Jumpscare atau Atmospheric Horror, Mana yang Lebih Efektif Mengguncang Psikologi Penonton?

Loanda Ajeng Rossiani • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 13:54 WIB
Jumpscare dan atmospheric horror sama-sama dirancang memicu rasa takut, tetapi bekerja dengan cara berbeda. (IMDb)
Jumpscare dan atmospheric horror sama-sama dirancang memicu rasa takut, tetapi bekerja dengan cara berbeda. (IMDb)

RADAR BANYUWANGI - Film horor terus berkembang dengan menghadirkan beragam pendekatan untuk membangkitkan rasa takut. Di antara berbagai teknik yang digunakan, perdebatan mengenai efektivitas jumpscare dan atmospheric horror menjadi salah satu topik yang paling sering dibahas oleh penikmat film maupun pemerhati psikologi.

Kedua teknik tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni membuat penonton merasa takut. Namun, cara yang digunakan sangat berbeda karena masing-masing menyasar respons psikologis yang tidak sama.

Teknik jumpscare mengandalkan kejutan visual maupun suara yang muncul secara tiba-tiba. Momen ini dirancang untuk memicu respons biologis instan berupa refleks terkejut, lonjakan detak jantung, hingga teriakan spontan. Efeknya berlangsung cepat dan memberikan sensasi adrenalin yang kuat dalam waktu singkat.

Sebaliknya, atmospheric horror atau horor atmosferik memilih pendekatan yang lebih halus. Ketegangan dibangun perlahan melalui pencahayaan yang suram, desain suara yang mencekam, komposisi gambar, hingga tempo cerita yang sengaja dibuat lambat. Penonton diajak merasakan kecemasan dan paranoia bahkan ketika ancaman belum benar-benar diperlihatkan.

Publikasi psikologi dari The British Psychological Society menjelaskan bahwa jumpscare bekerja dengan mengaktifkan mekanisme pertahanan alami otak atau respons fight-or-flight dalam hitungan detik. Sementara itu, atmospheric horror lebih banyak memengaruhi fokus mental dengan menciptakan rasa terancam yang bertahan lebih lama, meski tanpa kehadiran adegan menyeramkan secara langsung.

Popularitas jumpscare terlihat dari kesuksesan berbagai waralaba horor seperti Insidious, The Conjuring, dan The Nun. Film-film tersebut dikenal mampu memancing jeritan penonton melalui rangkaian kejutan yang disusun secara presisi.

Di sisi lain, pendekatan horor atmosferik juga memiliki basis penggemar yang besar. Film seperti The Shining, The Witch, Hereditary, dan It Follows menunjukkan bahwa rasa takut tidak selalu harus dihadirkan melalui suara keras atau kemunculan mendadak. Justru suasana yang perlahan membangun tekanan psikologis mampu meninggalkan kesan mendalam setelah film berakhir.

Temuan dalam Journal of Media Psychology menunjukkan bahwa preferensi penonton terhadap kedua teknik tersebut dipengaruhi oleh pengalaman emosional yang dicari. Penonton yang menginginkan ledakan adrenalin cenderung menikmati jumpscare, sedangkan mereka yang menyukai tantangan psikologis lebih memilih atmospheric horror karena mampu memunculkan ketegangan yang bertahan lebih lama.

Editor : Lugas Rumpakaadi
jumpscare