Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Nobar Film Pesta Babi di Tenggarong Jadi Ruang Kritik Anak Muda, Papua Disebut Cermin Masa Depan Kalimantan

Ali Sodiqin • Sabtu, 9 Mei 2026 | 17:30 WIB
RUANG DIALEKTIKA: Suasana nonton bareng film
RUANG DIALEKTIKA: Suasana nonton bareng film 'Pesta Babi' di Kedai Rogos Tenggarong yang dipadati pemuda dan aktivis lokal. (Kaltim Post)

RADARBANYUWANGI.ID – Sebuah kedai kopi sederhana di Tenggarong, Kutai Kartanegara, mendadak berubah menjadi ruang diskusi kritis pada Sabtu malam (2/5). Layar tancap yang memutar film dokumenter Pesta Babi bukan sekadar menghadirkan tontonan, tetapi juga memantik kegelisahan tentang eksploitasi sumber daya alam, proyek strategis nasional, hingga ancaman perampasan ruang hidup di Kalimantan.

Film karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale itu diputar dalam agenda nonton bareng (nobar) yang digagas Komunitas Pelem Indie Tenggarong atau KOPI Tenggarong.

Di tengah hangatnya perbincangan publik soal Papua dan proyek pangan raksasa pemerintah, nobar tersebut menjelma menjadi forum refleksi anak muda Kalimantan terhadap masa depan daerah mereka sendiri.

Film Pesta Babi Bongkar Proyek Raksasa di Papua

Film dokumenter Pesta Babi berdurasi 90 menit itu mengangkat perjuangan masyarakat adat di selatan Papua dalam mempertahankan tanah leluhur mereka.

Lewat pendekatan investigatif, film tersebut membedah proyek besar berkedok ketahanan pangan dan transisi energi yang disebut mengancam jutaan hektare hutan Papua.

Subjudul film yang berbunyi “kolonialisme di zaman kita” menjadi penegasan kritik terhadap pola pembangunan yang dinilai sarat relasi kuasa antara negara, korporasi, dan eksploitasi sumber daya alam.

Nama Dandhy Laksono sendiri bukan sosok baru dalam dunia film dokumenter kritis Indonesia.

Melalui rumah produksi Watchdoc, ia sebelumnya dikenal lewat film Sexy Killers dan Dirty Vote yang sempat memicu perdebatan nasional.

Nobar Jadi Ruang Diskusi Krisis Ekologi

Di Tenggarong, nobar berlangsung di sebuah kedai kopi bernama Rogos. Hadir dalam forum itu sineas lokal, mahasiswa, pemuda, hingga jurnalis.

Usai pemutaran film, diskusi langsung menghangat.

Isu krisis ekologis, kemanusiaan, proyek strategis nasional (PSN), hingga ekspansi agribisnis menjadi topik utama yang diperdebatkan peserta.

Dilansir dari Kaltim Post, Founder Komunitas Pelem Indie Tenggarong, Faruq Wijaya, mengatakan nobar tersebut lahir dari kegelisahan bersama untuk membangun ruang diskusi yang lebih hidup di Tenggarong.

“Kami ingin membangun kembali ekosistem film di Tenggarong. Dari forum-forum sebelumnya muncul kegelisahan bahwa kita perlu lebih banyak ruang diskusi agar ekosistem kreatif bisa berkembang,” ujarnya.

Papua Disebut Relevan dengan Kondisi Kalimantan

Menurut Faruq Wijaya, isu yang diangkat dalam film Pesta Babi tidak hanya relevan bagi Papua.

Kalimantan, khususnya Kutai Kartanegara dan Kalimantan Timur, dinilai menghadapi tantangan serupa terkait eksploitasi sumber daya dan proyek pembangunan berskala besar.

“Film ini tidak hanya berhenti pada tontonan, tetapi memunculkan gagasan dan isu yang bisa direfleksikan. Meski mengangkat konteks Papua, apa yang disampaikan juga relevan untuk kita di Kutai Kartanegara dan Kalimantan Timur,” katanya.

Ia menyebut Papua bisa menjadi cermin agar persoalan serupa tidak terulang di daerah lain.

Anak Muda Diajak Bangun Nalar Kritis

Bagi komunitas film independen di Tenggarong, nobar dokumenter bukan sekadar hiburan alternatif.

Forum semacam itu dianggap penting untuk membangun nalar kritis generasi muda terhadap kebijakan pembangunan dan relasi pusat-daerah.

“Perlu ada ruang berpikir dan berdialog. Sehingga kebijakan bisa lebih sesuai dengan kondisi di daerah,” ujar Faruq Wijaya.

Ia menilai film dokumenter dapat menjadi medium refleksi sosial yang kuat, terutama di tengah derasnya arus informasi digital dan polarisasi publik.

“Film ini sangat layak ditonton karena mampu membuka wawasan dan cara pandang. Isu yang diangkat memang tentang Papua, tetapi juga menyentuh konteks daerah lain seperti Kalimantan, sehingga bisa menjadi bahan refleksi bersama,” tutupnya.

Film Dokumenter Mulai Jadi Medium Perlawanan Sipil

Fenomena pemutaran film Pesta Babi di berbagai daerah belakangan menunjukkan meningkatnya minat publik terhadap ruang diskusi alternatif.

Banyak komunitas masyarakat sipil memanfaatkan film dokumenter sebagai medium untuk membicarakan isu lingkungan, konflik agraria, hak masyarakat adat, hingga kritik terhadap proyek pembangunan nasional.

Di Kalimantan Timur yang kini menjadi pusat perhatian nasional karena pembangunan IKN dan ekspansi industri ekstraktif, diskusi seperti ini dinilai semakin relevan bagi generasi muda. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#film Pesta Babi #nobar Pesta Babi Tenggarong #Dandhy Laksono #Papua dan Kalimantan #KOPI Tenggarong