RADARBANYUWANGI.ID - Banyak masyarakat beranggapan bahwa keuntungan studio film hanya berasal dari penjualan tiket bioskop. Padahal, pendapatan dari layar lebar hanyalah salah satu bagian dari model bisnis industri perfilman. Setelah masa penayangan berakhir, sebuah film masih dapat menghasilkan pemasukan melalui berbagai saluran distribusi dan pemanfaatan hak kekayaan intelektual.
Motion Picture Association (MPA) dalam THEME Report menjelaskan bahwa perkembangan distribusi digital telah mengubah pola bisnis industri film. Studio kini memiliki beragam sumber pendapatan yang terus berjalan bahkan ketika film sudah tidak lagi diputar di bioskop.
Salah satu sumber pemasukan terbesar berasal dari lisensi hak tayang kepada layanan streaming seperti Netflix, Disney+, Max, maupun Prime Video. Setelah periode eksklusif di bioskop selesai, studio dapat menjual hak distribusi digital kepada platform tersebut sehingga memperoleh pendapatan tambahan.
Selain layanan streaming, studio juga mendapatkan keuntungan dari penjualan hak siar televisi. Film yang memiliki popularitas tinggi sering dibeli oleh stasiun televisi di berbagai negara untuk ditayangkan kembali. Menurut Investopedia dalam artikel How Movie Studios Make Money, hak siar televisi mampu memberikan pemasukan selama bertahun-tahun karena film dapat diputar berulang kali.
Penjualan media fisik seperti DVD dan Blu-ray juga masih menjadi sumber pendapatan meskipun tren streaming terus meningkat. Produk fisik tetap diminati kolektor maupun penggemar yang menginginkan versi dengan kualitas tinggi serta konten bonus yang tidak tersedia di platform digital.
Sumber pendapatan berikutnya berasal dari merchandise resmi. Film yang sukses di pasaran biasanya melahirkan berbagai produk seperti kaus, poster, mainan, action figure, hingga perlengkapan sekolah. The Walt Disney Company melalui divisi Consumer Products menjadikan lisensi merchandise sebagai salah satu pilar penting dalam bisnis hiburannya.
Studio film juga memperoleh royalti melalui lisensi karakter dan merek. Dengan sistem ini, perusahaan lain dapat menggunakan karakter, logo, atau elemen film pada produk mereka melalui perjanjian lisensi. World Intellectual Property Organization (WIPO) menjelaskan bahwa lisensi hak kekayaan intelektual memungkinkan pemegang hak cipta memperoleh pendapatan dari penggunaan aset intelektual tersebut.
Kesuksesan sebuah film juga dapat diperluas melalui adaptasi ke berbagai media. Cerita yang populer sering dikembangkan menjadi serial televisi, video game, novel, komik, hingga pertunjukan teater. Menurut MPA, pemanfaatan hak kekayaan intelektual lintas media menjadi salah satu strategi utama untuk memperpanjang nilai ekonomi sebuah karya.
Di sisi lain, kerja sama product placement dan sponsor turut menjadi sumber pemasukan tambahan. Perusahaan dapat membayar agar produk mereka muncul dalam adegan film, mulai dari kendaraan, minuman, hingga perangkat elektronik yang digunakan para tokoh. Selain memberikan pendapatan, skema ini juga membantu mengurangi sebagian biaya produksi.
Editor : Lugas Rumpakaadi