RADARBANYUWANGI.ID - Di tengah derasnya arus film dan serial baru yang hadir setiap pekan di berbagai platform streaming, tidak sedikit penonton justru memilih kembali menikmati film-film favorit dari era 2000-an. Meski sudah mengetahui alur cerita hingga akhir, kebiasaan menonton ulang tersebut tetap memberikan rasa nyaman yang sulit tergantikan.
Fenomena ini ternyata bukan sekadar karena rasa bosan terhadap tontonan baru. Sejumlah kajian psikologi menjelaskan bahwa kebiasaan memutar ulang film favorit berkaitan erat dengan cara otak mengelola emosi dan menghadapi tekanan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam ulasan yang dimuat Psychology Today, kebiasaan tersebut berkaitan dengan konsep emotional regulation atau regulasi emosi. Film yang sudah dikenal memberikan rasa aman karena penonton tidak lagi dihadapkan pada ketidakpastian alur cerita maupun akhir kisah.
Kondisi ini dikenal sebagai the efficiency of familiarity, yakni ketika otak tidak perlu mengeluarkan energi lebih untuk memproses informasi baru. Penonton telah mengetahui kapan adegan lucu, mengharukan, maupun menegangkan akan muncul sehingga pengalaman menonton terasa lebih menenangkan. Bagi sebagian orang, film favorit bahkan menjadi semacam "selimut hangat" yang membantu meredakan stres setelah menjalani aktivitas padat.
Selain memberikan rasa nyaman, unsur nostalgia juga menjadi faktor yang sangat berpengaruh. Berdasarkan riset yang dipublikasikan The New York Times, era 2000-an kerap dipandang sebagai masa transisi digital yang lebih sederhana dibandingkan kondisi saat ini.
Estetika khas pada film-film periode tersebut, mulai dari tone warna yang hangat, gaya berpakaian yang ikonik, hingga lagu latar yang mudah dikenali, mampu membangkitkan kenangan masa kecil atau masa remaja. Kenangan itu kemudian menghadirkan perasaan positif sekaligus mengingatkan pada masa ketika beban hidup dinilai belum seberat saat ini.
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah munculnya decision fatigue atau kelelahan dalam mengambil keputusan. Di era layanan streaming, ribuan pilihan film dan serial tersedia dalam satu waktu. Kondisi ini justru dapat memicu choice overload, yakni rasa kewalahan akibat terlalu banyak pilihan.
Seperti diulas BBC dalam artikel budaya pop, banyaknya opsi membuat sebagian orang kesulitan menentukan tontonan. Akibatnya, memilih kembali film favorit menjadi solusi paling praktis karena risikonya lebih kecil dibanding mencoba judul baru yang belum tentu sesuai harapan.
Editor : Lugas Rumpakaadi