RADARBANYUWANGI.ID - Sutradara kenamaan Christopher Nolan mengungkapkan pandangannya mengenai kondisi kritik film modern yang menurutnya menyimpan persoalan mendasar. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah pembahasan mengenai film adaptasi terbarunya, The Odyssey.
Dalam wawancara promosi bersama dosen filsafat politik sekaligus pembawa siniar Zhong Shu, Nolan menilai sebagian kritikus maupun penonton kerap melakukan kesalahan saat menilai sebuah karya. Menurutnya, banyak orang menganggap sebuah mekanisme penceritaan tidak lagi efektif hanya karena mampu mengenali pola atau teknik yang digunakan.
Nolan menyebut anggapan tersebut sebagai salah satu kelemahan utama dalam cara kritik film berkembang saat ini. Ia mencontohkan kritik yang sering muncul terhadap karakter dalam film, yakni ketika karakter dianggap sengaja dimanipulasi agar tampak lebih simpatik sehingga dinilai tidak alami.
Menurut Nolan, mengenali cara kerja sebuah cerita tidak serta-merta membuat mekanisme tersebut kehilangan fungsi. Ia menilai pemahaman terhadap proses penceritaan justru berbeda dengan efektivitas sebuah cerita dalam membangun pengalaman emosional penonton.
"Karena seseorang mampu mengenali mekanismenya, bukan berarti mekanisme itu menjadi tidak valid," ujar Nolan dalam wawancara tersebut.
Ia menambahkan bahwa muncul anggapan keliru di kalangan penonton yang merasa sebuah cerita gagal hanya karena mereka memahami alasan mengapa cerita itu mampu memengaruhi emosi mereka. Padahal, menurutnya, penceritaan tidak bekerja dengan cara demikian.
Nolan menjelaskan bahwa para sineas memanfaatkan bahasa penceritaan universal yang telah berkembang dalam industri Hollywood selama bertahun-tahun. Berbagai konvensi, pola, hingga trope merupakan bagian dari tradisi sinema yang menjadi fondasi dalam menyampaikan cerita kepada penonton.
Karena itu, ia menilai kemampuan penonton mengenali pola cerita seharusnya tidak dijadikan dasar untuk menganggap sebuah film kehilangan kekuatan emosionalnya. Justru, pemahaman terhadap konvensi tersebut dapat membantu penonton mengapresiasi bagaimana sebuah karya dibangun.
Editor : Lugas Rumpakaadi