RADARBANYUWANGI.ID - Sutradara David Robert Mitchell kembali membawa konsep horor yang tidak biasa melalui film terbarunya, The End of Oak Street, yang dijadwalkan tayang di bioskop pada Agustus 2026. Setelah meraih perhatian luas lewat film horor psikologis It Follows, Mitchell kini menggabungkan elemen horor, fiksi ilmiah, dan monster prasejarah dalam sebuah premis yang berbeda dari film dinosaurus pada umumnya.
Film ini mengisahkan sebuah keluarga yang mendadak terjebak dalam fenomena kosmik misterius. Tanpa tanda-tanda sebelumnya, seluruh kawasan tempat tinggal mereka di Oak Street berpindah ke sebuah lanskap prasejarah yang terisolasi dari dunia modern.
Situasi tersebut mengubah lingkungan perumahan yang semula tenang menjadi wilayah berbahaya yang dihuni predator purba. Ancaman tidak lagi datang dari hutan liar atau pulau terpencil, melainkan muncul di halaman rumah, garasi, hingga lorong-lorong permukiman yang selama ini menjadi simbol kehidupan sehari-hari.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu daya tarik utama The End of Oak Street. Film ini menempatkan dinosaurus sebagai ancaman yang hadir di ruang domestik, menciptakan kontras kuat antara lingkungan modern dengan dunia prasejarah. Perpaduan dua latar yang sangat berbeda itu diharapkan mampu menghadirkan ketegangan sekaligus pengalaman visual yang segar bagi penonton.
Nuansa horor tidak hanya dibangun melalui kehadiran makhluk purba, tetapi juga dari perjuangan sebuah keluarga yang harus bertahan hidup dalam kondisi yang sama sekali di luar nalar. Konflik tersebut menjadi fondasi emosional yang memperkuat cerita di balik aksi kejar-kejaran dan ancaman monster raksasa.
Film ini juga diperkuat oleh deretan pemeran ternama. Anne Hathaway dan Ewan McGregor dipercaya memimpin jajaran pemain, menghadirkan dinamika keluarga yang realistis di tengah situasi penuh bahaya. Kehadiran keduanya diharapkan mampu memberikan kedalaman karakter sekaligus memperkuat sisi dramatis film.
Dari sisi produksi, The End of Oak Street berada di bawah naungan Warner Bros. Pictures bersama Bad Robot, rumah produksi milik J.J. Abrams. Kolaborasi tersebut memperlihatkan ambisi besar untuk menghadirkan film dengan skala sinematik yang lebih luas dibandingkan karya-karya David Robert Mitchell sebelumnya.
Editor : Lugas Rumpakaadi