Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Edward Norton Ungkap Fight Club Pernah Dicemooh Penonton, Kini Jadi Film Kultus Dunia

Khanza Tania Amelia Setiawan • Selasa, 7 Juli 2026 | 18:31 WIB
Potret ikonik Edward Norton dan Brad Pitt dalam film Fight Club. (IMDb)
Potret ikonik Edward Norton dan Brad Pitt dalam film Fight Club. (IMDb)

RADARBANYUWANGI.ID - Sulit dipercaya, salah satu film paling berpengaruh dalam sejarah perfilman modern ternyata pernah mendapat penolakan dari penonton. Saat diputar perdana pada 1999, Fight Club bahkan disoraki dan sebagian penonton memilih keluar dari ruang bioskop sebelum film berakhir.

Kisah tersebut diungkapkan aktor Edward Norton saat menjadi bintang tamu dalam podcast Fly on the Wall bersama David Spade dan Dana Carvey pada Kamis (25/6/2026). Dalam perbincangan itu, Norton mengenang perjalanan awal film yang kini justru dianggap sebagai salah satu karya kultus paling berpengaruh di dunia.

Fight Club merupakan film garapan sutradara David Fincher yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Chuck Palahniuk. Film tersebut dibintangi Edward Norton, Brad Pitt, serta Helena Bonham Carter.

Meski kini memiliki reputasi tinggi, Norton mengungkapkan bahwa respons awal publik sangat jauh dari harapan.

"Film itu dicemooh. Di Festival Film Venesia, film itu disoraki dan penonton bahkan ada yang sampai keluar dari bioskop," kenang Norton.

Pada masa perilisannya, Fight Club memang memicu kontroversi. Tema tentang krisis identitas, kritik terhadap budaya konsumerisme, hingga adegan kekerasan membuat film tersebut dinilai terlalu berani dan tidak mudah diterima oleh semua kalangan penonton.

Di tengah respons negatif itu, Brad Pitt justru menanggapinya dengan santai. Norton menceritakan bahwa lawan mainnya tersebut melontarkan candaan yang hingga kini masih diingatnya.

"Brad menoleh ke arah saya dan berkata, 'Itu adalah pemutaran perdana terbaik yang pernah ada!' Kami berdua justru tertawa karena kami tahu film ini memang dibuat untuk mendobrak batasan, meskipun saat itu responsnya sangat mengejutkan," ujar Norton.

Menurut Norton, mereka menyadari sejak awal bahwa Fight Club bukanlah film yang dibuat untuk menyenangkan semua orang. David Fincher menghadirkan pendekatan yang berbeda dari kebanyakan film Hollywood saat itu, sehingga memunculkan beragam reaksi dari penonton.

Seiring berjalannya waktu, penilaian publik terhadap Fight Club perlahan berubah. Titik baliknya terjadi ketika film tersebut dirilis dalam format DVD. Melalui rekomendasi dari mulut ke mulut, semakin banyak penonton yang mulai mengapresiasi cerita, penyutradaraan, hingga pesan sosial yang diangkat film tersebut.

Popularitasnya terus meningkat selama bertahun-tahun. Fight Club akhirnya berkembang menjadi film kultus yang banyak dibahas dalam dunia perfilman dan budaya populer. Hingga kini, film tersebut masih kerap masuk dalam berbagai daftar film terbaik sepanjang masa serta menjadi bahan diskusi mengenai kritik sosial, identitas, dan budaya modern.

Kisah yang dibagikan Edward Norton menjadi pengingat bahwa tidak semua karya besar langsung mendapat apresiasi ketika pertama kali diperkenalkan. Sebagian justru membutuhkan waktu agar pesannya benar-benar dipahami oleh publik. Perjalanan Fight Club dari film yang sempat dicemooh menjadi salah satu karya paling berpengaruh membuktikan bahwa sebuah visi kreatif yang kuat pada akhirnya dapat menemukan penikmatnya sendiri.

Pernyataan Edward Norton tersebut disampaikan dalam podcast Fly on the Wall bersama David Spade dan Dana Carvey yang tayang pada 25 Juni, saat ia mengenang perjalanan panjang salah satu film paling ikonik dalam kariernya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Edward Norton #Fight Club #David Fincher #brad pitt