Di Balik Keindahan Spider-Man: Across the Spider-Verse, Tersimpan Dugaan Budaya Kerja Ekstrem

Loanda Ajeng Rossiani • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 11:03 WIB
Di balik kesuksesan Spider-Man: Across the Spider-Verse. (Sony Pictures)
Di balik kesuksesan Spider-Man: Across the Spider-Verse. (Sony Pictures)

RADARBANYUWANGI.ID - Kesuksesan Spider-Man: Across the Spider-Verse di layar lebar pada pertengahan 2023 menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam dunia animasi modern. Film tersebut menuai pujian berkat perpaduan berbagai gaya visual, mulai dari komik klasik, sapuan cat air, hingga estetika punk-rock yang menghadirkan pengalaman sinematik berbeda dibandingkan film animasi lainnya.

Keberhasilan itu tidak hanya diakui oleh kritikus film, tetapi juga tercermin dari capaian pendapatan box office yang tinggi. Banyak pihak menilai film tersebut berhasil menetapkan standar baru dalam industri animasi global.

Namun, di balik pencapaian artistik tersebut, muncul laporan investigatif yang mengungkap kondisi kerja berat selama proses produksinya. Laporan dari wartawan Bill Bria di SlashFilm serta liputan eksklusif Chris Lee di Vulture memaparkan dugaan budaya kerja ekstrem yang dialami para animator di studio animasi Sony Pictures.

Berdasarkan kesaksian empat animator yang identitasnya dirahasiakan, proses produksi disebut berlangsung dengan ritme kerja yang sangat berat. Para pekerja dikabarkan harus menjalani jam kerja hingga 11 jam setiap hari selama tujuh hari dalam sepekan selama berbulan-bulan untuk mengejar tenggat waktu produksi yang terus berubah.

Laporan tersebut menyebut persoalan utama bukan berasal dari kurangnya kemampuan tim animator, melainkan adanya perubahan kreatif yang dilakukan menjelang tenggat penyelesaian proyek. Perubahan itu dikaitkan dengan proses pengambilan keputusan dari duo produser sekaligus penulis film, Phil Lord dan Christopher Miller.

Dalam laporan Vulture disebutkan, Phil Lord beberapa kali melakukan perubahan terhadap konsep visual maupun urutan adegan yang sebelumnya telah selesai dikerjakan. Kondisi tersebut berdampak besar terhadap alur produksi karena setiap adegan animasi memerlukan proses pengerjaan dan rendering yang memakan waktu panjang.

Akibat perubahan yang dilakukan pada tahap akhir, sejumlah adegan harus dikerjakan kembali dari awal. Situasi itu disebut membuat ribuan jam kerja animator terbuang dan menambah tekanan terhadap seluruh tim produksi.

Tekanan berkepanjangan itu juga disebut berdampak pada kondisi psikologis para pekerja. Sejumlah animator mengaku mengalami kelelahan fisik dan mental atau burnout akibat beban kerja yang terus meningkat selama proses produksi berlangsung.

Laporan Vulture juga menyebutkan lebih dari 100 animator memilih mengundurkan diri di tengah pengerjaan film. Keputusan tersebut diambil karena sebagian pekerja menilai tekanan kerja yang dihadapi sudah tidak lagi seimbang dengan kondisi kesehatan dan kesejahteraan mereka.

Meski demikian, banyak animator tetap bertahan hingga proyek selesai karena merasa bangga dapat terlibat dalam salah satu film animasi paling berpengaruh dalam beberapa tahun terakhir. Perasaan tersebut, menurut kesaksian para pekerja, kerap berbenturan dengan kelelahan yang mereka alami selama masa produksi.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Spider-Man Across the Spider-Verse Sony Pictures Animation Phil Lord Christopher Miller