Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Di Balik Aksi Katniss Everdeen, The Hunger Games Menyimpan Kritik tentang Media, Propaganda, dan Jurang Kaya-Miskin

Loanda Ajeng Rossiani • Jumat, 17 Juli 2026 | 13:30 WIB
The Hunger Games bukan hanya kisah distopia Katniss Everdeen. (Lionsgate)
The Hunger Games bukan hanya kisah distopia Katniss Everdeen. (Lionsgate)

RADARBANYUWANGI.ID - Bagi banyak penggemar, The Hunger Games identik dengan sosok Katniss Everdeen, busur panahnya yang ikonik, serta perdebatan klasik "Team Peeta atau Team Gale". Namun, di balik kisah distopia yang memikat, novel karya Suzanne Collins tersebut sesungguhnya merupakan kritik sosial yang tajam terhadap media, politik, hingga ketimpangan sosial.

Inspirasi cerita ini bahkan tidak lahir dari imajinasi semata. Dalam wawancara resminya bersama Scholastic bertajuk A Conversation with Suzanne Collins, penulis mengungkapkan bahwa ide The Hunger Games muncul ketika ia berganti-ganti saluran televisi. Saat itu, tayangan kompetisi reality show bercampur dengan liputan invasi militer di Irak. Perpaduan dua gambar yang sangat kontras tersebut memunculkan gagasan tentang sebuah dunia yang menjadikan penderitaan manusia sebagai tontonan.

Dari sanalah lahir Panem, negara fiksi yang kini justru terasa semakin dekat dengan realitas kehidupan modern.

Nama Panem bukan dipilih tanpa makna. Istilah tersebut berasal dari frasa Latin Panem et Circenses atau "Roti dan Sirkus", konsep yang dikenal sejak era Kekaisaran Romawi.

Dalam sejarah, penguasa Romawi menjaga stabilitas politik dengan menyediakan pangan bagi rakyat sekaligus menyuguhkan hiburan berupa pertarungan gladiator. Tujuannya sederhana, yakni membuat masyarakat tetap terhibur sehingga melupakan persoalan politik dan penyalahgunaan kekuasaan.

Suzanne Collins mengadaptasi konsep tersebut ke dalam dunia Panem. Capitol menguasai distribusi pangan sehingga distrik-distrik tetap bergantung kepada pemerintah pusat. Pada saat yang sama, Hunger Games dijadikan tontonan nasional yang wajib disaksikan seluruh warga.

Penderitaan anak-anak dari distrik miskin dipoles menjadi hiburan mewah bagi masyarakat Capitol. Kekerasan tidak lagi dipandang sebagai tragedi, melainkan sebagai pertunjukan yang dinanti setiap tahun.

Fenomena itu dinilai memiliki kemiripan dengan kondisi saat ini. Di era digital, berbagai platform media sosial maupun acara reality show kerap mengemas konflik, tragedi, hingga kemiskinan sebagai konten yang menarik perhatian publik demi mengejar jumlah penonton dan interaksi.

Kritik Collins semakin terasa dalam novel ketiga, Mockingjay. Perang tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh kemampuan mengendalikan opini publik.

Baik Capitol di bawah Presiden Snow maupun kelompok pemberontak sama-sama memanfaatkan tim produksi profesional untuk membuat video propaganda atau propos. Media digunakan sebagai alat membangun citra sekaligus memengaruhi emosi masyarakat.

Kajian dalam Journal of Youth Studies melalui artikel The Politics of The Hunger Games: Influence of Media and Propaganda menjelaskan bahwa Collins menggambarkan media sebagai senjata yang memiliki daya rusak setara dengan persenjataan.

Katniss tidak hanya dikirim ke medan perang untuk bertempur. Ia juga didampingi penata rias, kameramen, dan tim produksi agar setiap ekspresi emosionalnya dapat direkam secara dramatis demi memperoleh simpati publik.

Gambaran tersebut menunjukkan bagaimana informasi dapat dikemas sedemikian rupa untuk membentuk persepsi masyarakat.

Kontras antara Capitol dan distrik-distrik miskin menjadi salah satu kritik sosial paling kuat dalam novel ini.

Di Capitol, pesta berlimpah makanan menjadi simbol kemewahan yang berlebihan. Sebagian tamu bahkan sengaja meminum cairan agar dapat memuntahkan makanan dan kembali menikmati hidangan berikutnya.

Sebaliknya, warga Distrik 11 dan Distrik 12 hidup dalam kemiskinan. Banyak keluarga terpaksa mengambil jatah tesserae, tambahan gandum yang hanya bisa diperoleh dengan memasukkan nama anak mereka lebih banyak dalam undian Hunger Games, sehingga peluang terpilih sebagai peserta meningkat.

Lewat kontras tersebut, Collins memperlihatkan bagaimana jurang ekonomi yang terlalu lebar dapat mengikis empati. Mereka yang hidup dalam kemewahan perlahan kehilangan kesadaran bahwa kenyamanan yang dinikmati dibangun di atas penderitaan kelompok lain.

Lebih dari satu dekade setelah diterbitkan, The Hunger Games tetap menjadi karya yang relevan karena isu-isu yang diangkat masih hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui perpaduan sejarah Romawi, kritik terhadap media, propaganda politik, dan ketimpangan sosial, Suzanne Collins menghadirkan kisah yang tidak sekadar menawarkan aksi dan romansa, tetapi juga mengajak pembaca mempertanyakan hubungan antara kekuasaan, hiburan, dan kemanusiaan.

Saat menyaksikan perjuangan Katniss Everdeen di arena Hunger Games, pembaca sebenarnya tidak hanya melihat sebuah dunia distopia. Mereka juga sedang menyaksikan refleksi yang diperbesar dari berbagai persoalan yang masih dihadapi masyarakat modern hingga saat ini.

Editor : Lugas Rumpakaadi
The Hunger Games Suzanne Collins