Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Saat Daerah Lain Tolak Pesta Babi, Nobar Film Papua di Blora Justru Berjalan Lancar dan Penuh Diskusi Emosional

Ali Sodiqin • Rabu, 13 Mei 2026 | 21:00 WIB
KONDUSIF: Acara nonton bareng film dokumenter ‘’Pesta Babi’’ di Blora diikuti pelajar, guru, aktivis, hingga mahasiswa asal Papua. (RAHUL OSCARRA DUTA/RDR.BJN)
KONDUSIF: Acara nonton bareng film dokumenter ‘’Pesta Babi’’ di Blora diikuti pelajar, guru, aktivis, hingga mahasiswa asal Papua. (RAHUL OSCARRA DUTA/RDR.BJN)

RADARBANYUWANGI.ID – Di saat pemutaran film dokumenter Pesta Babi menuai penolakan dan pembubaran di sejumlah daerah, suasana berbeda justru terlihat di Omah Talang Bocor Kridosono. Nonton bareng (nobar) dan diskusi film karya Dandhy Laksono bersama Cypri Paju Dale itu berlangsung lancar dan penuh dialog terbuka.

Kegiatan yang digelar akhir pekan lalu tersebut diikuti berbagai kalangan, mulai pelajar, guru, aktivis, hingga mahasiswa asal Papua yang sedang menempuh pendidikan di Blora.

Tak sekadar menonton, forum diskusi usai pemutaran film berubah menjadi ruang curahan pengalaman emosional para mahasiswa Papua tentang kondisi kampung halaman mereka.

Sedikitnya lima mahasiswa Papua hadir dalam kegiatan tersebut. Di antaranya James, Melanesia, dan Chris. Mereka secara terbuka membagikan cerita mengenai dampak kerusakan lingkungan dan perubahan kehidupan masyarakat Papua yang mereka rasakan secara langsung.

Mahasiswa Papua Sebut Isi Film Sesuai Kondisi Nyata

James, mahasiswa asal Timika, menilai dokumenter Pesta Babi menggambarkan kondisi yang benar-benar terjadi di Papua, terutama terkait kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan.

“Film ini sangat menceritakan tentang Papua yang benar-benar terjadi di Papua,” ujarnya.

Ia mengaku tinggal di wilayah dekat area konsesi Freeport Indonesia. Menurutnya, aktivitas pertambangan berdampak terhadap kehidupan masyarakat sekitar, terutama sektor pertanian dan kondisi alam.

“Kita untuk bertani susah. Karena limbah yang turun dari Freeport merusak alam kita,” katanya.

Pernyataan tersebut membuat suasana diskusi berlangsung emosional. Sejumlah peserta terlihat serius mendengarkan pengalaman langsung mahasiswa Papua yang selama ini jarang terdengar di ruang publik.

“Kami Hidup dari Alam, Sekarang Hutan Digusur”

Mahasiswa lainnya, Melanesia, mengatakan masyarakat Papua sangat bergantung pada alam untuk bertahan hidup. Namun kondisi itu disebut semakin berubah sejak banyak perusahaan masuk ke wilayah mereka.

“Kita hidup dengan alam. Tetapi dengan masuknya perusahaan asing, menggusur hutan, kita bingung cari makan di mana,” tuturnya.

Menurutnya, hutan bukan hanya sumber pangan, tetapi juga bagian dari identitas dan kehidupan masyarakat adat Papua.

Dalam dokumenter Pesta Babi sendiri, isu hilangnya hutan adat dan ruang hidup masyarakat menjadi salah satu sorotan utama.

Film tersebut memperlihatkan bagaimana ekspansi industri, proyek strategis nasional, dan pembukaan lahan skala besar disebut berdampak terhadap lingkungan serta kehidupan masyarakat lokal.

Air Laut Disebut Berubah dan Keruh

Sementara itu, mahasiswa Papua lainnya, Chris, menyoroti dampak kerusakan lingkungan terhadap kawasan pesisir di daerah asalnya.

Ia mengaku kualitas air laut di wilayah tempat tinggalnya mengalami perubahan signifikan.

“Di tempat saya, dampaknya ke kualitas air. Seperti di pantai kami, airnya sudah bukan air pantai umumnya. Butek,” ungkapnya.

Chris menduga perubahan kondisi tersebut dipicu limbah yang terbawa arus sungai hingga aktivitas penggundulan hutan dan pertambangan yang semakin masif menggunakan alat berat.

Cerita para mahasiswa Papua itu menjadi bagian paling menyentuh dalam diskusi usai pemutaran film.

Nobar Jadi Ruang Dialog dan Solidaritas

Berbeda dengan sejumlah daerah lain yang sempat membubarkan nobar Pesta Babi karena dianggap sensitif, kegiatan di Blora justru berlangsung aman dan terbuka.

Forum diskusi digunakan peserta untuk saling bertukar pandangan mengenai lingkungan, pembangunan, masyarakat adat, hingga kondisi Papua saat ini.

Sejumlah peserta menilai film dokumenter tersebut bukan sekadar tontonan, tetapi juga ruang refleksi tentang hubungan manusia dengan alam dan dampak pembangunan terhadap masyarakat lokal.

Kegiatan nobar juga menjadi ajang solidaritas terhadap masyarakat Papua. Sebagian peserta bahkan menyatakan dukungan agar persoalan lingkungan dan hak masyarakat adat mendapat perhatian lebih luas.

Kontroversi yang menyelimuti film Pesta Babi justru membuat diskusi publik mengenai Papua semakin meluas di berbagai daerah.

Di Blora, film itu bukan dipandang sebagai ancaman, melainkan media pembelajaran sosial yang membuka ruang empati dan keberanian mendengar suara masyarakat yang selama ini jarang mendapat sorotan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Dandhy Laksono #Pesta Babi #nobar Blora #mahasiswa Papua #kerusakan lingkungan Papua