The Odyssey Jadi Perdebatan, Adaptasi Christopher Nolan Dinilai Kurang Menghormati Mitologi Yunani Kuno

Chenza Widelia Prima • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 15:33 WIB
Film The Odyssey garapan Christopher Nolan memicu kontroversi meski meraih sukses besar di box office. (Universal Pictures)
Film The Odyssey garapan Christopher Nolan memicu kontroversi meski meraih sukses besar di box office. (Universal Pictures)

RADARBANYUWANGI.ID - Nama besar Christopher Nolan selama ini identik dengan film-film berskala besar yang mendapat apresiasi luas dari kritikus maupun penonton. Namun, adaptasi terbaru sutradara tersebut melalui The Odyssey justru memunculkan perdebatan panjang di tengah pencapaian komersialnya yang impresif.

Film yang mengadaptasi puisi epik legendaris karya Homer itu menuai beragam kritik sejak awal penayangannya. Sorotan datang dari sejarawan, akademisi sastra klasik, komunitas budaya Yunani, hingga penonton di media sosial. Berbagai pihak mempertanyakan sejumlah keputusan kreatif yang dinilai menjauh dari semangat karya aslinya.

Berikut lima poin utama yang menjadi sumber kontroversi.

1. Minim Representasi Aktor Yunani

Kritik paling banyak diarahkan pada proses pemilihan pemain. Sebagai adaptasi kisah yang menjadi bagian penting dari warisan budaya Yunani Kuno, film ini dinilai tidak menghadirkan aktor berdarah atau berketurunan Yunani dalam jajaran pemeran utama.

Meski terdapat aktor lokal dan figuran untuk sejumlah peran kecil, porsinya dianggap terlalu terbatas. Sejumlah kalangan menilai cerita yang berakar kuat pada budaya Yunani seharusnya memberi ruang lebih besar bagi representasi masyarakat asal kisah tersebut.

2. Race-Neutral Casting Memicu Perdebatan

Keputusan Christopher Nolan menerapkan konsep race-neutral casting atau pemilihan pemeran tanpa mempertimbangkan latar ras juga memicu polemik.

Penunjukan Lupita Nyong'o sebagai Helen of Troy menjadi salah satu keputusan yang ramai diperdebatkan di media sosial. Sebagian pihak menilai langkah tersebut merupakan bentuk kebebasan artistik, sementara kelompok lain mempertanyakan aspek autentisitas terhadap deskripsi karakter dalam naskah klasik.

Selain itu, sejumlah kritikus sastra menilai banyak karakter pendukung yang sebenarnya memiliki peran penting justru tidak memperoleh pendalaman cerita yang memadai. Kehadiran para bintang Hollywood dinilai lebih berfungsi sebagai pelengkap perjalanan tokoh utama dibanding mengembangkan karakter mereka.

3. Estetika Modern Dinilai Mengorbankan Akurasi Mitologi

Gaya penyutradaraan Nolan yang dikenal realistis kembali terlihat dalam The Odyssey. Namun, pendekatan tersebut justru dianggap bertabrakan dengan ekspektasi sebagian penggemar sastra klasik.

Desain kostum yang dinilai terlalu modern, bentuk kapal yang dianggap tidak sesuai dengan konteks Mediterania kuno, hingga sejumlah interpretasi visual lainnya memunculkan kritik mengenai akurasi sejarah.

Perdebatan pun terbagi menjadi dua kubu. Penonton umum banyak memuji kualitas sinematografi dan skala produksi film, sedangkan akademisi serta pecinta mitologi menilai pendekatan tersebut mengaburkan identitas sejarah dan budaya yang melekat pada kisah asli.

4. Banyak Adegan Ikonik Dipangkas

Penggemar karya Homer juga menyoroti hilangnya sejumlah adegan penting yang selama ini menjadi fondasi perjalanan Odysseus.

Salah satu yang paling disesalkan ialah perubahan pada adegan ketika Odysseus memperdaya Cyclops Polyphemus menggunakan nama samaran "Nobody" atau Outis. Dalam film, bagian tersebut dinilai kehilangan unsur kecerdikan yang menjadi ciri utama sang tokoh.

Kisah Lotus Eaters juga mengalami perubahan signifikan. Dalam versi asli, Odysseus melarang anak buahnya memakan buah lotus karena dapat menghilangkan keinginan untuk pulang. Namun, adaptasi film justru menampilkan perubahan alur yang dianggap bertentangan dengan karakter sang raja Ithaca.

Selain itu, perjalanan Odysseus ke negeri Phaeacians dan pertemuannya dengan Putri Nausicaa dihilangkan. Adegan tersebut diganti dengan penyampaian cerita secara retrospektif sehingga dinilai mengurangi kedalaman narasi.

Kritik serupa juga muncul pada bagian perjalanan ke dunia bawah. Dalam puisi Homer, momen itu menjadi salah satu bagian paling emosional karena mempertemukan Odysseus dengan sejumlah tokoh penting, termasuk ibunya, Anticleia, serta Achilles. Kehilangan tokoh-tokoh tersebut dinilai mengurangi bobot emosional cerita.

5. Hilangnya Peran Dewa-Dewi Olympus

Poin yang paling banyak disorot oleh penggemar mitologi adalah absennya campur tangan para dewa.

Dalam karya Homer, perjalanan Odysseus tidak hanya dipenuhi tantangan fisik, tetapi juga dipengaruhi pertarungan kepentingan para dewa Olympus, seperti Poseidon, Athena, hingga Zeus. Unsur tersebut menjadi bagian penting yang membangun tema takdir, pengorbanan, dan kehendak ilahi.

Namun, dalam interpretasi Nolan, elemen supranatural hampir sepenuhnya dihilangkan. Pendekatan realistis yang diusung membuat perjalanan Odysseus lebih menyerupai drama petualangan manusia biasa daripada kisah mitologi yang sarat campur tangan kekuatan ilahi.

Terlepas dari berbagai kritik tersebut, The Odyssey tetap menjadi salah satu film yang paling banyak diperbincangkan. Bagi para pengkritiknya, film ini dianggap terlalu jauh meninggalkan akar budaya dan pesan asli karya Homer.

Sebaliknya, para pendukung menilai interpretasi Christopher Nolan merupakan bentuk adaptasi modern yang berupaya menghadirkan kisah klasik kepada generasi baru melalui pendekatan sinematik yang lebih realistis dan mudah diterima penonton masa kini.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Christopher Nolan The Odyssey