisenberg di Vanity Fair Oscar Party di Los Angeles, California, Amerika Serikat, pada Maret 2025.

Ia bahkan menghabiskan waktu selama tiga hari untuk meyakinkan sang aktor agar kembali mengenakan identitas Mark Zuckerberg.

"Saya merasa peran itu adalah milik [Jesse Eisenberg], dan dia tentu saja sudah teruji," ujar Aaron Sorkin.

Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil.

Menurut Sorkin, penolakan Eisenberg bukan karena persoalan jadwal atau negosiasi kontrak, melainkan alasan pribadi.

Aktor tersebut tidak ingin kembali diasosiasikan dengan Mark Zuckerberg, karakter yang telah melekat kuat pada dirinya sejak membintangi The Social Network lebih dari satu dekade lalu.

"Dia sama sekali tidak ingin disamakan lagi dengan Mark Zuckerberg. Dia memiliki pandangan dan masalah tersendiri dengan sosok tersebut. Dia tidak suka ketika anak-anak muda mendatangi dirinya di bandara sambil membawa kartu nama bertuliskan 'I'm CEO, bitch' untuk dimintai tanda tangan," lanjut Sorkin.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa citra Zuckerberg masih melekat pada Eisenberg di ruang publik, bahkan bertahun-tahun setelah film pertamanya dirilis.

Penolakan Eisenberg membuka peluang bagi Jeremy Strong untuk memerankan Mark Zuckerberg.

Menariknya, Strong juga menghadiri Vanity Fair Oscar Party 2025 dan secara langsung menyampaikan ketertarikannya apabila peran tersebut tersedia.

Pilihan itu akhirnya jatuh kepada aktor yang dikenal luas lewat serial Succession.

Menurut Sorkin, Strong menunjukkan keseriusan luar biasa sejak awal proses produksi.

"Dia datang pada hari pertama syuting, dan ketika dia mengucapkan 'selamat pagi' kepada saya, cara bicaranya sudah persis seperti Mark," tutur Sorkin.

Pengakuan tersebut menggambarkan pendekatan khas Jeremy Strong yang dikenal mendalami karakter secara intens sebelum maupun selama proses syuting.

Selain membahas proses pemilihan pemeran, Sorkin juga mengungkap pendekatannya dalam menulis karakter Mark Zuckerberg.

Menurut peraih Oscar tersebut, seorang penulis naskah tidak boleh menghakimi tokoh yang sedang ditulis.

Sebaliknya, karakter harus dipahami dari sudut pandangnya sendiri agar tetap terasa manusiawi dan memiliki motivasi yang kuat.

"Saya tidak bisa menghakimi Mark Zuckerberg saat menulis naskahnya. Anda harus menulis karakter tersebut seolah-olah mereka sedang menyampaikan pembelaan kepada Tuhan mengapa mereka layak diperbolehkan masuk ke surga," pungkasnya.

Pernyataan itu menjadi gambaran bagaimana Sorkin membangun karakter dalam The Social Reckoning.

Meski mengangkat salah satu kontroversi terbesar dalam sejarah Facebook, ia tetap berupaya menghadirkan sosok Mark Zuckerberg sebagai karakter yang kompleks, bukan sekadar tokoh yang dihakimi dari peristiwa yang melingkupinya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Aaron Sorkin