Dominasi Film Superhero Meredup, Bioskop Lokal Beralih ke Horor demi Menjaga Penonton

Loanda Ajeng Rossiani • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 14:02 WIB
Dominasi film superhero yang selama bertahun-tahun menopang industri bioskop mulai memudar. (Marvel)
Dominasi film superhero yang selama bertahun-tahun menopang industri bioskop mulai memudar. (Marvel)

RADARBANYUWANGI.ID - Industri bioskop global tengah menghadapi perubahan besar setelah dominasi film superhero, khususnya dari Marvel Cinematic Universe (MCU), mulai kehilangan daya tarik di mata penonton. Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi studio film besar, tetapi juga berdampak langsung terhadap operasional bioskop yang selama bertahun-tahun bergantung pada kesuksesan film-film blockbuster.

Selama lebih dari satu dekade, film superhero menjadi magnet utama yang mampu menarik jutaan penonton ke bioskop. Setiap peluncuran film baru dari MCU hampir selalu diikuti lonjakan penjualan tiket dan tingginya transaksi makanan serta minuman di area bioskop. Situasi itu menjadikan film superhero sebagai tulang punggung pendapatan bagi banyak jaringan bioskop.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir tren tersebut mulai berubah. Penurunan kualitas cerita yang dinilai semakin berulang, kejenuhan terhadap formula film superhero, hingga melemahnya performa box office sejumlah judul terbaru membuat antusiasme penonton perlahan menurun. Akibatnya, bioskop kehilangan salah satu sumber utama yang selama ini menopang tingkat kunjungan.

Analisis industri yang dipublikasikan The Hollywood Reporter menyebut ketergantungan berlebihan terhadap satu genre justru menjadi risiko besar ketika preferensi pasar berubah. Selama bertahun-tahun, pendapatan dari film-film Marvel membantu bioskop menutup biaya operasional yang tidak sedikit. Kini, berkurangnya jumlah penonton membuat sejumlah studio bioskop lebih sering sepi, terutama pada hari kerja.

Perubahan tersebut memaksa pengelola bioskop mencari strategi baru agar tingkat okupansi ruang pemutaran tetap terjaga. Salah satu langkah yang kini semakin banyak ditempuh adalah memperluas porsi penayangan film dari genre lain, terutama film horor produksi Indonesia yang menunjukkan tren positif di pasar domestik.

Ulasan tren industri sinema dari Variety mencatat film horor dengan latar budaya lokal kini mampu menjadi penarik utama penonton. Cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat dinilai lebih mudah membangun keterikatan emosional dibanding alur film superhero yang semakin kompleks dengan konsep multiverse dan keterhubungan antarkarakter.

Selain memperbanyak jadwal film lokal, sejumlah bioskop juga mulai memanfaatkan fasilitas mereka untuk berbagai kegiatan nonfilm. Studio bioskop digunakan sebagai lokasi nonton bareng pertandingan olahraga, konser musik yang disiarkan langsung, hingga berbagai acara komunitas. Strategi tersebut menjadi upaya memperluas segmen pengunjung sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas yang tersedia.

Fenomena ini menunjukkan bahwa keberhasilan bisnis bioskop tidak lagi dapat bergantung pada satu waralaba atau satu jenis tontonan. Diversifikasi konten menjadi kebutuhan agar industri mampu bertahan menghadapi perubahan selera pasar yang berlangsung sangat cepat.

Pandangan tersebut sejalan dengan ulasan ekonomi kreatif yang pernah dipublikasikan Bloomberg, yang menilai keberagaman konten menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan industri hiburan. Ketergantungan terhadap satu nama besar terbukti menyimpan risiko ketika tren mulai bergeser.

Di sisi lain, meredupnya dominasi film superhero juga membuka peluang lebih luas bagi sineas Indonesia. Berbagai genre, mulai horor, drama, komedi hingga film keluarga, memiliki kesempatan yang lebih besar untuk memperoleh ruang tayang dan menjangkau penonton yang lebih beragam.

Editor : Lugas Rumpakaadi
mcu