RADARBANYUWANGI.ID – Polemik pembubaran kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi di lingkungan Universitas Mataram terus menjadi sorotan publik. Setelah menuai kritik dan perdebatan di media sosial, pihak kampus akhirnya buka suara dan memberikan klarifikasi resmi terkait insiden yang terjadi pada Kamis malam (7/5).
Pihak kampus menegaskan pembubaran nobar film dokumenter tersebut bukan bentuk pembungkaman kebebasan berekspresi mahasiswa, melainkan langkah antisipasi demi menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan kampus.
Klarifikasi itu disampaikan langsung Kepala Humas dan Protokol Universitas Mataram, Khairul Umam.
Unram Sebut Penyelenggara Tidak Berikan Informasi Lengkap
Menurut Khairul Umam, pihak penyelenggara nobar tidak menyampaikan informasi rinci terkait konsep kegiatan yang akan digelar.
Mulai dari jumlah peserta, format acara, hingga siapa saja pihak yang terlibat disebut tidak pernah dijelaskan secara detail kepada pihak kampus.
“Pembubaran karena alasan ketertiban dan bukan untuk membungkam berekspresi,” ujar Khairul, dikutip dari Lombok Post.
Ia menjelaskan, minimnya koordinasi membuat pihak kampus kesulitan melakukan pemetaan risiko dan pengamanan di lokasi kegiatan.
Situasi dinilai semakin rawan ketika jumlah peserta yang hadir terus bertambah, bahkan sebagian disebut berasal dari luar civitas akademika Unram.
Massa Nobar Membeludak, Kampus Ambil Langkah Antisipasi
Pihak kampus menyebut keputusan pembubaran dilakukan setelah kondisi di lapangan dianggap berpotensi menimbulkan gangguan keamanan.
Menurut Khairul, banyaknya massa yang hadir tanpa pengawasan jelas membuat pihak universitas mengambil langkah cepat demi menghindari situasi yang tidak diinginkan.
“Penyelenggara waktu itu tidak pernah memberikan informasi detail tentang rencana kegiatan. Termasuk jenis kegiatan dan berapa orang yang dilibatkan untuk antisipasi ketertiban dan keamanan,” katanya.
Ia menambahkan, keberadaan peserta dari luar kampus menjadi salah satu pertimbangan utama pembubaran nobar film dokumenter Pesta Babi.
“Pembubaran penonton dilakukan setelah jumlah massa yang berkumpul sangat banyak. Termasuk yang bukan mahasiswa Unram, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak kita inginkan,” terangnya.
Unram Bantah Larang Pemutaran Film Pesta Babi
Di tengah kritik yang berkembang, pihak kampus membantah tudingan bahwa Unram melarang pemutaran film dokumenter tersebut.
Sebagai bukti, pihak universitas menyebut pada waktu yang hampir bersamaan mahasiswa Fakultas Teknik Unram juga menggelar nobar film Pesta Babi tanpa mendapat larangan maupun teguran.
“Pada saat yang sama, mahasiswa Fakultas Teknik Unram juga melakukan nonton bareng film yang sama dan tidak ada teguran,” beber Khairul Umam.
Pernyataan itu sekaligus menjadi bantahan atas anggapan bahwa pihak kampus bersikap represif terhadap aktivitas diskusi atau ekspresi mahasiswa.
Jadi Sorotan Kebebasan Akademik di Kampus
Kasus pembubaran nobar film dokumenter ini memicu diskusi luas terkait batas kebebasan akademik dan kebebasan berekspresi di lingkungan perguruan tinggi.
Sejumlah mahasiswa dan aktivis kampus menilai ruang diskusi ilmiah dan kegiatan budaya seharusnya tetap mendapat perlindungan selama berlangsung tertib.
Namun di sisi lain, pihak kampus menekankan pentingnya koordinasi dan pemberitahuan resmi agar pengamanan kegiatan dapat dilakukan secara maksimal.
Polemik ini juga menjadi pengingat bahwa kegiatan yang melibatkan massa besar di lingkungan kampus memerlukan komunikasi yang lebih terbuka antara mahasiswa dan pihak universitas.
Kampus Minta Jadi Evaluasi Bersama
Khairul Umam berharap insiden tersebut menjadi bahan evaluasi bersama bagi seluruh elemen kampus.
Baik organisasi mahasiswa maupun pihak universitas diminta memperbaiki mekanisme koordinasi kegiatan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
“Semoga kejadian ini dapat menjadi bahan evaluasi buat kita semua, untuk perbaikan penyelenggaraan kegiatan di lingkungan Unram,” tutupnya. (*)
Editor : Ali Sodiqin