RADARBANYUWANGI.ID - Industri perfilman Indonesia sedang menikmati masa keemasan. Film-film baru silih berganti mencetak jutaan penonton dan membuktikan tingginya minat masyarakat terhadap karya sineas nasional. Namun, di balik capaian tersebut, tersimpan persoalan besar yang jarang menjadi perhatian publik.
Ribuan arsip film analog yang merekam perjalanan sejarah perfilman Indonesia kini sedang berpacu melawan waktu. Pita-pita seluloid yang menyimpan jejak budaya bangsa menghadapi ancaman kerusakan akibat usia, perubahan suhu, kelembapan, hingga keterbatasan dana untuk perawatan. Jika tidak segera diselamatkan, sebagian warisan sinema Indonesia berisiko hilang untuk selamanya.
Pusat penyimpanan arsip film nasional berada di Sinematek Indonesia, lembaga nonkomersial yang selama puluhan tahun mengoleksi puluhan ribu arsip film, dokumenter, hingga berbagai materi audiovisual sejak era 1930-an. Koleksi tersebut bukan sekadar dokumentasi industri hiburan, melainkan rekaman perjalanan sosial, budaya, dan sejarah Indonesia yang memiliki nilai penting bagi generasi mendatang.
Sayangnya, besarnya koleksi yang dimiliki tidak diimbangi dengan dukungan sumber daya yang memadai.
Berdasarkan laporan mendalam Tempo.co, ribuan arsip film analog dengan nilai sejarah tinggi harus dirawat oleh jumlah tenaga yang sangat terbatas. Di sisi lain, dukungan anggaran operasional yang tersedia juga masih jauh dari ideal untuk menjalankan proses preservasi secara maksimal.
Kondisi tersebut menciptakan ironi. Ketika industri film nasional berkembang pesat melalui pencapaian box office, penyelamatan film-film yang menjadi fondasi sejarah perfilman justru masih menghadapi berbagai keterbatasan.
Berbeda dengan file digital yang dapat disalin berkali-kali, film analog memiliki usia simpan yang bergantung pada kondisi fisiknya. Pita seluloid sangat sensitif terhadap suhu dan kelembapan sehingga memerlukan ruang penyimpanan dengan pengendalian lingkungan secara ketat.
Apabila tidak dirawat secara konsisten, pita film dapat mengalami vinegar syndrome, yakni proses kerusakan kimia yang menyebabkan material mengeluarkan bau asam menyerupai cuka. Kerusakan tersebut membuat pita menyusut, rapuh, hingga akhirnya tidak lagi dapat diputar maupun dipulihkan.
Setiap gulungan film yang rusak bukan hanya berarti hilangnya sebuah karya sinema, tetapi juga lenyapnya dokumen sejarah yang merekam wajah Indonesia pada zamannya.
Di tengah ancaman tersebut, digitalisasi menjadi solusi paling realistis untuk mempertahankan warisan film nasional. Proses ini memungkinkan isi film dipindahkan dari media seluloid ke format digital sehingga tetap dapat diakses dan diputar menggunakan teknologi modern.
Konsultan restorasi film, Lisabona Rahman, menegaskan bahwa digitalisasi kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan yang tidak dapat ditunda.
"Dulu film diproduksi dengan bahan baku pita seluloid. Sedangkan zaman sekarang, tidak ada atau jarang sekali bioskop yang masih bisa memutar film seluloid. Maka film-film lama harus dipindah mediumnya ke dalam bentuk digital," jelas Lisabona dalam wawancaranya dengan Elle Indonesia.
Digitalisasi juga menjadi cara untuk memastikan generasi muda tetap dapat menikmati film-film klasik Indonesia tanpa bergantung pada kondisi fisik pita seluloid yang terus mengalami penurunan kualitas.
Meski menjadi solusi utama, digitalisasi dan restorasi bukan pekerjaan sederhana. Setiap film harus melalui tahapan panjang, mulai dari pemeriksaan kondisi fisik, pembersihan, perbaikan kerusakan gambar, pemindaian beresolusi tinggi, hingga pemulihan warna dan suara.
Dalam banyak kasus, proses tersebut membutuhkan keahlian khusus yang jumlahnya masih sangat terbatas di Indonesia.
Berdasarkan dokumen penelitian yang dipublikasikan melalui ETD Universitas Gadjah Mada, tantangan terbesar preservasi film nasional meliputi keterbatasan pendanaan, minimnya sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidang konservasi film, serta masih rendahnya apresiasi masyarakat maupun pemangku kebijakan terhadap pentingnya pelestarian arsip audiovisual.
Bahkan, biaya restorasi satu judul film dapat mencapai miliaran rupiah, terutama apabila melibatkan laboratorium dan tenaga ahli dari luar negeri.
Arsip film bukan sekadar kumpulan karya lama yang disimpan di gudang. Di dalamnya tersimpan rekaman kehidupan masyarakat, perkembangan budaya, bahasa, arsitektur, hingga berbagai peristiwa penting yang menjadi bagian dari identitas bangsa.
Karena itu, upaya penyelamatan arsip film tidak hanya menjadi tanggung jawab Sinematek Indonesia atau komunitas perfilman. Dukungan pemerintah, pelaku industri, lembaga pendidikan, hingga masyarakat diperlukan agar proses digitalisasi dan restorasi dapat berjalan secara berkelanjutan.
Masyarakat juga dapat berkontribusi dengan meningkatkan kepedulian terhadap pentingnya pelestarian film, mengikuti pemutaran film hasil restorasi, serta mendukung berbagai program preservasi yang digelar lembaga maupun komunitas perfilman.
Keberhasilan film-film baru memecahkan rekor penonton memang layak diapresiasi. Namun, di saat yang sama, Indonesia tidak boleh melupakan warisan sinema yang menjadi fondasi perjalanan perfilman nasional. Tanpa dukungan yang memadai, ribuan arsip film analog berisiko hilang bersama memori visual bangsa yang tidak akan pernah bisa diciptakan kembali. Menyelamatkan arsip film bukan sekadar menjaga karya seni, melainkan merawat sejarah dan identitas Indonesia agar tetap hidup bagi generasi yang akan datang.
Editor : Lugas Rumpakaadi