RADARBANYUWANGI.ID - Sutradara Joko Anwar kembali mencatatkan prestasi di industri perfilman internasional. Film horor komedi satir terbarunya, Ghost in the Cell, bahkan telah lebih dulu menarik perhatian pasar global setelah hak distribusinya dibeli oleh 86 negara sebelum resmi tayang di Indonesia.
Capaian tersebut semakin mengukuhkan posisi Joko Anwar sebagai salah satu sineas paling berpengaruh di Indonesia. Selama hampir dua dekade berkarya, ia dikenal mampu menghadirkan film horor yang tidak hanya mengandalkan adegan mengejutkan, tetapi juga menawarkan cerita yang kuat, atmosfer mencekam, serta kritik sosial yang relevan.
Perjalanan karier Joko Anwar terbilang unik. Pria kelahiran Medan itu merupakan lulusan Teknik Penerbangan Institut Teknologi Bandung (ITB). Sebelum menjadi sutradara, ia lebih dulu dikenal sebagai jurnalis dan kritikus film.
Kemampuannya dalam menulis skenario mulai mendapat perhatian ketika ikut menggarap film Arisan! pada 2003. Film tersebut sukses secara komersial sekaligus membuka jalan bagi Joko untuk terjun lebih jauh ke industri perfilman.
Pada 2005, ia menjalani debut sebagai sutradara melalui film Janji Joni. Dua tahun kemudian, Joko kembali menunjukkan keberaniannya bereksperimen lewat film misteri Kala yang dikenal sebagai salah satu pelopor film noir di Indonesia.
Sejak saat itu, gaya penyutradaraannya semakin mudah dikenali. Ia kerap menggabungkan unsur misteri, drama psikologis, kritik sosial, dan sinematografi yang detail sehingga menghasilkan pengalaman menonton yang berbeda dibandingkan film horor pada umumnya.
Nama Joko Anwar semakin melambung ketika memilih fokus menggarap film horor. Melalui Pengabdi Setan pada 2017 dan sekuelnya pada 2022, ia berhasil menghadirkan standar baru dalam perfilman horor nasional.
Alih-alih mengandalkan kemunculan hantu secara tiba-tiba, Joko membangun ketegangan melalui pencahayaan, tata suara, komposisi gambar, hingga ritme penceritaan yang perlahan mengintensifkan rasa takut penonton.
Keberhasilan tersebut berbuah apresiasi luas. Pengabdi Setan dan Pengabdi Setan 2: Communion menjadi dua film horor Indonesia dengan penilaian tinggi di situs pemeringkatan film internasional serta mendapat sambutan positif dari penonton dalam dan luar negeri.
Kesuksesan itu sekaligus menunjukkan bahwa film horor Indonesia mampu bersaing dari sisi kualitas produksi maupun penyajian cerita.
Ciri khas karya Joko Anwar terletak pada kemampuannya membangun rasa tidak nyaman yang bertahan lama setelah film selesai diputar. Teka-teki yang disusun sejak awal cerita biasanya baru terjawab menjelang akhir, menghadirkan plot twist yang sulit ditebak.
Pengalaman tersebut juga dirasakan oleh Dhea (18), seorang pelajar sekaligus penggemar film horor.
"Horornya Jokan tuh beda banget, gak cuma modal hantu kaget yang tiba-tiba muncul di layar. Tapi suasana ceritanya itu lho yang bikin merinding terus-terusan dan sering kebayang sampai rumah. Ditambah lagi teka-teki ceritanya selalu punya plot twist yang bikin kita terpaksa mikir keras," ujarnya, Senin (6/7/2026).
Pendapat tersebut menggambarkan alasan mengapa karya-karya Joko Anwar memiliki basis penggemar yang kuat, terutama di kalangan penonton muda yang menyukai cerita horor dengan pendekatan psikologis.
Pengakuan terhadap karya Joko Anwar tidak hanya datang dari penonton Indonesia. Film Perempuan Tanah Jahanam (Impetigore) berhasil tampil dalam Sundance Film Festival pada 2020, sebuah pencapaian yang semakin memperluas perhatian dunia terhadap perfilman di Indonesia.
Editor : Lugas Rumpakaadi