RADARBANYUWANGI.ID - Kesuksesan film Avatar: The Way of Water karya sutradara legendaris James Cameron kembali dibayangi persoalan hukum.
Film fiksi ilmiah yang menjadi salah satu box office terbesar sepanjang masa itu digugat atas dugaan pelanggaran hak cipta oleh seorang penulis dan animator 3D bernama Eric Ryder.
Dilansir dari Morningstar, Gugatan tersebut diajukan oleh firma hukum Kasowitz ke Pengadilan Distrik Amerika Serikat untuk Distrik Tengah California pada 15 Desember 2025.
Dalam gugatan itu, Ryder menuding Cameron bersama perusahaan produksinya Lightstorm Entertainment, serta Disney dan sejumlah studio besar Hollywood, telah menggunakan kekayaan intelektual miliknya secara tidak sah.
Ryder mengklaim bahwa alur cerita dan elemen utama dalam Avatar: The Way of Water diambil dari proyek film miliknya berjudul KRZ 2068, sebuah cerita fiksi ilmiah bertema lingkungan yang telah ia kembangkan sejak akhir 1990-an hingga awal 2000-an.
Klaim Kerja Sama yang Berujung Sengketa
Dalam dokumen gugatan, Ryder menyebut dirinya sempat menjalin kerja sama intensif dengan Lightstorm Entertainment selama hampir dua tahun.
Proyek KRZ 2068 kala itu dikembangkan sebagai film fiksi ilmiah berlatar masa depan, dengan dunia alien yang subur dan menakjubkan, makhluk antropomorfik, serta konflik utama berupa penjajahan dan perusakan lingkungan oleh korporasi berbasis Bumi.
Ryder menyatakan proyek tersebut bahkan secara spesifik dirancang untuk memanfaatkan teknologi efek visual dan animasi 3D guna memperkuat unsur cerita.
Perjanjian antara dirinya dan Lightstorm juga disebut mengatur bahwa setiap penggunaan materi KRZ 2068 harus disertai pembagian pendapatan komersial serta pencantuman kredit bagi Ryder sebagai penulis atau produser.
Namun, kerja sama itu mendadak dihentikan. Ryder mengklaim Lightstorm menyampaikan alasan bahwa film fiksi ilmiah bertema lingkungan tidak akan menarik minat pasar.
“Proyek itu dihentikan sepihak, dengan alasan tidak ada yang tertarik pada film bertema lingkungan,” tulis Ryder dalam gugatannya.
Baca Juga: Avatar: Fire and Ash, Ketika Ambisi Besar James Cameron Terasa Berputar di Tempat
Kemiripan dengan Dunia Avatar
Ryder menuding film Avatar, khususnya Avatar: The Way of Water, secara “luas dan substansial” menggunakan materi yang termasuk dalam perjanjian antara dirinya dan Lightstorm. Gugatan tersebut merinci berbagai kesamaan antara KRZ 2068 dan Avatar 2.
Salah satu poin utama adalah keberadaan protagonis yang dikirim ke sebuah bulan di planet jauh oleh perusahaan pertambangan dari Bumi—elemen yang menurut Ryder identik dengan cerita KRZ dan kini menjadi bagian sentral dalam semesta Avatar.
Ryder juga menyoroti alur cerita tentang pemanenan zat berbasis hewan yang, setelah dimurnikan, dapat memperpanjang umur manusia.
Menurutnya, elemen tersebut ada dalam KRZ 2068, tetapi tidak muncul dalam film Avatar pertama (2009).
“Penggunaannya sebagai perangkat plot mendasar merupakan inti dari pengambilalihan hak cipta oleh para tergugat,” tegas Ryder dalam dokumen gugatan.
Gugatan Lama, Gugatan Baru
Ini bukan kali pertama Eric Ryder menggugat James Cameron. Pada 2011, Ryder sempat melayangkan gugatan serupa terkait film Avatar pertama.
Namun, gugatan tersebut ditolak oleh pengadilan California, yang memutuskan bahwa Cameron telah menciptakan konsep Avatar sebelum Ryder menyerahkan ceritanya kepada Lightstorm.
Meski kalah dalam gugatan sebelumnya, Ryder mengklaim Cameron dan Lightstorm beberapa kali berupaya membeli hak kekayaan intelektual KRZ.
Setelah upaya tersebut gagal, Ryder menilai idenya tetap digunakan, kali ini secara lebih terang-terangan, dalam Avatar: The Way of Water.
Dalam gugatan terbaru, Ryder melampirkan tabel perbandingan berdampingan yang menunjukkan kemiripan ide, alur cerita, visual, dialog, hingga perangkat plot antara KRZ 2068 dan Avatar 2.
Tuntutan Fantastis hingga Rencana Sekuel
Ryder menuntut ganti rugi kompensasi lebih dari 500 juta dolar AS, atau setara sekitar Rp8 triliun dengan asumsi kurs Rp16.690 per dolar AS.
Selain itu, ia juga menuntut ganti rugi hukuman serta perintah pengadilan untuk menghentikan eksploitasi komersial Avatar: The Way of Water dan sekuel berikutnya.
Termasuk di antaranya adalah film Avatar: Fire and Ash, yang dijadwalkan rilis di Amerika Serikat pada 19 Desember 2025.
Pengacara Ryder, Daniel A. Saunders, menyampaikan pernyataan keras terkait gugatan tersebut.
“Dugaan penggelapan dan pencurian terang-terangan atas karya kreatif yang dilindungi milik Mr. Ryder untuk menciptakan film terlaris ketiga sepanjang masa ini sangat jelas dan sangat keterlaluan, serta menuntut adanya kompensasi,” ujarnya, dikutip Rabu (17/12/2025).
Ia menambahkan bahwa gugatan ini menyertakan perbandingan langsung yang menunjukkan bagaimana ide orisinal Ryder—termasuk yang sebelumnya ia tolak untuk dijual—memiliki kesamaan langsung dengan plot, latar, dan elemen desain The Way of Water.
Disney dan Lightstorm Masih Bungkam
Hingga berita ini ditulis, pihak Disney maupun Lightstorm Entertainment belum memberikan tanggapan resmi atas gugatan tersebut.
Kasus ini kembali membuka perdebatan panjang di industri perfilman Hollywood mengenai batas tipis antara inspirasi kreatif dan plagiarisme, khususnya dalam produksi film blockbuster berskala besar.
Di tengah antusiasme penonton menyambut kelanjutan saga Avatar, gugatan ini berpotensi menjadi bayangan besar bagi salah satu waralaba fiksi ilmiah paling sukses sepanjang sejarah perfilman dunia. (*)
Editor : Ali Sodiqin