Juara I Film Pendek Situbondoan, SATRIA Dibintangi Kiai Azaim Segera Tayang di KCM Roxy

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 20:00 WIB
Film SATRIA karya Andi Ahmad Miskil Khitam meraih Juara I Film Pendek Situbondoan 2026 dan segera tayang di KCM Roxy Situbondo.
Film SATRIA karya Andi Ahmad Miskil Khitam meraih Juara I Film Pendek Situbondoan 2026 dan segera tayang di KCM Roxy Situbondo.

RADAR BANYUWANGI – Mimpi menjadi prajurit tidak selalu harus dimulai dari barak militer.

Bagi Bharaka, tokoh utama dalam film pendek SATRIA (Santri Patriot Bangsa), jalan menuju cita-cita justru bermula dari pesantren.

Film karya penulis sekaligus sutradara Andi Ahmad Miskil Khitam tersebut berhasil merebut Juara I Lomba Film Pendek Situbondoan 2026 yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Situbondo.

Setelah meraih penghargaan tersebut, SATRIA dijadwalkan segera tayang di KCM Roxy Situbondo.

Film ini mengangkat kisah seorang pemuda yang berada di persimpangan antara cita-cita menjadi prajurit TNI dan kewajiban menuruti keinginan sang ibu untuk menempuh pendidikan di pesantren.

Pergulatan Bharaka menjadi pintu masuk cerita.

Di pesantren, ia tidak hanya belajar ilmu agama.

Ia belajar tentang ketaatan.

Tentang kesabaran.

Tentang perjuangan.

Dan tentang bagaimana sebuah cita-cita dapat diperjuangkan tanpa harus kehilangan jati diri.

Pesan itulah yang menjadi napas utama SATRIA.

"Tidak semua jalan menuju cita-cita harus ditempuh dengan melawan. Terkadang, jalan itu justru ditemukan lewat ketaatan."

Ketika Pesantren Menjadi Jalan Menuju Cita-Cita

Cerita SATRIA tidak lahir dari ruang imajinasi semata.

Film tersebut terinspirasi dari sejumlah kisah nyata santri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo yang memiliki cita-cita menjadi anggota TNI maupun Polri.

Kisah-kisah tersebut kemudian dirangkai menjadi sebuah cerita yang menggabungkan perjuangan, pendidikan pesantren, cita-cita, dan pengabdian kepada bangsa.

Andi Ahmad Miskil Khitam yang juga menjadi pelatih ekstrakurikuler SATRIA (Santri Patriot Bangsa) melihat ada cerita besar yang layak disampaikan kepada masyarakat.

Cerita tentang santri yang tidak berhenti pada gambaran konvensional.

Bukan hanya sarungan.

Bukan hanya mengaji.

Bukan hanya belajar ilmu agama.

Menurut Andi, dunia pesantren juga dapat melahirkan generasi yang memiliki kemampuan di berbagai bidang, termasuk mereka yang ingin mengabdi melalui institusi militer dan kepolisian.

"Saya ingin mengangkat bahwa sebenarnya santri itu tidak selalu dalam kacamata konvensional yang hanya sarungan, ngaji, belajar ilmu agama dan sebagainya. Santri itu komplet, kapabel dalam banyak hal, dan mampu menjadi jawaban atas berbagai kebutuhan masyarakat," ungkap Andi.

Santri Tetap Bisa Jadi Prajurit

Pesan utama yang dibawa SATRIA cukup jelas.

Menjadi prajurit TNI atau anggota Polri bukan berarti seorang santri harus meninggalkan nilai-nilai yang diperoleh selama menempuh pendidikan di pesantren.

Sebaliknya, nilai kedisiplinan, ketaatan, tanggung jawab, dan pengabdian yang ditanamkan di pesantren dapat menjadi bekal ketika seorang santri memilih jalan pengabdian di luar lingkungan pesantren.

Andi berharap film tersebut dapat menjadi pemantik semangat bagi para santri yang memiliki cita-cita berkarier di dunia militer.

"Melalui film ini saya berharap bisa menginspirasi para santri yang ingin berkiprah di dunia militer, bahwa mereka tetap bisa menjadi tentara atau polisi dengan tetap membawa nilai-nilai jiwa sebagai seorang santri," tuturnya.

Dengan demikian, SATRIA tidak hanya bercerita tentang perjalanan seorang pemuda mengejar cita-cita.

Film ini juga membawa pesan bahwa identitas sebagai santri bukanlah penghalang untuk berkiprah di berbagai bidang.

Juara Berkat Kerja Kolektif

Kemenangan SATRIA dalam Lomba Film Pendek Situbondoan 2026 menjadi pencapaian tersendiri bagi Andi dan seluruh tim produksi.

Andi menyebut penghargaan tersebut tidak lahir dari kerja satu orang.

Ada produser, kru, pemain, dan berbagai pihak yang terlibat dalam proses produksi.

"Saya mengucapkan terima kasih pertama-tama kepada Allah SWT atas anugerah dimenangkannya film ini sebagai Juara I Lomba Film Situbondoan. Semua ini bisa terwujud atas izin Allah," ujarnya.

Ia juga memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang ikut bekerja di balik layar.

"Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut terlibat dalam pembuatan film ini. Semua ini tidak akan terwujud tanpa kekompakan dari semua pihak," katanya.

Bagi sebuah film pendek yang mengangkat tema pesantren dan pengabdian kepada bangsa, kemenangan tersebut menjadi momentum penting.

Terlebih, film tersebut kini memiliki kesempatan untuk menjangkau penonton yang lebih luas.

Ada Pengasuh Pesantren di Layar

Salah satu hal yang membuat SATRIA memiliki warna tersendiri adalah keterlibatan KHR. Ach. Azaim Ibrahimy, S.Sy., M.H., Ph.D. sebagai salah satu pemeran.

Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo tersebut turut ambil bagian dalam film.

Kehadirannya menjadi elemen penting yang memperkuat atmosfer cerita.

Di satu sisi, SATRIA berbicara mengenai dunia pesantren.

Di sisi lain, film tersebut membawa pesan tentang semangat kebangsaan dan pengabdian.

Pertemuan dua nilai tersebut menjadi fondasi utama cerita.

Pesantren tidak digambarkan sebagai ruang yang membatasi mimpi.

Sebaliknya, pesantren menjadi tempat pembentukan karakter sebelum seseorang memilih jalan pengabdian yang lebih luas.

Film sebagai Media Pendidikan

Dukungan terhadap perkembangan perfilman di lingkungan pesantren juga disampaikan Zaehol Fatah, Kepala Bagian Kreator Pesantren sekaligus Ketua S3TV.

Menurutnya, film memiliki kekuatan untuk menyampaikan nilai pendidikan kepada masyarakat dengan cara yang lebih dekat dan mudah diterima.

"Saya mendukung perkembangan film di pesantren, karena sesungguhnya film merupakan edukasi yang sangat baik, dan dalam posisi lain digunakan sebagai soft war dalam bernegara," ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan.

Di tangan kreator yang tepat, film dapat menjadi sarana menyampaikan gagasan, membangun karakter, sekaligus memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan kepada masyarakat.

SATRIA mencoba mengambil ruang tersebut.

Melalui kisah Bharaka, penonton diajak melihat bahwa perjalanan menuju cita-cita tidak selalu berupa pertarungan melawan keadaan.

Ada kalanya, jalan terbaik justru ditemukan melalui proses menerima, belajar, dan menaati nilai-nilai yang diyakini.

Dari Lomba ke Layar KCM Roxy

Setelah meraih Juara I Lomba Film Pendek Situbondoan 2026, perjalanan SATRIA belum berhenti.

Film tersebut dijadwalkan segera tayang di KCM Roxy Situbondo.

Kehadiran SATRIA di layar bioskop menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk melihat lebih dekat kisah perjuangan santri yang memiliki mimpi menjadi prajurit.

Lebih dari sekadar film pendek pemenang lomba, SATRIA membawa pesan bahwa jalan pengabdian kepada bangsa memiliki banyak pintu.

Seorang santri dapat memilih berbagai jalan untuk berkontribusi.

Termasuk menjadi tentara.

Menjadi polisi.

Atau mengabdi melalui profesi lain.

Asalkan nilai-nilai yang telah ditanamkan selama berada di pesantren tetap menjadi bagian dari perjalanan.

Pada akhirnya, SATRIA ingin menyampaikan satu pesan sederhana namun kuat:

Menjadi santri tidak berarti harus memilih antara agama dan pengabdian kepada bangsa. Sebab, keduanya dapat berjalan beriringan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Film SATRIA Santri Patriot Film pesantren Film Situbondoan KCM Roxy