RADARBANYUWANGI.ID - Aktor Hollywood Andrew Garfield akhirnya mengungkap alasan di balik konsistensinya membintangi film-film yang sarat emosi dan kisah menyayat hati. Menurutnya, memilih karakter yang bergulat dengan kehilangan, penderitaan, hingga patah hati bukan sekadar mengikuti kebutuhan cerita, melainkan bagian dari upaya menghadirkan penyembuhan melalui seni.
Pandangan tersebut disampaikan Garfield dalam wawancara bertajuk My Life In Movies yang diunggah kanal YouTube Hits Radio pada 25 Maret 2026. Dalam perbincangan itu, aktor yang dikenal lewat film We Live in Time, Hacksaw Ridge, dan Never Let Me Go menjelaskan filosofi yang mendasari pilihan proyek sepanjang kariernya.
Garfield menepis anggapan bahwa film-film emosional yang ia bintangi hanya bertujuan membuat penonton larut dalam kesedihan. Sebaliknya, ia berharap karya-karya tersebut mampu menjadi ruang untuk memulihkan luka batin.
"Saya rasa, harapan saya adalah film-film itu menjadi penyembuh hati," ujar Garfield.
Ia menilai profesi pencerita memiliki peran yang jauh melampaui fungsi hiburan. Menurutnya, ketika sebuah karya diciptakan dengan ketulusan dan berhasil menyentuh pengalaman manusia, seniman dapat berperan sebagai pembentuk mitos sekaligus sosok yang membantu masyarakat menemukan proses penyembuhan.
Garfield menggambarkan peran tersebut layaknya seorang dukun atau shaman dalam sebuah komunitas yang membantu menghadirkan makna, pengakuan, dan harapan melalui cerita.
Dalam wawancara itu, Garfield juga menyoroti kondisi masyarakat modern yang dinilainya sedang menghadapi luka budaya. Arus informasi dan konten visual yang terus mengalir melalui telepon pintar, menurutnya, sering kali memperkuat kebiasaan dan naluri terburuk manusia karena dikomodifikasi secara terus-menerus.
Di tengah situasi tersebut, ia menilai seniman memiliki tanggung jawab moral untuk menggali pengalaman paling personal agar dapat menghadirkan karya yang relevan bagi banyak orang.
"Kita berada di budaya yang sangat terluka saat ini. Jadi, kita sebagai seniman, baik aktor, musisi, penulis, sutradara, maupun jurnalis, harus menggali ke dalam luka kita sendiri, karena apa yang akan kita temukan di bawah sana adalah luka kolektif kita bersama," kata Garfield.
Ia menjelaskan, proses itu kemudian dilanjutkan dengan membawa luka tersebut ke ruang publik agar dapat dikenali bersama. Dari sana, masyarakat memiliki kesempatan mengalami katarsis, memperoleh pengakuan atas pengalaman emosionalnya, dan perlahan melepaskan beban yang selama ini dipendam.
Menurut Garfield, penyembuhan tidak mungkin terjadi tanpa keberanian untuk terlebih dahulu mengakui keberadaan luka tersebut.
Filosofi itu, kata Garfield, menjadi benang merah yang menghubungkan hampir seluruh film yang dipilihnya selama berkarier di industri perfilman. Melalui setiap karakter yang diperankannya, ia berharap dapat menghadirkan pengalaman emosional yang bukan hanya menyentuh, tetapi juga memberi ruang refleksi bagi penonton.
Editor : Lugas Rumpakaadi