RADAR BANYUWANGI - Segelas susu selama ini identik dengan kesehatan, kepolosan, dan masa kanak-kanak. Namun, di dunia perfilman dan televisi, minuman berwarna putih itu justru kerap dimanfaatkan sebagai simbol yang menghadirkan rasa tidak nyaman ketika dikonsumsi oleh karakter antagonis.
Fenomena tersebut bukanlah kebetulan. Dalam kajian sinema, penggunaan susu oleh tokoh jahat merupakan salah satu trope atau kiasan visual yang sengaja digunakan pembuat film untuk memperkuat kesan dominasi, ancaman, hingga ketidakstabilan psikologis.
Sejumlah karakter antagonis ikonik tercatat menggunakan simbol tersebut. Mulai Alex DeLarge dalam A Clockwork Orange (1971), Anton Chigurh di No Country for Old Men (2007), Hans Landa dalam Inglourious Basterds (2009), hingga Homelander dalam serial The Boys. Kehadiran susu dalam adegan mereka menjadi elemen visual yang berulang dan meninggalkan kesan mengganggu bagi penonton.
Fenomena itu dibahas dalam artikel yang diterbitkan The Conversation pada 19 November 2025. Tulisan karya Fiona Wilkes, kandidat PhD Studi Sastra di University of Western Australia, mengulas makna simbolis susu dalam film dengan mengutip pandangan sejumlah akademisi serta wawancara dengan aktor Christoph Waltz.
Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa susu memiliki hubungan kuat dengan makna kepolosan, kemurnian, perlindungan, serta kedekatan dengan sosok ibu. Ketika simbol tersebut justru dikonsumsi oleh tokoh yang dikenal kejam, muncul benturan makna yang memicu ketegangan psikologis.
Artikel itu juga mengutip pandangan pakar teori budaya Roland Barthes yang menilai simbol kemurnian dapat berubah menjadi representasi penghancuran atas kemurnian itu sendiri ketika berada di tangan karakter antagonis. Kontras tersebut membuat tindakan yang tampak biasa berubah menjadi adegan yang terasa mengancam.
Aktor Christoph Waltz, pemeran Hans Landa dalam Inglourious Basterds, juga pernah memberikan pandangannya mengenai adegan ikonik tersebut saat diwawancarai Mythical Kitchen.
Menurut Waltz, dirinya tidak memaknai adegan itu dengan teori yang rumit. Ia lebih melihatnya sebagai bagian dari proses membangun karakter. Justru jarak antara sosok Hans Landa yang menakutkan dengan aktivitas sederhana meminum segelas susu menjadi elemen yang memperkuat karakter tersebut di mata penonton.
Dari sudut pandang sinematografi, susu menghadirkan kontras visual yang sangat kuat. Warna putih yang identik dengan kebersihan dan kepolosan bertabrakan dengan tindakan kejam, ancaman, maupun kekerasan yang dilakukan karakter antagonis.
Perpaduan antara simbol yang menenangkan dengan perilaku yang mengintimidasi itulah yang membuat adegan tersebut terasa dingin sekaligus meresahkan. Penonton tidak hanya menyaksikan seorang tokoh sedang minum susu, tetapi juga merasakan permainan psikologis yang sengaja dibangun melalui simbol-simbol visual sederhana.
Karena itulah, setiap kali segelas susu muncul di tangan seorang villain, banyak penikmat film kini tidak lagi memandangnya sebagai minuman biasa. Dalam bahasa sinema, susu telah berkembang menjadi simbol yang mampu menyampaikan pesan tentang kekuasaan, kontrol, dan ancaman tanpa perlu banyak dialog.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : The Conversation