Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Film Pesta Babi Viral Setelah Nobar Dibubarkan, Ini Isi Dokumenter Papua yang Jadi Sorotan

Ali Sodiqin • Selasa, 12 Mei 2026 | 15:38 WIB
Viral Film Pesta Babi Usai Nobar Dibubarkan, Dokumenter Papua Ini Picu Debat Nasional soal Kebebasan Akademik. (Thumbnail PESTA BABI Official Trailer @Indonesia Baru)
Viral Film Pesta Babi Usai Nobar Dibubarkan, Dokumenter Papua Ini Picu Debat Nasional soal Kebebasan Akademik. (Thumbnail PESTA BABI Official Trailer @Indonesia Baru)

RADARBANYUWANGI.ID – Film dokumenter Pesta Babi mendadak menjadi sorotan nasional setelah sejumlah agenda nonton bareng (nobar) di kampus dibubarkan. Dokumenter karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale itu kini ramai diperbincangkan di media sosial karena mengangkat isu sensitif tentang Papua, proyek strategis nasional (PSN), hingga kebebasan akademik di lingkungan kampus.

Kontroversi bermula setelah pemutaran film di sejumlah perguruan tinggi dihentikan dengan alasan menjaga kondusivitas. Namun langkah tersebut justru memicu kritik luas dari mahasiswa, aktivis, hingga pegiat demokrasi yang menilai kampus seharusnya menjadi ruang terbuka untuk diskusi ilmiah.

Tak sedikit publik yang kemudian bertanya: sebenarnya apa isi Film Pesta Babi hingga dianggap kontroversial?

Dokumenter Investigatif tentang Papua Selatan

Pesta Babi bukan film hiburan biasa. Dokumenter ini mengangkat kehidupan masyarakat adat Papua Selatan yang menghadapi perubahan besar akibat proyek pembangunan berskala nasional.

Film berfokus pada wilayah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi di Papua Selatan. Lewat pendekatan investigatif, penonton diajak melihat dampak pembukaan hutan, ekspansi industri, serta proyek pangan dan bioenergi terhadap masyarakat adat.

Bukan hanya soal lingkungan, dokumenter ini juga menyoroti ancaman terhadap budaya, identitas, dan ruang hidup masyarakat lokal.

Film memperlihatkan bagaimana masyarakat adat mulai kehilangan akses terhadap hutan yang selama ini menjadi sumber pangan, tradisi, hingga kehidupan spiritual mereka.

Makna “Pesta Babi” yang Sarat Simbol Budaya

Judul Pesta Babi ternyata memiliki makna budaya yang dalam bagi masyarakat Papua.

Nama tersebut diambil dari tradisi masyarakat Muyu bernama Awon Atatbon, ritual adat besar yang menjadikan babi sebagai simbol penting dalam relasi sosial dan budaya masyarakat adat Papua.

Dalam tradisi setempat, babi bukan sekadar hewan ternak, melainkan bagian dari kehormatan keluarga, hubungan sosial, hingga penghormatan terhadap leluhur.

Karena ritual tersebut sangat bergantung pada keberadaan hutan, istilah “Pesta Babi” dipakai sebagai metafora atas ancaman hilangnya budaya akibat kerusakan alam dan ekspansi pembangunan.

Makna simbolis itulah yang membuat dokumenter ini terasa emosional sekaligus kuat secara visual.

Angkat Kritik terhadap Proyek Strategis Nasional

Kontroversi mulai muncul karena film secara terbuka mengkritik proyek strategis nasional yang berlangsung di Papua Selatan.

Dokumenter menampilkan keresahan masyarakat adat terhadap pembukaan lahan dalam skala besar yang dinilai mengubah pola hidup warga lokal.

Beberapa isu utama yang diangkat dalam film antara lain:

Di sejumlah bagian, film juga menyinggung isu kolonialisme modern dan eksploitasi sumber daya alam Papua.

Narasi tersebut kemudian dianggap sensitif karena berkaitan dengan sejarah panjang Papua dan kebijakan pembangunan pemerintah.

Pembubaran Nobar Picu Polemik Nasional

Perdebatan makin panas setelah sejumlah agenda nobar film di kampus dihentikan.

Kasus paling ramai terjadi di Universitas Mataram pada 7 Mei 2026.

Pemutaran film dihentikan oleh pihak kampus dengan alasan menjaga situasi tetap kondusif dan mencegah potensi konflik.

Dalam keterangannya, Wakil Rektor III Unram Sujita menyebut keputusan tersebut dilakukan atas instruksi Rektor Unram Sukardi.

Namun keputusan itu langsung menuai kritik dari mahasiswa dan aktivis kebebasan berekspresi.

Banyak pihak mempertanyakan apakah diskusi film dokumenter harus dihentikan hanya karena mengangkat isu sensitif.

Selain Unram, laporan penghentian pemutaran film juga muncul di:

Viral di Media Sosial, Debat soal Kebebasan Akademik Menguat

Kasus pembubaran nobar membuat nama Pesta Babi viral di berbagai platform media sosial.

Tagar terkait film ini ramai diperbincangkan karena dianggap menyentuh isu yang lebih luas: kebebasan akademik dan ruang diskusi di perguruan tinggi.

Banyak kalangan menilai kampus semestinya menjadi ruang terbuka bagi pertukaran gagasan, termasuk terhadap karya dokumenter yang membahas isu sosial dan lingkungan.

Di sisi lain, sebagian pihak menganggap isi film terlalu politis dan berpotensi memicu polemik publik.

Perdebatan tersebut akhirnya membuat Pesta Babi menjadi salah satu dokumenter Indonesia paling banyak dibicarakan sepanjang 2026.

Dokumenter yang Membuka Diskusi soal Papua

Terlepas dari pro dan kontra yang muncul, banyak penonton menilai film ini berhasil membuka ruang diskusi mengenai masa depan masyarakat adat Papua.

Dokumenter tersebut mengingatkan bahwa pembangunan tidak hanya berbicara soal investasi dan ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan budaya, identitas, lingkungan, dan hak masyarakat lokal.

Film juga memperlihatkan sisi Papua yang jarang muncul di media arus utama.

Karena itu, sebagian aktivis HAM dan pegiat lingkungan melihat Pesta Babi sebagai bentuk advokasi penting bagi masyarakat adat yang terdampak  pembangunan besar-besaran. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#film Pesta Babi #Dandhy Laksono #nobar dibubarkan #Papua Selatan #kebebasan akademik