Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Saat Nobar Pesta Babi Dibubarkan di Sejumlah Daerah, Siswa SMAN 1 Barabai Justru Diskusi Kritis soal Papua dan Lingkungan

Ali Sodiqin • Rabu, 13 Mei 2026 | 13:30 WIB
NOBAR: Aksi pelajar di HST nonton bareng film dokumenter Pesta Babi. (Radar Banjarmasin)
NOBAR: Aksi pelajar di HST nonton bareng film dokumenter Pesta Babi. (Radar Banjarmasin)

RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah kontroversi dan pembubaran nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi di sejumlah daerah, siswa-siswi SMAN 1 Barabai justru memilih pendekatan berbeda.

Alih-alih menghindari isu sensitif yang diangkat film tersebut, para pelajar yang tergabung dalam ekstrakurikuler jurnalistik sekolah menggelar nobar bersama guru dan siswa lainnya. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi terbuka mengenai pesan sosial, lingkungan, dan kemanusiaan yang mereka tangkap dari film itu.

Di tengah ramainya polemik soal kebebasan berekspresi dan pembubaran pemutaran film dokumenter di beberapa kota, langkah siswa SMAN 1 Barabai ini justru mendapat perhatian karena dianggap menghadirkan ruang dialog yang edukatif dan kritis.

Digelar Saat Hari Pendidikan Nasional

Pembina Ekstrakurikuler Jurnalistik SMAN 1 Barabai, Ahmad Fahruzi mengatakan kegiatan nobar telah dilaksanakan pada 2 Mei 2026, bertepatan dengan momentum Hari Pendidikan Nasional.

Menurutnya, film karya Dandhy Laksono bersama Cypri Paju Dale itu dapat menjadi media pembelajaran untuk melatih kepekaan sosial dan kemampuan berpikir kritis siswa.

“Film ini sangat baik ditonton untuk mengasah kepekaan dan argumentasi siswa terhadap realitas sosial yang sering kali tersembunyi di balik layar,” ujarnya, Selasa (12/5/2026).

Fahruzi menilai pendidikan tidak cukup hanya berlangsung di ruang kelas dan buku pelajaran. Menurutnya, siswa juga perlu dikenalkan pada realitas sosial yang terjadi di masyarakat agar memiliki empati dan kemampuan menganalisis persoalan secara lebih luas.

Siswa Diajak Memahami Isu Lingkungan dan HAM

Tak hanya membahas Papua, siswa juga diajak memahami isu lingkungan, literasi media, serta mengaitkan persoalan dalam film dengan kondisi sosial dan lingkungan di Kalimantan Selatan.

Usai pemutaran film, para siswa diberi ruang untuk menyampaikan pendapat dan mendiskusikan isi dokumenter secara terbuka.

Menurut Fahruzi, metode diskusi seperti itu penting untuk membiasakan siswa menerima perbedaan pandangan dengan sikap santun dan argumentasi yang logis.

“Akhirnya siswa terbiasa berdiskusi dan menerima perbedaan setiap isi kepala orang, berlatih membedah pesan, dan menyusun argumen yang logis namun tetap santun,” katanya.

Ia menambahkan, melalui film tersebut siswa juga belajar mengenai etika lingkungan dan hubungan manusia dengan alam serta tradisi yang perlu dijaga.

Siswa Mengaku Tersentuh Melihat Kondisi Papua

Salah seorang siswi kelas X, Keyra Aurelya Ardiansyah mengaku film itu membuka wawasan baru mengenai kondisi masyarakat Papua yang selama ini jarang diketahui publik.

“Dalam film itu masyarakat Papua kehilangan banyak hak mereka. Mereka kehilangan akses pendidikan, kehidupan, dan juga alam,” ujarnya.

Menurut Keyra, dokumenter tersebut membuat dirinya memahami bahwa persoalan Hak Asasi Manusia (HAM) bukan hanya berkaitan dengan konflik atau politik, tetapi juga menyangkut lingkungan hidup dan ruang hidup masyarakat.

Sementara itu, siswi lainnya, Risty Myiesha Humaira mengaku terkejut melihat kondisi yang digambarkan dalam film tersebut.

Ia menilai pembangunan seharusnya tetap memperhatikan kepentingan masyarakat lokal dan keberlanjutan lingkungan.

“Banyak warga mengungsi, krisis air, serta pengurangan lahan tertutup dikarenakan ada proyek bio etanol. Dari sini kita belajar bahwa membuat kebijakan harus berpihak pada masyarakat setempat,” katanya.

Nobar Berjalan Aman Tanpa Tekanan

Fahruzi memastikan hingga saat ini kegiatan nobar di lingkungan sekolah tidak menimbulkan intimidasi maupun tekanan terhadap pihak sekolah.

Hal tersebut berbeda dengan sejumlah kasus pembubaran nobar Pesta Babi di daerah lain yang sebelumnya ramai menjadi sorotan publik dan memicu perdebatan soal ruang demokrasi serta kebebasan berekspresi.

Di SMAN 1 Barabai, pemutaran film justru dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan karakter dan penguatan budaya diskusi di kalangan pelajar.

Langkah sekolah itu dinilai menjadi contoh bahwa film dokumenter tidak selalu harus dipandang sebagai ancaman, melainkan bisa menjadi medium pembelajaran untuk membangun kesadaran sosial, kepedulian lingkungan, dan kemampuan berpikir kritis generasi muda.

Terlebih di era media sosial saat ini, siswa dinilai perlu dibekali kemampuan menyaring informasi sekaligus memahami berbagai persoalan dari sudut pandang yang lebih luas. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Dandhy Laksono #Pesta Babi #SMAN 1 Barabai #nobar film Papua #siswa diskusi kritis